Ketika Ummi Sakit (Part II)

Dimulai dengan Air Asia, maskapai pertama di awal tahun mengecewakan saya.  Gimana tidak harusnya berangkat jam 8 malah berangkat jam 1 siang.  Ganti maskapai pula ke sriwijaya.  Rasa hati mau cepat sampai ke rumah sakit harapan kita, dari nama rumah sakitnya saja sudah buat merinding.  Siang menjelang sore, Alhamdulillah sampai di rumah sakit.  Pertama aku melihat Ummi terbaring tak berdaya di rumah sakit penuh harapan ini.  Terlihat mata Ummi penuh harapan untuk melawan sakitnya tapi tak mampu.  Gimana mampu orang sehari 3x disuntik antibiotik dosis tinggi.  Orang yang sehat aja kalau di suntik 3x sehari aja bisa tumbang apalagi Ummi yang sudah lemah sekali. Suntikan itu kata Prof Dr Idris untuk membunuh bakteri yang ada di klep jantungnya.  Bakterinya harus dibereskan baru bisa operasi klep jantung.  Kalau tidak dibunuh bakterinya bisa berdapak yang tidak tidak.  Luar biasa sakit Ummi ini, membuat para dokter bedah aktif mengunjunginya.

Kesel campur sembel liat askes silver perusahaan besar produksi batubara no 3 di Indonesia, because askes tsb tidak bisa cover biaya pengobatan my wife.  Produksi no 3 aja yang selalu di gaungkan tapi menolong family employee yang sakit saja tidak bisa, hanya janji-janji dari bos-bos yang nggak jelas kebenarannya.  Tgl 1,2,3 Januari saya temani Ummi di rumah sakit, sambil bereskan administrasi dan tanya-tanya dokter gimana sebaiknya.  Sempat kesal nanya sama Prof Dr Idris, kalau di tanya mata tidak menatap mata saya.  Dan answer is always simple, yach harus operasi…. Ok ok dok dalam hati.  Saya selidik how much biaya operasinya.  Ujar kasir begini (bhs banjar nich), untuk operasi ini bapak siap-siap uang Rp. 60jt an, trus di tambah after operasi untuk perawatan Rp.30jt an, itu kalau lancar n tidak ada masalah.  Dalam hati wah belum biaya before operasi yang pake acara suntikan sehari 3x dengan lama suntikan 6 minggu.  Wah luar biasa kalau di total bisa mencapai 120 jt an.  Yach Allah cobaan ini pasti ada hikmah dan way out nya.  I believe God.

Mondar mandir depan rumah sakit, sambil mikir duit dari mana yach.  Air mata sudah tak tertahan, saya hanya bisa mandang langit biru sambil mengusap air mata yang tidak dapat tertahan.  Why my live can not make my wife happy.  Problem kaya gini saja langsung bikin KO yang namanya pak Uki.  Yach Allah berilah hamba jalan untuk dapat membantu istri saya agar sembuh.  Doa doa trus dalam hati.  Sambil ikhtiar nanya nanya ke bagian administrasi rumah sakit, karena modal kurang.  Jawabnya hanya sebatas harapan sesuai nama rumah sakit.  Selain itu aku berusaha menjadi the best nurse for my wife in hospital, semoga usaha satu ini menjadi spirit buat Ummi biar kuat untuk sembuh.

Lihat ke langit biru kalau saya di luar gedung rumah sakit sambil mengusap air mata yang tak tertahan.  Bingung harus gimana, banyak saya dengar di depan rumah sakit, untuk operasi orang orang pada jual mobilnya atau rumahnya.  But orang like me apa yang bisa di jual, mobil tidak ada, rumah sudah di lepas kreditannya.  Wah gawat. Tapi saya yakin Allah itu tidak akan memberi cobaan dimana umatNya tidak kuat memikulnya, I very very believe that.  Itu yang always membuat I always positive thinking buat menghadapi ini semua.

I believe, Allah masih sayang sama Ummi, tahajud always saya lakukan.  Ini jurus simpanan saya.  Insya Allah everything can be ok with Tahajud, I very believe that.

Ok part II sampai disini dulu, ntar saya lanjut ke part III, as soon as possible.

Iklan
Categories: Story | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: