Gede – Pangrango

Awal 88, dimulai dengan kebiasaan buruk nyetop nyetop mobil bak atau truk di simpang empat Ciawi Bogor, kebetulan waktu itu aku warga Ciawi, kalau jadi jagoan di lampu merah Ciawi tidak masalah, namanya juga warga setempat. Tujuan antara 2, Ciawi – Cianjur atau Ciawi Sukabumi. Kadang sendiri atau ramai ramai dengan teman smp, ada Viant sang jago gambar dan main gitar, ada Sony yang sangat lincah kalau berlari lari diantara batu batu kali.

Pernah naik truk sendiri sampai ke Cianjur, turun depan showroom besar di pinggir jalan Cianjur, setelah itu bingung pulangnya gimana yach, uang tidak bawa, minum pun tidak. Gila juga nich anak. Refreshing kata ku, soalnya waktu itu memang tidak punya uang. Rumah pas di pinggir jalan, selalu melihat orang berpergian kesana sini, hhhm kapan yach aku jalan jauh seperti mereka yang didalam mobil.

Siapa orang Jabotabek yang tidak tau simpang empat Ciawi, kalau mau ke Puncak kala itu memang harus lewat sana kan. Jadi kalau week end pasti deh banyak mobil mobil keren berlomba lomba untuk ke Puncak, katanya untuk ngedinginkan otak. Aku selalu memperhatikan kebiasan anak anak stm Jakarta yang selalu beramai ramai mencegat mobil bak dan truk untuk ke Puncak, bawa bawa gitar, panci dan lain lain.

Mulai merasuk untuk melakukan perjalanan jalan jauh dengan melihat contoh contoh yang disaksikan oleh mataku. Tapi aku mainnya rapih nggak seperti rombangan kampanye kalau sedang nyetop bak terbuka, sendiri dong gentle banget. Kalau pun Viant dan Sony ikut yang nyetop juga aku.

Aneh liat orang orang di Puncak, kalau mau dinginkan otak jangan di Puncak dong, noch jauh dong misalnya di puncak gunung. Timbul ide untuk mendingikan otak di puncak Gunung Gede atau Pangrango atau Salak. Kebetulan 3 gunung itu melingkari kotaku kota Bogor. Bangun tidur, ke warung, ke pasar, ke sekolah, ke mana mana pasti selalu liat 3 gunung itu. Harus aku dinginkan otak ini dipuncak puncaknya.

Bermodalkan supermie, beras, jaket, sarung tangan, panci kecil, tempat minum yang disatukan dalam ransel tentara yang kecil, berangkat deh dengan Viant ke Gunung Gede. Waktu itu Viant punya uang saku, kebetulan dari keluarga yang teratur, kalau aku hancur banget suka tidak pegang uang. Soalnya lebih banyak yang nagih dari pada yang ngasih kalau di rumah, he he he, yang penting nekat…. Kenapa gunung Gede dulu karena gunung ini terkenal untuk arena tracking mountain nya, sudah tertata rapih oleh pihak PHPA waktu itu, kalau sekarang departemen Kehutanan. Pintu gerbang pendakiaan dimulai dari kebun raya Cibodas, terletak di Kab Cianjur, di ketinggian 1400m dpl (diatas permukaan laut), dengan suhu sekitar 18ºC. Kalau boleh sombong, alm ayahku punya andil dalam memajukan kebun raya Cibodas ini, soalnya beliau pegawai Kehutanan yang pernah di tugaskan disana. Cibodas ditemukan pertama oleh ahli botani Belanda namanya Johanners Elias Teysjmann, guna studi pohon gunung.

Kalau ke Cibodas, ingat masa kecil pernah 2 kali camping disana, dengan bang Ucok, Uka dangan team leader mas Anto saudara sepupu. Pakai tenda kehutanan, kompor gas tukang tahu, pokoknya ok deh. Alm ayahku sambil bekerja pengecekan di areal Cibodas. Asyiknya kalau mau ke Cibodas, dari awal jalan masuknya banyak warga yang menjual tanaman hias, bunganya berwarna warni, wow cool banget. Kalau kesana menggunakan Land Rover atau Jeep hartop nya Kehutanan.

Alm. ayahku lulusan Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA), di Gadog Bogor, pegawai Kehutanan Bogor (dulu namanya PPA) yang ulet dan mudah bergaul, sering jadi pemimpin upacara kalau ada kegiatan penting. Kalau gajian, bungkus uang gajinya berupa amplop coklat yang ada tulisan perincian gaji. Di Ciawi pun kita tinggal di komplek Kehutanan, tepat pinggir jalan besar. Selama waktu berjalan alm. ayahku membuka usaha konsultan Kehutanan, tetapi diujung usahanya tidak sukses, aku tidak sama sekali menyalahkan ayahku, karena itu akibat salah satu usaha ikhtiar ayahku dalam membahagiakan keluarga, kalau pun berhasil adalah syukur, kalau pun tidak ini lah yang harus aku lewati. Tau sendiri deh kalau jaman itu hanya mengandalkan gaji pegawai negeri dapat apa sih? Mana lagi menanggung 4 anak laki, aku 4 bersaudara, tau sendiri kalau makan, kaya apa yach? Jatah beras pegawai negeri pun rasanya kurang tuch….he he…

Awal 88, merupakan kebobrokan ekonomi keluargaku, tetapi karena semangat muda yang membara untuk berpetualang, apa boleh buat, ompreng bak terbuka pun dijalankan. Kita balik lagi ke Cibodas. Waktu itu lucu karena Viant punya uang, saya tidak, mau tidak mau ompreng bak terbuka dilakukan. Kasian juga Viant jadi ke bawa bawa sengsara, tapi dia nothing to lose banget, fine fine aja. Itu baru namanya teman sejati. Sampai sampai bayar karcis masuk gerbang pendakian di Cibodas pun dia yang bayar.

Gunung Gede Pangrango, kalau Gede tinggi puncaknya 2958m dpl, Pangrango 3019m dpl. Raffles pernah ke Gunung Gede tahun 1811 lewat jalan dari arah Tenggara. Pendiri Kebun Raya Bogor (Buitenzorg Botanical Garden) pak Reinwrdt pernah sampai di puncak Gunung Gede di tahun 1819, tetapi beliau bilang yang pertama sama ke puncak Gunung Gede itu geologist Amerika, yaitu Doktor Thomas Horsfield, untuk tahunnya tidak pasti, yang pasti Doktor Thomas ini melakukan riset di tahun 1802 sd 1819. Gunung Gede mempunyai 7 kawah, bernama Baru, Gumuruh, Lanang, Leutik, Ratu, Sela dan Wadon. Type gunung Gede adalah stratovulcano, akhir aktif di tahun 1957.

Jalur pendakiannya sudah enak, ada jalan setapak, ada shalter shalter (tempat istirahat). Enaknya mendaki malam supaya bisa liat matahari terbit dari puncak Gunung dengan latar padang Javanese Edelweiss (Anaphalis Javanica) dan dinding dinding kawah yang curam. Pengen kan pengen kan….. makanya jalan dulu tuh sampai puncak Gede, cape deh… Awalnya pintu gerbang, jalan ½ jam ketemu Telaga Biru di kiri jalan setapak, disini banyak terdapat ganggang biru nya, tapi kalau malam sich nggak keliatan apa apa, lah iya namanya juga gelap.. Ummi pernah loh liat Telaga Biru ini. Trus jalan lagi, lebih kurang 45 menit terdapat simpang ke air terjun Cibeureum dan jalur pendakian ke puncak. Kita ambil kiri deh, ambil jalur ke puncak. Trus jalan trus nanjak trus jalan trus nanjak, pokoknya banyak jalan aja deh, kanan kiri hutan gunung, paling juga liat pohon, ini jalan malam yach, soalnya ngejar sun rise kan. Harus bawa senter, soalnya kalau nggak bawa gelap banget namanya juga di hutan. Lebih kurang 2 jam jalan, ketemu kabut tebal, kabut apa yach, hati hati kita akan melewati lokasi air panas, jalannya loncat loncat dikit diantara batu batu sungai, kalau jalan diatas batu Sony jagonya. Hati hati yang berkacamata, suka berkabut kacamatanya…, air sungainya hangat, kotradiksi dengan suhu udara luar yang ada dingin banget. ±4 jam jalan terus, baru deh ketemu tempat peristirahatan namanya Kandang Badak. Jangan ngebayangin ini losmen atau rumah makan yach, salah… ini hanya shelter tempat istirahat sementara para pendaki. Ada sumber air di blakang shelter, lumayan buat nambah air minum. Kalau mau rebah rebahan silahkan disini, mau masak supermie (waktu itu baru hanya ada supermie, indomie belum ada, belum di publish) silahkan, air banyakkan… Dijamin tidak ada badak disini, tapi kononnya sih ada, ah masa sich, aku searching di internet nggak ada tuh badak di Gunung Gede, adanya juga di Taman Safari di kaki Pangrango, he he he.

Eh tapi, konon bulan Agustus 1821 ada dua orang biologis muda yang bekerja Netherlands Commission for Natural Sciences yang menceritakan bahwa mereka mengikuti jejak badak menuju puncak. Believe it or not, up to u dech….., yang jelas kalau tidur di Kandang Badak aman dech dari badak, habis untuk jalan naik kesananya aja cape banget, apa lagi kata si pak badak….. he he.

Biasa para pendaki meninggalkan Kandang Badak ini pukul 3 atau 4 pagi, guna cepat cepat ke puncak…. Aku sudah lama banget tidak kesana, jadi kalau ada salah salah waktu mohon dimaafkan yach… Tapi sure otakku kerja keras lagi nich menggali memori dulu, hhhm di folder yang mana yachh? Eh emang nya harddisk…. Yang jelas kalau dari Kandang Badak ini kini akan melewati tebing terjal, dimana lutut kaki nich bisa ketemu dengan dagu mukamu, kalau nggak percaya, coba kesana deh. Berpegang pegangan ke akar tanaman perdu tebing puncak gunung, dibilang hutan sub alpin, hati hati yach tergelincir… Allah itu adil, setelah bersusah payah kita merangkak tebing puncak gunung, kita akan diberi pemandangan luar biasa. Subhanallah banyak pohon eldeweiss, di ufuk nan jauh disana the sun wanna rising…..wow keren….. wow cool. Hati hati suhu bisa sampai 5ºC yach disana, namanya dingin tuh sampai ketulang, jangan lupa baju hangat yach…. Trus barang barang bawaan lainya jangan dibawa ke puncak, cape deh…. sembunyikan aja di Kadang Badak. Cukup bawa seperlunya saja, yang penting kamera…. he he dasar foto genic…

Susuri pinggir kawah sambil merasakan derasnya angin meniup, liat kiri ada kawah menganga, liat kanan jurang, ke depan terlihat puncak Pangrango di seberang sana, pokoknya dingin banget deh nich otak…. Kalau sudah begini, aku selalu merasakan dan menghayati, arti manusia… Manusia ini hanya titik kecil sekali di dunia ini, Allah maha besar….. Kita nggak boleh sombong, angkuh, ego, pokok ke nggak boleh yang jelek jelek deh…. Disini mungkin arti kenapa orang punya hobby naik gunung, Everest yang tingginya 8850m dpl di daki orang, mana cuaca disana ekstrim banget lagi… Yach mungkin untuk merenungkan arti hidup ini, kita nich seperti titik noda kecil saja di dunia ini. Rasa takut akan azab Allah akan terasa disini, coba liat ke bawah kawah sana…. coba pikir kalau kawah itu aktif lagi…. siapa yang bisa nyumbatnya… suparman? No way man…mimpi kale….Dinginkan otak loe…

1 komplek kawah itu, terdapat 3 kawah aktif, namanya Lanang, Ratu dan Wadon, andaikan saja ngamuk, hhhm tak terbayang dech… Mau dibendung atau ditahan kaya tanggul Sidoarjo, nggak akan bakalan bisa dech…. Mau disumbat pake bola bola semen kaya di Sidoarjo, hhhm meleleh deh tuch bola… Tinggal doa doa hamba hamba yang tak berdaya saja, untuk meminta pertolongan Nya, agar dijauhkan dari azab…..

Jalan deh merangkak tuh ke puncak, kanan kiri jurang, perjuangan untuk foto foto namanya juga. Habis dari puncak, habis foto foto, habis terkena hembusan angin kencang, lanjut lagi jalannya untuk menuju padang eldeweiss Suryakencana yang ok banget, top markotop banget. Padang datar di ketinggian 2750m dpl, luas ±50 Ha, dengan gemuruh angin kencang, dingin menusuk, tapi padang itu semua ditutupi dengan hamparan bunga eldeweiss putih yang cantik dan abadi…. Coooolll banget bro. Foto foto lagi deh disini, jangan sampai nggak nyesel deh. Tapi ingat edelweiss nya jangan di petik yach, dilarang keras, prohibit banget….Like heaven man…. Tafakur wajib kita lakukan disana. Eh ngomong ngomong coba deh kamu teriak disana, pasti dech ada efek echonya, bergema gitu loch…

Selesai merenung, foto foto, siap siap untuk turun gunung. Hati hati di jalan, medannya curam, usahakan berat badan di topang pada kaki yang di belakang, trik dari alm. Norman Edwin, pakar pendakian di jaman ku dulu… “Jangan tergesa gesa, kalau asyiknya tidur tiduran saja dulu di Kandang Badak, untuk mengembalikan stamina…” (coment: sponsor kratingdaeng, he he)

Aku punya kebiasaan aneh, kalau dalam perjalanan seperti ini, aku orangnya selalu jalan di bagian belakang team, istilahya orang penyapu. Aku tidak terlalu berambisi untuk selalu jalan di depan, setelah ku renungi, ini terpancar dalam keseharian kerja dan hidup ku. Tidak berambisi tapi always nga yomi, hhhm bukan narsis yach. Iya bawaan orok kale yach… Peduli dengan era kompetisi ketat seperti sekarang ini, toh orang masih membutuhkan karakter sepertiku, yang selalu ingin teamnya selamat sampai puncak dan pulangnya. Sering team pada sangat lelah, aku masakin air dan mie hangat untuk mereka… Boleh ditanya dech kalau nggak percaya sama para saksi hidup yang masih ada, ce ileee… Kadang aku teriak bagaikan elang, kalau melihat elang Jawa (Spizaetus bartelsi) yang terbang diatas sana, elang jawa ini sering terlihat setelah jalan turun dari Kandang Badak, populasinya nggak terlalu banyak, wow cool… Jadi untuk kompetisi aku bukan jagonya tapi kalau untuk kebersamaan mungkin inilah orangnya, he he pilihlah aku… caleg no ….. :D.

Kalau sudah acara pulang gini, nggak bakal deh kita ngeteng ngeteng bak terbuka. Viant selalu nggak mau, yang ujung ujungnya dia selalu bayarin aku sampai Ciawi. Muka nich rasanya kaya bengeb, habis dipukulin, yach namanya juga kurang tidur dan capai, pasti rasa muka like that kan. Anehnya setelah pulang dengan selamat, selalu dech buat plan lagi untuk daki kesana lagi yoo… ampun nggak ada cape nya.

Kalau tidak salah mendaki ke Gede sampai 3 kali, sama Viant dan Sony, setelah itu buat plan ke Pangrango, hhhm asyik nich… Para pendaki umumnya kurang berminat ke Pangrango, karena di puncaknya tidak seindah Gede, di puncak Pangrango pohon perdunya agak tinggi jadi untuk liat ke kanan ke kiri ke muka ke belakang tidak leluasa untuk memandang. Awalnya di puncak Pangrango ini di buat tower tinggi untuk liat liat pemandangan , tapi waktu aku kesana sudah ambruk, he he konon ulah kang Adrei dan teman teman, anggota SS angkatan pertama… Untuk SS akan ku ceritakan di edisi berikut yach… sabar dech… Jadi kalau nggak ada tower yach susah dech liat liat pemandangan, tapi kalau mau dinginkan otak sih ok juga… Lokasinya sepi nggak terlalu banyak pendaki, hhhm manstap. Konon di Pangrango ini ada bunga ros (theimerial rose) yang langka…. hanya tumbuh di gunung ini saja, spektakulerkan… coba deh cari, lalu persebahkan ke kekasih mu… hhm cape deh…

Iklan
Categories: Story, Travel Note | Tag: , , , , | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Gede – Pangrango

  1. weeekkkkssss senengnya jalan dibelakang team…..
    pantes aja di pengalengan nyasar di kebon teh……terlalu ketukangan sih ceuk urang sunda mah…

  2. Mantab bro…., gw sepakat neh, so kapan neh kita ndaki bareng, sekedar belajar mengenalli dan mencintai negeri elok indonesia raya tercinta, tanah air beta ini? salam kenal dan salam petualangan ya.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: