Semalam di Singapore

@ Holland Road

Sabtu pagi, beres breakfast di The Explorer Hotel, kami langsung check out, naik taxi ke Melaka Sentral.  Cari tiket bus ke Singapore di beberapa counter.  Pilihan jatuh ke bus 707 Travel Group, karena pemberhentian terakhir di Queen St dekat Bugis Junction.  Tiket 27 MYR per orang, lumayan lama perjalanan ±4 jam termasuk proses imigrasi di Tuas Checkpoint.  Berangkat jam 10 waktu setempat, sampai Bugis itu jam 2 siang.

Penumpang yang tertahan akibat proses imigrasi, dapat ikut bus 707 selanjutnya, perjam selalu ada armada bus yang sama.  Jadi bus yang kami tumpangi  tidak menunggu lama di Tuas Checkpoint.  Kebetulan kami tidak ada kendala di imigrasi Tuas, jadi lanjut lagi dengan bus yang sama.

Aliwal Park Hotel sudah kami booking via booking dot com, dari Queen St geret-geret koper ke Arab St, nyebrang Victoria St, lanjut lagi North Bridge Rd, sampe deh ke hotel.

Booking di Aliwal pengalaman kedua kami, karena waktu perjalanan Haji Lane kami di Aliwal.  Kamarnya tidak besar, tapi juga lumayan untuk dapat bermalam di Singapore dengan budget yang tidak menguras kantong.  Maklum di Singapore yang mahal itu akomodasi penginapannya.

Check in beres, bergegas ke resto Zam Zam untuk lunch yang sudah kesorean.  Murtabak dan Nasi Briyani tidak terlewat untuk dipesan.  Sebenarnya punya niat kalau ke Singapore lagi harus ke Henderson Bridge, karena jembatannya punya desain yang kece badai.  Karena sudah sore dan badan mulai letih lelah dan lesu, diputuskan beres dari Zam Zam, kami lanjut ke Holland Road saja yang tidak jauh dari Holland Village MRT stasiun.

Holland Road, banyak cafe tempat kongko kaum milinial Singapore, bangku bangku cafe sebagian ada yang di outdoor, jadi pas banget buat tempat nongkrong gaul berangin anginan.  Kami hanya liat liat saja, untuk sekedar tau suasana area gaul di Holland Road.  Selain liat liat cafe, kami juga nonton Yoga masal yang diadakan diparkiran apartement dekat Holland rd.

Beres foto-foto depan Holland Piazza, karena sudah sore kami lanjutkan langkah kaki ke Gardens by the Bay, mau lihat kehebohan kelap kelip pohon pohon Avatar di malam minggu.  Naik MRT turun di Bayfront stasiun, jalan sesuai penunjuk arah, melalui lorong underpass yang penuh dengan cermin dan lukisan.  Di  pintu keluar sudah terlihat indahnya kelap kelip dari Gardens by the Bay.

Kami bergegas naik ke view point di pelataran Marina Bay Sand.  Sudah banyak wisatawan disana, menunggu atraksi Gardens by the bay Garden Rhapsody, diiringi alunan okestra yang menggugah, Supertree Groove mulai menyala.  Kelap kelip lampu mengikuti alunan musik yang wow sangat mempesona.  Wisatawan banyak terpana selama satu jam dipertunjukan show Garden Rhapsody yang dibuat secara detail dan apik tenan.  Setiap malam infonya selalu ada pertunjukan gratis ini mulai dari jam 7.45 PM hingga 8.45 PM.  Ayo jangan lewatkan bro.

Masuk ke MBS mall, sambil window shopping dan cari toilet.  Dikejutkan para pengunjung yang pada berlarian kearah pelataran luar.  Terdengar suara petasan di kejauhan.  Bergegas kami juga lihat keluar, ternyata ada pertunjukan kembang api yang spektakuler, mirip mirip suasana kembang api di tahun baru gitu deh.  Luar biasa kalau malam minggu Singapore all in menghibur para wisatawan yang datang.  Salut.

Beres lihat pesta kembang api di pelataran, dilanjut liat air terjun dan sungai  jadi jadian dalam mall,  Kami lanjutkan perjalanan ke Mustafa Centre by MRT, cari coklat untuk oleh oleh.  Dont worry Musatafa Centre buka 24 jam, pasar yang  tidak pernah tidur.

Sebelum cari coklat kami makan nasi bryani, campur kentang, ayam goreng depan Mustafa Centre.  Selain coklat kami juga cari koper, harga sangat bersaing dengan pilihan yang cukup bervariatif.   Beres belanja kami lanjut pulang ke hotel by MRT lagi, lumayan kaki melangkah di hari ini, cukup melelahkan.  😛

National Library Singapore

Aliwal Hotel tidak jauh dari Mesjid Sultan, minggu sholat subuh di Mesjid Sultan.  Shaf sholat  tidak banyak, hanya 2 shaf, imamnya masih muda dengan bacaan Al Quran yang tartil. Beres subuh jam 6 an, agak terkaget juga, biasa nya jam 5 kalau di Cilebut, jadi teringat lagi waktunya sejam lebih cepat kalau di Singapore.  Beres subuh lanjut tidur lagi di hotel, maklum tidak mau rugi karena mahal. Hehe.

Puas istirahat di hotel kami bergegas check out.  Lanjut titip tas di hotel.  Maklum pesawat masih lama.  Kami naik bus ke National Library Singapore di samping Bugis Juction Mall.  Masuk National Library ini gratis, perpustakaannya cukup menarik, karena komplit dan bisa buat orang betah membaca buku berlama lama disana.  Ada juga ruang khusus anak anak, yang mengedukasi anak untuk rajin baca dan belajar.  Recomanded banget untuk visit ke National Library Singapore, sudah gratis bisa tambah wawasan lagi, mulai dari sejarah Singapore hingga bangunan bangunan penting di Singapore.

Puas jelajah buku, perut terasa lapar, terpaksa kami nyeberang ke Bugis Juction mall.  Pilihan lunch jatuh ke Nandos, dengan lahap kami santap menu yang dipilih.  Maklum di Indonesia sudah tidak ada lagi Nandos.  Restonya ada wifi jadi lumayan bisa sedikit update dan upload.

Ashar di Mesjid Sultan, di jama dengan Dzuhur, maklum musafir.  Ambil tas di hotel lanjut ke Changi by MRT yang salah pilih, jalur MRT nya melambung.  Kami pilih jalur Downtown Line tujuan Expo, bukan Eastwest Line tujuan Tanah Merah.   Kalau Downtown Line dari Bugis Sta ke arah Changi agak melambung putar jauh, hampir 20 stasiun dilalui, jadi bikin ngantuk.  Sebaiknya pilih Eastwest Line aja bro cuma 8 stasiun sudah  sampe deh Tanah Merah, tinggal lanjut sedikit dengan MRT airport Changi.  So jadi ingat jangan salah pilih MRT, bisa ngantuk dibuatnya.  😛

Iklan
Categories: Travel Note | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Melaka

A Famosa

Kamis pagi (21/6/2018) terpana lihat Terminal Bersepadu Selatan (TBS), terminal bus dengan pelayanan sekelas bandara.  Mulai dari counter, wifi gratis, terminal keberangkatan dengan jadwal serba on time, parkiran bus jauh diluar terminal, tunggu giliran beroperasi, dan steril dari percaloan.  Kapan ya Kampung Rambutan bisa seperti ini?

Dari Kuala Lumpur ke Bandar Tasik Selatan naik KLIA Transit di KL Sentral lalu turun di stasiun Bandar Tasik Selatan, tiket 4,2 MYR/org.  Lanjut nyebrang di jembatan penyebrangan ke TBS.  Terminal terbesar, termegah dan termodern di negeri jiran.

Beli tiket Delima bus TBS – Melaka, 10 MYR/orang, busnya nyaman bagaikan bus  wisata.  Berangkat on time jam 11 sampai di Melaka Sentral ± jam 14.00 waktu setempat.  Di Melaka Sentral lunch di kedai Asam Pedas dengan menu khas masakan Melayu.

Smile

Malaka Sentral ke The Explorer Hotel Melaka, kami gunakan taxi dari counter, tarif standard per zonanya jadi tidak perlu khawatir.  Umumnya para supir taxi melayani tamu tamu yang akan berobat di Melaka.  Jadi kalau mau tau dimana rumah sakit yang bagus, silahkan tanya pa supir, pasti beliau tau.

Perjalanan ke hotel, lewat Kawasan Bangunan Merah Melaka, terlihat ramai turis berlalu lalang.  Hotel The Explorer berlokasi di tegah kota, tidak jauh Menara Taming Sari.  Menara wisata untuk melihat Melaka dari ketinggian.

Nuasa hijau terasa saat masuk The Explorer Hotel, ruang front office nya keceh habis, rada nyeni gitu deh, cost nya bersahabat dengan venue tengah kota, samping mall besar yang ada KFC nya. 😛

Check in beres, lanjut lihat benteng A Famosa, peninggalan Portugis, jejak bentengnya tinggal gerbang kecil yang disebut Porta de Santiago, namanya mirip mirip pemain bola asal Portugis ya. 😛

Seputar benteng banyak sepeda odong odong lalu lalang, lagunya dangdutan pula.  Jadi rame kaya suasana wisata Kota Tua Jakarta.  Kesan pertama dari Melaka, panas bingit bro, maklum daerah pesisir mirip Jakarta, dijamin sesi fotonya penuh keringat.

Melaka O Mile

Sebagai penggiat wisata jalan, dari A Famosa lanjut ke KM 0 Melaka, area Kawasan Bangunan Merah.  Numplek wisatan seluruh manca negara disini, kami satu satunya wisatawan dari daerah Cilebut, hehe. 😛

Mau foto di tengah bundaran jalan, dengan latar bangunan serba merah bata, di KM 0 Melaka ini tempatnya. Foto depan kincir air juga ada, mirip mirip di Belanda kw dua.

Kepalang cape, perjalanan kaki lanjut ke Jonker Street atau Jonker Walk atau Jalan Hang Jebat, suasana China Town nya kental terasa, banyak penjual aneka makanan dan pernak pernik.  Toko tokonya mirip toko toko tua di jl Suryakencana Bogor.

Jalan Hang Jebat

Jl Hang Jebat lokasi ciamik untuk berfoto, venue nya mirip di Hongkong.  Hehe emang nya ngirittraveler pernah ke Hongkong kah? So te u amir.  Dari ujung sampe ke ujung kami jalani, lumayan cape juga.  Sampe di ujung Jalan Hang Jebat, pertigaan jl Tokong, terasa kaki sudah tidak kuat lagi berjalan pulang ke Hotel, terpaksa panggil bantuan ke Grab Car, supaya bisa menuntaskan perjalanan pulang.  Selesai sudah perjalan di Melaka di hari Kamis, ditutup dengan dinner di KFC mal samping hotel.

Jonker Street

Jumat pagi (22/6/2018) bergegas kami ke Sungai Melaka, bukan untuk berenang di sungai ya, tapi mau naik Melaka River Cruise.  Ini ide bagus untuk ditiru wisata Jakarta dengan nama Ciliwung River Cruise.  Sungai Melaka tidak bening malah coklat butek tapi bersih dari sampah, tidak berbau, jadi bagus bagus saja buat wisata air.  Sungai Melaka ini membelah kota Melaka, jadi naik Melaka River Cruise kita bisa lihat sejarah dan kehidupan masyarakat Melaka dengan jelas.  Nggak percaya, silahkan cobaiin sendiri.

Banyak turis manca negara sudah antri, dengan tertib menunggu ke berangkatan dengan Melaka River Cruise.  Satu kapal muat lebih dari 20 wisatawan.  Kami gabung dengan para turis bule dan Tiongkok, jelas kalau turis dari Cilebut hanya kami saja, hehe. P

Melaka River Cruise

Sepanjang perjalanan di kapal dinyalakan suara rekamaan tentang sejarah Melaka, dengan penjelasan rinci sejarah setiap area yang dilalui kapal.  Ada cerita Kampung Jawa, cerita Kampung Morten, cerita café cafe pinggir sungai, cerita reboisasi pinggir sungai dsb.

Lumayan lama juga naik Melaka River Cruise, lebih kurang 45 menit, dengan panjang lintasan sungai 9km, harga tiket nya 23 MYR /orang.  Pengalaman wisata yang menarik serasa jadi turis mancanegara.  Selesai dari Melaka River Cruise, kami tutup dengan makan kelapa muda khas Thailand, kulit kelapanya dikupas habis, lucu dalam gelas plastik besar ditaruh daging putih kelapa yang terkupas bulat utuh tapi air kelapanya masih didalamnya, keren kan.  Agak susah jelasinnya, silahkan cari sendiri minum air kelapa dekat parkiran akhir Melaka River Cruise.

Kami jalan pulang lagi kearah hotel, sambil mampir ke pasar souvenir seberang kapal besar Museum Bahari.  Karena hari Jumat jadi yang cantik-cantik pada tunggu di hotel yang ganteng seperti saya berangkat ke Mesjid.  😛

Lumayan jauh juga jalan dari The Explorer Hotel ke Mesjid Kampung Hulu di jl Kampung Hulu Melaka, apalagi ditambah udara panas yang menyengat.  Tetapi karena kewajiban kaki tak gentar untuk terus berjalan kearah Mesjid, sempat nyasar nyasar sebentar, tapi Alhamdulillah banyak warga yang memberi petunjuk yang benar, sehingga dapat juga sholat Jumat di negeri tetangga.

Mesjid Kampung Hulu mirip rumah Joglo di Jawa, dominasi kayu, ada kolam besar didepan Mesjid untuk antisipasi air wudhu apabila pam mati.  Meriam kecil tua terpajang depan pintu masuk, menandakan sudah cukup berumur Mesjid ini.  Info dari bang Wikipedia, Mesjid Kampung Hulu ini mesjid tertua di Malaysia.

Mesjid Selat Melaka

Jumatan beres, lanjut makan dengan anak istri tercinta di resto Asam Pedas Selera Kampung Sdn Bhd, yang ramai pengunjung asal negeri jiran.  Makanan khas Melayu.  Saking ramainya lauk nomor wahid nya pada habis, tapi ngirittraveler team yang selalu nerimo, jadi dengan lauk apa adanya plus nasi selalu habis dilahap.  Maklum team yang banyak jalan kala berwisata, jadi butuh asupan nutrisi yang banyak, terutama dari nasi putih.  Hehe 😛

Beres lunch lanjut ke Mesjid Selat Melaka, by Grab Car.  Mesjid yang sangat cantik di pinggir Selat Melaka, banyak turis manca negara pada visit ke Mesjid  ini, otomotas banyak banyak turis dari Jepang, Korea dan Tiongkok yang mendadak berhijab.  Semoga syiar dari Masjid ini terpartri dalam sanubari para wisatawan.  Di area Masjid cukup lengkap ada kid corner, ada kursi pijat otomatis, ada kulkas minuman dsb.  Waktu kami datang saja, ada yang lagi akad nikah disana, para tamu undangan pada ngebotram di pelataran Mesjid yang menghadap ke laut lepas, selat teramai di Asia Tenggara.  Pengantin malah sibuk berfoto penganten di beberapa sudut Mesjid, soalnya ciamik banget lokasinya.

Samping Mesjid Selat Melaka

Liat tiang pondasi Masjid ini jadi ingat Masjid Terapung di Jedah, pinggir Laut Merah, silahkan baca Go To Makkah al Mukarramah.  Sedangkan lengkungan bagunan Mesjid Selat Melaka sangat mendominasi, agak mirip lengkungan bangunan Keong Mas Taman Mini.  Toko souvenir ada disamping Mesjid, banyak menjual parfum, peci haji, siwak dan perlengkapan ibadah umat Islam.  Alhamdulillah sempat merasakan sholat Ashar berjamaah di Mesjid Selat Melaka yang kece ini.   Pulang ke hotel by Grab Car lagi sambal menikmati Melaka dikala senja.

Setiap malam Sabtu dan Minggu, di Melaka selalu diadakan pasar malam, kalau pasar malam orang Melayu di seberang Menara Taming Sari, Jalan Merdeka. Sedangkan area pecinan juga ada pasar malam di Jonker Walk.

Nasi Goreng Pattaya

Makan malam di Thai Food Cuisine, di area Plaza Meredeka, samping hotel, dengan menu serba seafood yang tidak menguras isi dompet.  Menu yg dipilih Nasi Goreng biasa hingga Pattaya, plus tambahan Kerang, Kepeting, Sotong dan Otak Otak.  Busyet deh makan, hobi atau doyan ya?  Maklum mau wisata jalan di pasar malam, jadi karbohidrat dan protein harus banyak, hehe. 😛

Beres makan kami lihat lihat di pasar malam orang Melayu, banyak jajanan khas Melaka, contohnya Apam Balik Crispy, satunya 50 sen, kalau di Indonesia bisa dibilang martabak manis mini.  Karena penasaran kami lanjut lagi ke pasar malam di Jonker Walk, agar lebih merasakan suasana malam di Melaka.  Kesan pertama ramet banget, saking ramenya tidak ada satu sounenir pun yang kami beli, malah ummi beli spon ajaib untuk didapur.  Hehe cape deh.

Sekian ulasan dua malam di Melaka, semoga bisa bantu para traveler yang hendak ke Melaka.  Takbir.

Categories: Culinary, Travel Note | Tag: , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Putrajaya

I Love Putrajaya

Berbekal tenaga hasil resapan nutrisi Nasi Lemak jatah breakfast Easy Hotel, Rabu pagi 20 Juni 2018, kami langkahkan kaki ke loket KLIA Trasit di KL Sentral.  Bermodal 14 MYR per orang, kami berangkat ke Putrajaya dengan KLIA Transit.

Lebih kurang 15 menit sampai di Putrajaya.  Putrajaya ini kota pusat pemerintahan Malaysia dalam menggerakan roda pemerintahan.  Jadi semua kantor kementerian Malaysia ada di Putrajaya.

Seri Wawasan Bridge

Tempat tinggal Perdana Menteri juga ada di Putrajaya, karena tempat pemerintahan nya satu lokasi otomatis roda birokrasi bisa lebih efisien dan efektif.

Menariknya Putrajaya banyak dikunjungi pelancong juga, terutama yang agak keren-keren seperti kami, hehe. 😛

Banyak spot spot menarik yang dijadikan objek wisata, mulai dari jembatan, bangunan, hingga tour dengan kapal wisata.

Turun dari KLIA transit kami berjalan kearah terminal bus, awalnya celingak celinguk tidak tau harus kemana.  Lihat banyak bus yang ngetem dengan tujuan perjalanan yang kami tidak tau dimana daerahnya.

Pucuk cinta ulam tiba, kami lihat bus wisata “Putrajaya Sightseeing” warna merah yang sedang ngetem.  Dengan pede nya kami tanya ke pak supir, “Pak beli tiketnya dimana dan berapa harganya?”

Mesjid Putra

Pa supir bilang “Itu ke counter saja disana” dengan dialek melayu sambil menunjuk ke arah counter bus.  Per orangnya 55 MYR, tanpa babibubebo langsung ke arah loket, dan beli 4 kupon bus Putrajaya Sightseeing.  Lumayan mahal juga ya.

Kupon bus kami pegang, langsung berjalan ke bus kembali, sambil menyerahkan kupon ke pa supir.  Rejeki anak soleh, ternyata bus langsung berangkat tanpa menunggu wisatawan lainnya.  Serasa kami seperti sewa private bus di negeri orang.

Inside Mesjid Putra

Sebelum jalan pa supir memberi arahan lokasi lokasi yang akan dikunjungi, dan berapa lama waktu yang diberikan untuk berfoto.  Lokasi pertama jatuh ke Seri Wawasan Bridge, jembatan yang instagramable mirip jembatan Pasupati Bandung, karena waktu terbatas kami tidak sia siakan foto sana sini tanpa arah dengan model figuran dadakan dari ngirittraveler, hehe. 😛

Prime Minister Office

Lokasi ke dua Masjid Putra, banyak bertemu cewe dari Korea, Jepang dan China yang mendadak pada ber hijab.  Syiar Islam ketal terasa di pelataran Mesjid, dimana ajaran ajaran Islam dijelaskan secara profesional oleh para guide handal di pelataran maupun dalam Mesjid.  Leaflet dibuat beberapa bahasa, sehingga mudah dipahami oleh para turis mancanegara.  Karena luas, waktu yang diberikan pak supir tidak cukup.  Apalagi didepan Mesjid Putra ada alun alun yang luas, full bendera, dengan background kejauhan tanpak kantor Perdana Menteri Malaysia yang besar dan megah.  Gaya loncat, termenung, narsis semua diperagakan model karbitan dari ngirittraveler saat sesi foto.  Tak terasa waktu yang diberikan pa supir terlewatkan.

Suasana Jalan di Putrajaya

Bermodal ijak gas bus keras-keras dan klakson menyalak nyalak, pa supir memanggil kami untuk segera naik ke bus.  Sampe di bus kami disemprot pa supir karena tidak ontime.  Sepanjang perjalanan pa supir ngomel ngomel yang nggak jelas apa yang diomongin.  Suasana mulai tidak kondusif, tapi kami tenang saja karena tidak mau ribut di negeri orang.

Bus menuju lokasi ketiga, di depan kediaman Perdana Menteri, kami cepat cepat ambil foto, dari pada diomelin lagi, jadi foto secukupnya saja.

Smile from Prime Minister Resident

Perjalanan dilanjut tanpa ada keramahan lagi dari pa supir, sampe segitunya pak.  Penjelasan mengenai tempat tidak ada lagi, isinya cuma ngomel ngomel yang dipahami pa supir sendiri, ciri ciri tidak iklas mengantar kami bagai keluarga raja yang sanggup sewa satu bus besar di negara orang.

Tempat selanjutnya yang kami kunjungi secara tergesa-gesa, Place of Juctice atau Istana Kehakiman yang kubahnya model Taj Mahal.  Lanjut ke Putrajaya Internatioanal Convention Centre,  mirip mirip GBK, tapi nggak tau juga apakah didalamnya ada lapangan sepak bola atau tidak.  Malas kami bertanya ke pa supir yang lagi super bete itu. 😀

Istana Kehakiman

Lokasi terakhir berfoto di Putra Jaya jatuh ke Seri Gemilang Bridge, ketemu calon penganten yang lagi asyik foto preweeding disana.  Dari jembatan ini terlihat uniknya Putrajaya International Convention Centre seperti bangunan bertopi.

Kami diantar pulang lagi oleh pa supir ke terminal bus sambil ngomel ngomel yang nggak jelas juntrungnya. Sepertinya lagi kumat darah tingginya.  Sambar pa supir jangan marah marah mulu nanti cepat ubanan loh.  😛

Seri Gemilang Bridge

Awalnya mau pulang ke KL dengan bus, tapi karena harus gunakan kartu abudemen, jadi kami batalkan.  Pulang ke KL dengan KLIA Transit lagi.

Sampai di KL kami nampak tilas kembali ke Central Market dan Petaling Street, untuk bernostalgia perjalanan Kereta Tanah Melayu di tahun 2015.  Selesai sudah kami lewatkan hari Rabu ini dengan kecerian dan pengalaman yang bertambah.  Alhamdulillah. Takbir.

Categories: Travel Note | Tag: , , , , , | Tinggalkan komentar

Genting Highland

Smile from KLIA 2

Hari keempat lebaran kami ngetrip ke Kuala Lumpur, untuk menghindar dari wisata macet di negeri tercinta.  Fly by Lion jam 9 pagi, sampai di KLIA jam 12 waktu Malaysia.

Nasi Campur

Kuala Lumpur lebih cepat sejam dari Jakarta, waktunya sama cepat dengan Singapore.  Biar pada rajin pagi-pagi sudah beraktifitas.  Beres migrasi dan ambil barang, lanjut makan siang di Food Garden lantai 2 KLIA2 International Departure Hall.  Pilihan hati jatuh ke kedai Nasi Campur, masakan melayu mirip masakan rumahan di Indonesia.

@ KL Sentral

Perjalanan ke KL by KLIA Express, lumayan harganya 55 MYR/org, tapi nyaman benar sih keretanya.  Nyampenya di KL Sentral, sekarang tambah ramai dan teratur, tidak jauh beda dari suasana tiga tahun yang lalu.  Hotel via Traveloka cari dekat KL Sentral, pilihan jatuh ke Easy Hotel Kuala Lumpur Sentral, tinggal geret tas bentar nyampeh deh hotel.  Stategis banget lokasi, recomended buat para ngirit traveler.

Komplit ada breakfast nya juga, kamar nggak besar tapi cukuplah buat para pelancong berpaham murmer.  Yang pasti kalau ingin selalu diberi salam Assalamualaikum, nginep aja deh di hotel ini, soalnya kalau mau masuk pintu hotel pasti petugasnya kasih salam Assalamualaikum, ketemu di lift juga sama petugas hotel selalu beri salam.  Mantapkan jadi selain dapat rehat dapat juga doa dari salam.  Tapi jangan lupa wajib menjawabnya dengan Wa’alaikumus salam.  Berkah deh acara nginep loe di nih hotel.

Go Genting

Sore, coba cari tiket bus dan skyway ke Genting di counter Go Genting, dekat konter AirAsia di KL Sentral, tapi sayang saudara2 counternya tutup, disarankan untuk datang lagi besok pagi, jam 8 sudah buka, ok no problem.  KL Sentral menyatu dengan NU Sentral Mall, karena kita penggiat window shopping, terpaksa acara dilanjut putar putar mall, melakukan inspeksi toko ke MBG Fruitshop dan swalayan Sam’s Groceria.  Kalau di Indonesia toko itu buka sudah pasti jadi kompetitornya All Fresh dan Giant.

Cape putar putar mall, karena niat diet selalu membara, acara makan malam ditiadakan, hanya beli paket hotdog di Subway di Mall plus tambahan nasi Briyani dan ayam bakar dekat hotel.  Aduh cuy itu sih bukan niat diet dong, tapi niat nggak mau diet, hehe. 😛

Traveler

Rabu pagi, tanggal 19 Juni 2018, dengan singgap kami breakfast, langsung di lanjut jalan ke counter Go Genting.  Sampe di counter dapat bus yang ke berangkatan jam 10.15, tiket kita beli pp biar tidak report lagi, sekalian beli tiket skyway nya juga ada.  Tiket pulang dapat yang jam 16.30.  Cukup lah buat putar putar Genting Highland, kan kita mah nggak ke casino ini, hehe.  Untuk harga tiket bisa lihat di foto dokumentasi ya.

Karena masih satu jam lagi dari keberangkatan, kita keliling luar mall, untuk ambil ambil foto.  Siapa tau ada view yang instagramable saudara saudara.

Naik bus Go Genting, juga dari KL Sentral, intergrated bener nih bangunan, mirip palu gada, apa loe mau gue ada.  Awalnya naik bus Go Genting senyum gembira, sampai di terminal pada turun pucat pasi, maklum yang nyetir dapat driver gile, belokan aja di gas habis, nggak jelas tuh supir, apa sakit perut atau gimana, kita kagak tau.  Sampe sampe satu bus pada mabuk, yang nggak cuma saya dan ade aja, maklum kita berdua kembaran para tokoh Marvel sih, jadi rada kuat gitu lo.

Awana Skyway

Terminalnya nyatu dengan mall, jadi lumayan bisa window shopping sebelum naik Awana Skyway.   Sempat mampir di toko mochi jepang, Edibee, kalau rasa kenyalnya sih mirip mochi Sukabumi cuma beda di packaging nya saja agak lux.  Beres belanja mochi Jepang, langsung bergegas naik Awana Skyway di lantai 3, maklum masa kecil kurang bahagia.  Tapi dengan naik skyway walaupun digabung dengan keluarga dari India, kita jadi happy banget, kerena jalurnya menanjak banget, viewnya juga ok banget plus udaranya kaya di puncak Bogor.

@ Awana Skyway

Dalam gandola keluarga dari India itu heboh banget foto fotonya, maklum suasananya ok banget.  Lumayan 20 menitan dalam gondola, kami tidak mampir ke Chin Swee Temple, langsung ke SkyAvenue mall.  Sampai di SkyAvenue kami disajikan tontonan permainan lampu dan layar yang luar biasa, wow banget bagai opera besar di tengah mall yang super megah.

In front of Burger & Lobster

Selesai pertujukan, window shopping sambil mencari Burger & Lobster untuk rehat makan, tapi apa daya saudara saudara karena modal terbatas, acara lunch di Burger & Lobster di pending sampe menunggu ada yang mau traktir, hehe.  Akhirnya lunch kita di JR Curry yang cost pas sama budget yang ada.  Enak juga JR Curry, suasana prasmanan di negeri orang.

Air Mancur Menari

Cape udar ider di Sky Avenue kami pulang lagi by SkyWay, shalat di mushola Genting Highlands Premium Outlets.  Premium Outlets isi nya outlet produk produk branded dunia. Awal-awal nya window shopping aja, tapi karena di window nya ada tulisan discount jadi aja suasana mulai memanas, perjalan terhambat di Padini Outlet Store karena lagi banjir discount.  Hehe. 😛

Twin Tower

Jam 16.00 kami sudah turun ke terminal, nunggu bus sesua jadwal tiket pulang.  Sampai di KL karena masih sore, setelah taruh belanjaan di hotel, kami lanjut naik LRT ke KLCC untuk ngjengok Petronas di malam hari.  Sebelum sesi foto kami rehat makan dulu di Nando’s Suria KLCC mall.  Pengalaman kedua kami makan di Nando’s, sebelumnya di tahun 2015.

Selesai makan lihat pertunjukan air mancur menari di halaman samping Suria KLCC mall, dengan efek lampu yang luar biasa, sampe sampe yang nonton pada menari terbawa suasana yang gimana gitu.  Kk Ade juga ikut menari diiringi lagu We are The World.

Acara ditutup dengan sesi foto foto dengan background Twin Tower dimalam hari.  Perfect holiday.

Note : kalau mau dan lagi jalan jalan ke Kuala Lumpur jangan  lupa baca juga artikel Keretaapi Tanah Melayu.

Categories: Culinary, Travel Note | Tag: , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Welcome to Little Seoul

@ Little Seoul

Lebaran kedua 1429 H ke Bandung, via Cibubur – Clieungsi (Met Land) – Cibitung – Kerawang Barat – Bandung.   Jalur menghindar macet tol Cikampek, yang selalu horor diseputaran Bekasi.  Via jalan lama tapi lumayan ampuh hindari macet tol seputaran Bekasi – Cikarang.  Masuk tol lagi di pintu tol Kerawang Barat, mobil melaju bebas hambatan.  Nge botram di km 88, gelar masakan lebaran khas ummi, yang penuh dengan aneka rasa kelezatan.  He he siapa dulu dong suaminya.  😛

Baca lebih lanjut

Categories: Culinary, Travel Note | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Danau Maninjau – Padang

@ Puncak Lawang Danau Maninjau

Hari ketiga

Saat kaki menginjak Ranah Minang, kk selalu bilang, “pokoknya wajib makan Gulai Itiak Lado Mudo” di Binuang Bukittinggi.  Beres packing barang, foto pagi depan Jam Gadang, lanjut naik delman plus kejadian horor, nahan kuda diturunan samping Istana Bung Hatta, kami lanjutkan traveling ke Danau Maninjau.

Lewat jalan Binuang, bungkus beberapa porsi Gulai Itiak Lado Mudo, maklum baru beres breakfast di hotel, jadi bekal bukusan untuk makan siang sambil memandang Danau Maninjau.  Akhirnya cita cita kk dapat terwujud. Baca lebih lanjut

Categories: Culinary, Travel Note | Tag: , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Bukittinggi – Payakumbuh

Panorama Ngarai Sianok

“Dari lantai atas hotel terlihat dikejauhan gumpalan awan putih tebal memanjang menutup Ngarai Sianok, posisi awan lebih rendah dari posisi memandang, bagai terperangkap dalam Ngarai.  Sebelah kiri mata memandang tampak gagah gunung Singgalang berdiri dengan kerucut yang tidak simetris lagi.  Sejuk udara pagi, indah nya mata memandang menjadi magnet tersendiri berwisata ke Bukittinggi”.

Hari pertama.

Kalau traveling sendiri atau sekeluarga inti itu sih biasa.  Tapi kalau traveling sama ibu yang sudah lanjut usia, itu baru namanya luar biasa, butuh kesabaran lebih dan perencanaan yang matang.  30 Mei ini ibu genap 71 tahun, kalau diajak jalan kaki terlalu lama sudah tidak sanggup, cepat lelah.  Sabtu lalu kami bersama ibu ke Bukittinggi, via Bandara International Minangkabau. Baca lebih lanjut

Categories: Culinary, Travel Note | Tag: , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Makassar

@ Fort Rotterdam

Seumur umur belum pernah ke Sulawesi.  Long week end akhir Maret lalu ke Makassar biar kesampaian dapat ke Celebes, sekalian explorer seputar Makassar.  Waktu hanya tiga hari, sangat terbatas lokasi yang dapat dikunjungi.  Sudah lama tidak jalan jalan, terakhir ke Lampung, awal tahun, hampir satu triwulan tidak jalan jauh sekeluarga.  Itinerary tidak dibuat, breakdown kasar hanya didalam pikiran saja.

Rencana liburan hanya mau santai-santai saja, leha-leha di hotel sambil berenang dan wisata kuliner Makassar, namanya juga liburan tiga hari.  Coto Makassar, Pisang Ape, Pallubasa, Konro Karebosi sudah terpatri dalam pikiran sebagai target destinasi kuliner. Baca lebih lanjut

Categories: Culinary, Travel Note | Tag: , , , , , | Tinggalkan komentar

Rammang Rammang

@ Rammang Rammang

Jangan dibaca remang remang ya.  Baca saja Rammang Rammang yang artinya sekumpulan awan atau kabut.  Lokasi geowisata yang lagi ngehit dijaman now, tidak jauh dari Makassar, lebih kurang satu setengah jam dengan mobil via tol.  Lokasinya di Kabupaten Maros.  Makanya dibilang Maros Hidden Paradise.

Awalnya tidak ada niat kesana, karena selama di pesawat nonton film The Nekad Traveler.  Salah satu lokasi syuting nya di Rammang Rammang.  Terkagum kagum lihat sekilas keindahan alamnya, bentangan morfologi karst, jadi penasaran mau kesana. Baca lebih lanjut

Categories: Travel Note | Tag: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Bandar Lampung

@ Feri Merak – Bakauheni

Mau ke Puncak macet, ke Bandung macet, ke Dieng juga khawatir macet di tol Cikampek.  Kalau liburan akhir tahun harap maklum macet dimana mana.  Liburan buat refreshing, karena macet bisa jadi bt kuadrat.  Mau liburan naik pesawat juga tanggung, waktunya hanya dapat 2 malam 3 hari, bisa mahal diongkos.

Ngirit traveler tidak pantang menyerah, diputuskan berlibur ke Bandar Lampung, siapa tau tidak macet kalau kearah sana.  Benar juga, Rabu 31 Desember kami berangkat pagi dari markas di Bogor, jalanan lancar jaya sampai Merak.  Bogor – Merak tembus 2 jam, nyaman betul nyetir pagi itu. Baca lebih lanjut

Categories: Culinary, Travel Note | Tag: , , , , , , | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.