PEKTAY

phot01341PEKTAY dari bahasa Cina yang punya arti Putih, si Pektay julukan untuk mobil Katana Putih punya mertua yang telah banyak membantu untuk aktifitas saya cari nafkah dan membantu transportasi urusan rumah tangga. Piktay ini punya bodi kurang bagus banyak karat di badannya. Sebetulnya tahun 2004 sudah ku cat ulang lagi, tetapi namanya Bogor yang sering hujan dan tidak ada tempat bernaung untuk si Pektay ini, akhirnya bodynya berkarat lagi.

Tgl 6-9 Maret 2009 saya pulang ke Bogor, pagi hari tgl 7 Maret 2009 timbul ide untuk menulis sejarah dan keseharian si Pektay. Saya dan Pektay seperti ada ikatan batin sendiri, biar dia benda mati tapi fungsi dan konstribusinya sangat luar biasa bagi keluarga. Paling enak kalau berdua dengan Pektay sambil mendengar musik dari radio dan berjalan di jalan raya yang tidak macet. Banyak khayalan dan inspirasi yang timbul dalam mobil ini.

Sekarang kondisi nya agak memprihatinkan, karat merajalela, AC tidak hidup, suspensi keras, join kopel sudah mulai bunyi, sandaran jok driver patah, pelapis setir sudah rombeng, pencetan klakson tinggal kawat…. Rasa hati ini ingin sekali memperbaikiya, tetapi apa daya financial yang tidak mendukung.

Kalau dihitung sedikit saja modal kerja yang dibutuhkan, kurang dari 10 juta. Tapi itu lah nasib Pektay, banyak keragu raguan dalam semangat memperbaikinya. Why? Yah Pektay ini mobil tanpa surat resmi.  Dulunya punya Polres Cirebon, untuk operasi kejar maling/penjahat oleh para serse, alamat di STNKnya aja Polres Cirebon, setelah mertua akan pindah tugas, mobil itu dibeli mertua, katanya untuk bantu bantu dirumah. Pektay ini ditemukan polisi di pinggir jalan ditepi sawah.  Waktu itu memang ada razia kendaraan, tak jauh dari lokasi razia tersebut si Pektay diparkir di pinggir sawah, cukup lama Pektay di parkir, sehingga membuat para aparat curiga, kenapa nih mobil tidak diambil ambil?  Dicari cari pemiliknya hingga beberapa bulan, tidak ada yang mengambilnya, akhirnya, dibawa si Pektay ini ke polres dan digunakan untuk operasional mengejar penjahat.  Terus diumumkan keberadaan si Pektay ini tidak ada yang mengakui kepemilikannya, akhirnya dilelanglah si Pektay ini, dan dibeli mertua.

Awalnya Pektay ini hijrah dari Cirebon ke Bandung di stir om Oi, masih kondisi baik kala itu, kurang lebih tahun 1991 an.  Pernah saya menabrak orang dengan si Pektay ini di Cibaduyut Bandung, alisnya sampai hilang, urusannya ribet tapi selesai secara kekeluargaan dan uang.  Pernah juga saya bawa kambing di dalam Pektay ini bersama Ummi dan Kk, otomatis kita semua ketakutan didalamnya.  Pernah si Pektay ini lepas kopel di jalan tol, sehingga si Pektay harus di derek. Yang paling sering si Pektay ini kehabisan bensin, karena indikator bensin nya tidak berfungsi.

Waktu saya tidak bekerja Pektay ini sangat berjasa untuk bawa barang barang dagangan, baju, boneka display, pokoknya sangat luar biasa konstribusinya.  Paling banyak cerita saat saya kerja di Auto, Pektay ini merupakan tulang punggung dalam mencari order, masuk ke perumahan perumahan, gang gang dan plosok plosok untuk cari orang yang mau beli mobil Kijang dan truck Dyna.

Bangku belakang Pektay ini berhadapan, kasian Kk dan Ade kalau naik di belakang, rasa suspensinya hampir sama dengan suspensi angkot.  Pernah ditahun 90an saya, Ummi dan temannya Chandra, jalan jalan ke rumah Bule Kadar di Cinere, kita pulang lewat Parung Bogor, saat itu perjalanan PP, sesampainya lagi di Bogor, Chandra temannya Ummi pucat pasi, dan tobat untuk duduk di bangku belakang, perut katanya serasa di kocok kocok. Ha ha kalah dong sama Kk dan Ade yang happy aja dan suka pada ketiduran di bangku belakang.  Saat Kk masih kecil sering lantai di bangku belakang dibuat tempat tidur, layaknya kamar kecil yang penuh dengan bantal dan boneka.

Saat ini kalau saya melihat Katana yang termodifikasi baik di jalan, pasti khayalan tertuju ke si Pektay, hhhm semoga suatu saat Pektay akan seperti itu. Sejarah perjalanan Pektay lebih kurang sebagai berikut:

1991-1997; wara wiri Bandung – Lembang, sering dipakai om Oi untuk kuliah.

1997; Pektay hijrah ke Bogor, kalau tidak salah Bang Aam dan Om Oi yang ngejokiin, lewat puncak, hijrah karena Estem Merah pegangan Ummi di jual Kake karena butuh untuk suatu hal.

1997-2000; wara wiri sekitar Bogor, tetapi di akhir tahun 1999 Pektay teruji keunggulannya, saat itu Yang Ni dan Om Urry mengalami kecelakaan berat di tol Cibitung siang hari, mendengar berita tersebut, langsung saya dan Pektay menuju lokasi kecelakaan dengan kecepatan yang sangat tinggi di jalan tol, serasa body saya dan Pektay menyatu, kecepatan diatas 120Km/jam, kelincahan Pektay teruji disini, sampai sampai kalau ada pembalap melihat saya dan Pektay saat itu, kemungkinan saya dan Pektay akan diikut sertakan dalam rally di Sentul. Terbukti si Pektay ini yang sampai pertama di RS Cibitung.

2000; awal tahun Pektay berkontribusi dalam kegiatan wirausaha MapCom di Dermaga Bogor, sama Sihol Sitorus berlanglang buana ke Mangga Dua untuk beli komputer.

2000-2005; Pektay berlanglang buana di seputar Jabotabek, Jonggol, Parung, Cianjur, sampai sampai ke Jababeka, biasa cari cari order orang yang mau beli Kijang dan truck Dyna.  Tahun tahun ini Pektay diberikan saya sebuah tape radio dengan speaker seharga 500ribu rupiah, rakitan cik Lina dan hasutan Darman dan Roland.  Tampak berseri Pektay ini sampai sampai pernah di cat ulang di jalan baru Bogor, habis sekitar 2 jutaan, rasanya sebelum kelahiran Ade.

2005; saat saya baru masuk PT Kideco Jaya Agung, Pektay dikejar polisi di jl Gatot Subroto Jakarta, sore hari dengan suasana macet, dari arah belakang tampak mobil polisi mengejar dengan sirine yang cukup nyaring, memintai Pektay berhenti. Saya dan Pektay berhenti memohon maaf ke pak Polisi karena menjalankan Pektay di Jakarta, saya beri pejelasan yang sopan dan menunjukan STNK apa adanya dan SIM, akhirnya pak Polisi memahami keberadaan Pektay ini, dan meminta agar Pektay ini jangan dibawa ke Jakarta, tidak enak dengan yang lain.  Alhamdulillah saya dan Pektay diberi kemudahan.  Sering hal ini kita alami di Bogor karena polisi paham keberadaan Pektay akhirnya disuruh jalan kembali.

2005-this day; Paktay hanya berkutat kutat di Bogor, sudah mulai tampak sakit, mungkin karena kurang belaian dari saya. Saya akan berusaha untuk memperpanjang masa kerja Pektay ini. Kalau lagi lebaran terasa Pektay ini penuh arti di hari hari yang Fitri, sehingga silahturahmi dapat dilakukan dengan baik. Selain itu saat akan bepergian wisata berenang dengan Kk, Ade dan Ummi, luar biasa Pektay dapat memberi warna keharmonisan, canda dan tawa dalam keluarga.

Tak akan saya lupakan kamu Pektay, akan saya beri sentuhan berarti untuk mu.

Note : Tahun 2014 akhirnya Pektay dijual adek ipar ke tetangganya, rencananya akan di modif untuk dijadikan mobil offroad.  Selamat jalan Pektay.  Sungguh besar jasamu sobat putihku. 😀

Iklan
Categories: Story | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: