Kencing Berbaring

Mohon maaf kalau judulnya kurang sopan, salah satu pengalamaan gue saat daki puncak Salak 2. Kejadiannya di tahun 1988, waktu itu gue kelas 1-8 sman 1 Bogor. Lagi gila gilanya gue daki gunung, rasanya kalau 1 bulan nggak ngedaki badan terasa tidak enak. Saking gilanya, gue ngedaki Salak 2 sendirian, soalnya ngajak temen nggak ada yang mau, hasrat refresing sudah sampai ke ubun-ubun.

“Dam ayo ke Salak2?” kebetulan teman satu meja di 1-8 dulu, 1 angkatan PPRPG (perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung) Satya Soedirman.
“Nggak Ki, bentar lagikan ujian.”
“Vi daki ke Salak2?” sohib daki gunung dari sman 3 Bogor
“Gimana sih Ki, kan bentar lagi udah mau ujian?”
Wah pada nggak ada yang mau nemenin nich. Terpaksa daki sendiri.
“Dam, gue mau ke Salak2, besok gue bolos, kalau gue nggak balik balik tolong cariin gue yach”.
Pulang sekolah langsung beres beres ransel, bawa barang seperlunya.
“Nich ponco gue bawa nggak yach?” pikir gue. Ponco tuh jas hujan tentara bisa ahli fungsi jadi bivak kecil kalau hujan.
“Bawa aja dech, takutnya hujan”. pikir gue lagi.

Sebelum dilanjut, gue cerita dulu tentang Gunung Salak. Salak, gunung api dibagian Barat Daya kota Bogor, type gunung api strato tipe A. Semenjak tahun 1600-an tercatat terjadi beberapa kali letusan, di antaranya rangkaian letusan antara 1668-1699, 1780, 1902-1903, dan 1935. Letusan terakhir terjadi pada tahun 1938, berupa erupsi freatik yang terjadi di Kawah Cikuluwung Putri. Salak punya beberapa puncak, di antaranya Puncak Salak I (2211m dpl) dan Salak II (2180m dpl). Ada satu puncak lagi bernama Puncak Sumbul dengan ketinggian 1.926 m dpl.

Kalau dari Bogor gampang kalau mau daki ke puncak Salak2, dakinya dari Curug Nangka, naik angkot aja ke Ciapus trus lanjut lagi ke Curug Nangka.

Puncak Salak nggak terlalu tinggi tapi banyak para pendaki yang sering tersesat, akhirnya meninggal, di tahun 1987 pernah 5 orang siswa stm meninggal disana karena tersesat. Sampai tim SAR dan perkumpulan pendaki gunung pada bahu membahu untuk melakukan pencarian.

Kita lanjut lagi cerita pribadi, jalan deh gue sendiri ke Curug Nangka, cuaca waktu itu ok banget. Suasana di kaki Salak sepi dari pengunjung , soalnya bukan week end. Besok sudah gue niatin untuk bolos. Terus terang gue nikmatin banget suasana keheningan di Curug Nangka. Disela sela pohon Cemara lalu ke Honje. Sempat berpapasan dengan orang yang hendak berburu.

“Mau ke mana mas?” tanya pemburu
“Mau jalan jalan ke puncak salak 2 pak” gue said.
“Sendiri, berani betul mas… mana sudah sore sekarang” pemburu said.
“Yach tidur di puncak rencananya pak” gue said.
“Wah mau semedi yach mas” pemburu said.
“Haha yach nggak, refresing aja pak…uji keberanian” gue said.
“Hati hati ya mas” pemburu said
“Ok pak see u” gue said dalam hati.

Jalan deh gue, daki deh gue, sambil nikmati keheningan belantara hutan. Nggak ada rasa takut ketemu macan atau ular. Modal gue cuma baca Basmalah dan La Haula Kuwata Ila Bilah. Terlihat dari jauh air terjun di kanan jalan setapak, indah banget. Mulai gue memasuki jalan air, kebetulan kalau mau jalan ke Salak II, jalan yang dilalui merupakan jalur air. Akar akar pohon berseliweran membentuk menjadi tangga. Hati hati kalau ke puncak Salak 2 ini, sumber air tidak ada jadi harus pintar pintar menjaga perbekalan air. Tapi gue punya kebiasaan kaya Rambo, minum air dari akar rotan, macho banget rasanya, dengan modal pisau rimba, gue tebas akar rotan yang bergantung di depan kepala, gue tundukan kepala sedikit, gue minum deh airnya. Jadi kalau ke Salak gue bawa air nya 1 botol aja, tapi jangan ditiru yach, takutnya loe pada nggak bisa ngebedaain mana yang ada air dan mana yang tidak. Harus latihan survival dulu.

Kepala celingak celinguk kanan kiri, nikmatin keheningan hutan. Kadang kadang gue dakinya sambil berlari, hitung hitung olah raga. Ya Allah nikmatnya luar biasa. Kadang kadang gue teriak kaya elang, biar merasakan bagaimana kalau jadi Tarzan. Suhu mulai dingin, hutan mulai perdu, Magrib mendekat, akhirnya sampai gue di puncak Salak 2. Subhanallah, sampai juga gue sampai puncak seorang diri. Biasa kalau sudah di puncak, minum seteguk air untuk menghilangkan dahaga dan meneguk arti keberhasilan. Kalau di puncak Salak 2 tanaman perdunya setinggi pinggang, tapi untuk melihat jauh kebawah agak tidak tidak terbuka, tapi kalau pandangan ke seberang, terlihat puncak Salak I yang melambai lambai untuk di daki. Perdunya banyak bunga merah yang bertangkai kecil dan berdaun merah, terus terang gue nggak tau namanya, tapi gue hobby banget makan itu bunga dan daun, enak ada sari manis dan asamnya. Semacam tradisi penyambutan oleh puncak Salak 2 ke gue, soalnya hanya gue aja yang biasa makan bunga dan daun itu. Pernah gue nyuruh temen makan bunga dan daun itu tapi pada nggak doyan.

Nggak lama lama gue di puncak soalnya sudah senja, biar malam tidur di lereng saja. Nggak terlalu dari puncak gue bikin bivak, nggak jauh dari jalur air pendakian, lokasinya bagus buat bivak, datar tidak terlalu luas, agak terlindung karena banyak pohon perdunya tapi kuat kalau tertiup angin. Habis Magrib an, biasa masak masak sendiri, minum minum sendiri by parafin. Parafin itu bahan bakar untuk masak yang simpel, karena berupa kotak kotak putih kecil, kalau dibakar nyalanya kaya sibiru, jadi nggak usah sibuk sibuk bawa kompor. Nich gunung sudah mulai gelap bintang bintang sudah tertutup awan. Gue hanya bisa merenung di kesunyian malam, sambil mensyukuri arti kehidupan yang gue pernah lewati, dan mikirin apa yang akan gue cita cita ke depan. Disini gue mulai berniat untuk mendaki semua gunung gunung tertinggi di tanah Jawa dan niat belajar apa yang terkandung dibawah permukaan bumi ini. Gue renungi semua itu dengan berbaring di bawah bivak kecil. Mulai juga gue menentukan arah romatika gue ke cewe yang berinisial MC, tapi gue punya perasaan malu sama MC soalnya nggak didukung bacground kondisi rumah yang kondusif. Tapi arahan gue sudah mulai jelas, dan harus diwujudkan setelah turun dari gunung ini.

Saking asyiknya melamuni semua itu, terhanyut dikegelapan malam, gue nggak perhatiin cuaca di luar. “Wah, kacau mau turun hujan nich.” Sholat Isya dulu, biar tenang. Shalat ini selalu dapat menenangkan ke galauan hati yang sering berkecamuk ini. Luar biasa efeknya, sangat terasa bagi gue. Habis sholat masuk lagi gue berbaring ke bawah bivak. Mulai gerimis kecil datang, “wah welcome the night mare” pikir gue, gawat gawat. Gerimis kecil hilang mulai deh hujan beneran, lebat banget, nggak kebayang lebatnya kaya gitu. Kebetulan bivak gue di lokasi yang benar, jadi dasar tanahnya nggak basah. Hujan nggak ada henti hentinya, 1 jam lewat, 2 jam lewat, “wah nggak kecil kecil nich hujan”. Jalur pendakian berubah menjadi sungai kecil dengan debit air yang sangat tinggi. Mata ini tidak ngantuk, karena terpana dengan cuaca waktu itu, begadang deh. Tengah malam, hujan mulai kembali rintik rintik, tetapi berubah menjadi hujan halilintar yang ganas. Kilatan kilatan petir seperti dekat diatas bivak gue, suasana kaya perang meriam dan senapan M16 di film nya Mel Gibson “We Are Soldier”. Kilat disana sini, kalau berdiri diwaktu itu cari penyakit, karena kilatnya hanya beberapa meter diatas bivak.

“Gawat gawat, mana mau kencing lagi nich” gimana yach pikir gue. Kalau gue keluar dari nich bivak, bisa bisa kesambar petir, nich. Mana suaranya menggelegar gelegar lagi. Ada ide buruk nich. Apa gue kencing di pinggir bivak aja sambil berbaring. Ah good idea juga yach, mana tanah depan bivak miring kearah luar, jadi gue aman dari air kencing yang berbalik ke dalam bivak. Sambil diiringi petir disana sini, gue ke pinggir bivak sambil berbaring. Kencing dech gue sambil berbaring di pinggir bivak, dengan saksi petir petir yang mengamuk diwaktu itu. Gila gila waktu menunjukan jam 1 pagi, belum juga nich petir pada berhenti, cape menunggu hujan dan petir berhenti, gue tertidur pulas dengan sendirinya. Alhamdulillah bangun subuh cuaca sudah bersahabat, setelah sholat Subuh buat kopi untuk menghangatkan badan yang kedingingan dihajar hujan semalam. Ini merupakan kopi terenak disepanjang masa. Kopi untuk mengenang keberanian bermalam sendiri di puncak Salak 2. Beres beres lalu bergegas turun gunung dengan badan yang enteng, kan sudah refresing.

Happy ending, banyak teman di PPRPG SS bilang, “gila loe daki ke Salak sendirian, kalau ada apa apa siapa yang nolong?”, ah gue jawab aja dengan senyum keberhasilan melawan takut.

Just note: gue selama 1988-1989, beberapa kali daki Salak 2 dan 1. Sama Viant ke Salak II 2 kali, Salak I 1 kali bersama bang Uka juga, pernah gagal 1 kali sama Viant untuk sampai ke puncak Salak I karena salah jalur.

Iklan
Categories: Story, Travel Note | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: