Bandung, 1435H

Braga City Walk

Braga City Walk

Sudah lama tidak nulis di blog ini… dikarenakan rutinitas harian yang tidak perlu di ceritakan. Senin sd Jumat kerja, pp by commuter line yang selalu padat. Lebaran 1435 H ini kami sekeluarga melakukan short trip dan long trip vacation.

Untuk yang short trip, kami jalan jalan seputaran Bandung. Berangkat hari kedua lebaran, Selasa 29 Juli 2014. Liburan di Bandung direncanakan hanya 2 malam, tetapi karena sesuatu hal realisasi menjadi 3 malam. Perjalanan ke Bandung dimulai via Cipularang, ketemu macet di KM 29 dekat gerbang tol utama Cikarang. Ada tabrakan beruntun dengan korban 4 mobil. Dampak kecelakan tsb rest area setelah area kecelakaan dipadati pengunjung untuk buang air kecil. Mungkin karena kelamaan pada nahan pipis jadi pada berbondong bondong ke toilet di rest area. Setelah urusan buang hajat beres perjalan dilanjut tanpa ada halangan yang berarti.

Karena belum sarapan pagi, target selanjutnya soto sadang di rest area km.72. Kebetulan bekal ketupat, sehingga cukup pesan soto sadang saja tanpa nasi sudah cukup. Pelayan di soto sadang tampak kewalahan karena banyaknya peminat saat itu. Mungkin dalam pikiran pelayan tersebut… “bro gw juga manusia yang punya hati dan ingin berlebaran”, kerasnya hidup ini kerja di hari lebaran. Masuk Bandung jam 12 siang, langsung lebaran ke uwa Bandi, kondisi masih sakit, tapi masih tetap semangat menyalahkan Prabowo yang tidak mau ngalah dalam pilpres. Setelah dari uwa liburan baru dimulai dengan target Aston Braga. Lokasi di Jl Braga Bandung, sebelah sungai Cikapundung. Hotelnya ok banget, dekat dan menyatu dengan pusat jajanan area Braga. Tidak usaha khawatir kalau untuk cari stock aqua besar untuk di kamar. Depan dan samping hotel banyak mini market yang komplit, dari Alfamart hingga MOR pendatang baru yang agar mirip dengan 7 eleven. Sore hari diisi acara ritual berenang di hotel, bukan di Cikapundung yah. Kolam renangnya tidak terlalu besar seperti di Horison, tapi disini airnya cukup dingin. Gino Feruci terlihat diseberang hotel dengan running text diatas hotel untuk promosi paket restonya.

Oh yach sebelum ritual berenang kami makan mie baso ceker Braga, saat itu cekernya tidak ada yang ada iga, nggak nyambung ceker dengan iga. Iganya agak mirip mirip iga bakar, tulang iganya masih dapat digigit walaupun dengan penuh perjuangan.
Kalau malamnya nasi goreng pinggir jalan Braga yang jadi sasaran, itu karena tidak saingan lagi jadi tagetnya yang ada saja. Supaya tidak terlalu tradisional dikombinasi dengan pesan ayam di Wendy’s. Semua dalam kondisi terbungkus karena makannya di kamar. Lesehan pun dimulai dengan menu nasgor plus ayam Wendy’s… indahnya menu terpaksa.

Tempat tidurnya twin dengan lebar yang memprihatinkan. Sampe sampe ummi terdorong saat tidur karena saking sempit. Kasian ummi, maaf yah mi, namanya juga agak keblug tidurnya.

my polygon n unpadBangun tidur ku terus gowes, target gowes Dago & Gedung Sate. Luar biasa sensasi gowes pagi hari di Bandung, segar, sejuk & dingin dingin sedikit. Subhanallah, You’re the best Creator. Rute Braga – BIP – Simpang Dago – Dipati Ukur – Gedung Sate – Riau – Braga, tidak lama gowesnya maklum pemanasan setelah saum 1 bulan penuh. Kebiasaan jelek habis gowes selalu cari makan, kebetulan belum breakfast jadi saja setelah sampai di hotel, langsung ke MOR minimarket, ambil nasi goreng udang untuk dilahap, nggak cukup nasi goreng, mie goreng pun diambil tetapi supaya tidak terlihat rakus, mie goreng dibukus untuk dibawa ke kamar, dengan modus untuk oleh oleh sebetulnya target untuk dilahap edisi nambah. Foto foto urbano3 in action ada dibawah.

Gedung Sate

Gedung Sate

Siang setelah check out dari Aston Hotel Braga kita lanjut ke Dago, suasana saat ini sangat macet karena banyak yang parkir seputaran factory outlet. Acara dimulai jam 12 siang, waduh pagi amat yah, mana belum check in hotel lagi, terpaksa liat di tkp / toko you siapa tau sudah ada yang datang. Depan toko you ketemu Yan gondrong, karena toko you penuh, Yan coba booking tempat di Tea Pot depan toko You. Saya ijin dulu untuk check in hotel.

GeoPanji

GeoPanji

Target hotel selanjutnya hotel El Cavana, lokasi di pasir kaliki depan pascal square, sejajar dengan rel kereta, kalau liat tampilan luar agak ragu nich hotel bintang 4, tapi setelah masuk ke kamar ok banget, bed nya lebar sehingga bisa tidur enak tidur ber2, design interior nya ok banget bayangin aja kamar mandi aja tebus pandang karena ada jendela besar. Kalau kesini cepat liat ke resto di lantai 8, restonya open view bisa liat 360° plus ke atas juga. Habis check ini, taruh barang langsung cabut lagi ke Dago untuk ikut halal bihalal geologi ’91. Sudah datang Yan, Tosi, Ririn, Akfil, Zae, Tribun dan Herry. Biasa cipaka cipiki dulu karena sudah lama tidak ketemu dilanjut foto foto selfie. Langsung up load via facebook, tunggu comment atau like this dari rekan rekan di dunia maya.

Habis Ashar langsung balik lagi ke hotel, untuk prepare ke PVJ malam harinya. Ke PVJ malam naik angkot warna kuning depan hotel, tip ini saran dari security hotel untuk menghindari macet dan susah parkir. Ternyata tips ini sangat ampuh ke PVJ cepat sampe dan bisa langsung ke tempat skating tanpa perlu pikir parkir mobil. Sampe di lokasi skating disambut lagu frozen, jadi terbawa suasana cool gitu deh. Skating di PVJ Rp85.000/org, plus lokernya Rp.5000/ loker. Tutupnya jam 10 malam. Salma Alia berskating ria, kami berdua cari makan, maklum perut sudah protes.

Kuliner di teras PVJ cukup jadi magnet tersendiri untuk para pelancong. Resto Zenbu jadi terget, masakan Jepang, atmosphirnya ok , makanannya ok, teh refill rasa chamomile nya ok, ini resto full recomended dengan nilai 90, like this lah. Alia habis skating langsung pesan Sushi Dragon yang bentuk dan rasanya ok. Silahkan menikmati.

Bangun pagi ku terus gowes lagi. Target tidak jelas tapi ujung ujung nya disuruh istri beli surabi di Cihapit. Start puter puter stasiun Bandung, dilanjut ke Dago lalu memutar di Cihampelas. Urbano3 putih selfie dulu dibawah Spiderman ngangkang & Rambo in Action. Lanjut lagi gowes lewati jembatan Pasupati dan selfie di Taman Jomblo, maklum pak Ridwan Kamil kw2 lagi check check seputaran Bandung. Gowes dilanjut ke arah Cihapit untuk pesan Surabi Cihapit, yah ampun brow saya dapat urutan ke 35 sedangkan si bapak Surabi masih sibuk dengan pesanan Surabi yang ke 20… Sabar menanti, ini yang namanya gowes 1 jam tunggu surabi 1 jam, ini yang dibilang gowes tidak sehat, lama nunggunya. Di Cihapit ini banyak yang nyangka saya pak Ridwan Kamil , banyak yang bilang mirip apalagi dengan sepedanya, mulai dari tukang nasi kuning hingga gorengan, mengkonfirmasi ke saya apakah saya pak Ridwan Kamil, saya jawab “iya, tapi kw2 nya.” Oh yach kalau ke Cihapit Bandung jangan lupa makan nasi kuningnya dan beli gorengan jagung, top brow…

Check out Hotel El Cavano, perjalanan dilanjut ke check in hotel Ibis Trans Studio, yach ampun check in di Ibis seperti suasana antrian sembako, rame banget, crowded banget, mana kursi tunggu untuk pengunjung kurang… Kasian liat orang orang yang ingin segera istirahat tapi ketemu acara check in seperti antri sembako gini, kalau langsung dapat kamar sich ok tapi ini sich nggak, jadi seperti pengunjung seperti orang binggung mau tidur dimana. Nggak ngerti saya hotel bertaraf international tapi pelayanannya seperti ini. Ini yang namanya kamar banyak tapi sdm kurang, gede nafsu cari profit doang. Nggak recomended banget, masa sy harusnya check in jam 2 baru dapet kamar jam 3, kalau lagi nggak mules tidak masalah, ini lagi mules banget, makanya saya tulis di blog ini, sebagai stress release kejadian saat itu. Kepada yth seluruh jajaran management hotel Ibis Bandung, tolong perhatikan complaint saya ini, Mohon maaf lahir batin.

Malam puter peter mal Trans Studio, tapi tidak pada bersemangat karena sudah bosen wisata di mal. Akhirnya food court sebagai targetnya untuk makan malam. Coba coba raja nasi goreng, tapi saya rasa enakan buatan istri tercinta, ini pendapat sy loh, kan selera berbeda beda.
Bangun pagi kuterus gowes lagi, target perumahan Margahayu, untuk cari rumah paman di Jl Jupiter Tengah VI. Untuk bukti selfie dulu di tugunya perum Margahayu, rumah paman akhirnya sampe, tapi berhubung masih pagi, lampu depan aja belum dimatikan, ditambah baju yang dipakai penuh dengan keringat hasil gowes, akhirnya dipending dulu penjet bel nya, khawatir ngganggu di pagi hari, kan nggak lucu pagi pagi sudah kedapatan tamu yang penuh dengan keringat.

Pulang ke hotel ternyata istri & anak2 lagi long march dari Braga hingga depan BIP, tapi namanya ibu ibu walupun long march insting belanjanya tinggi banget, terbukti bawa oleh oleh berupa tas backpacker yang dibeli di gramedia bandung. Mau nggak mau jemput kesana, edisi selanjutnya beli oleh oleh di Kartika Dago, recomended banget untuk tempat beli oleh oleh Bandung, ada pismol dll.

Mendekati jam 12 siang saya shalat Jumat di Mesjid di area Trans Studio, Mesjidnya ok tapi saat itu belum selesai banget masih tahap finishing. Beres Jumat an dan check out dari Ibis, perjalanan dilanjut ke rumah makan padang Bu Mus di Buah Batu, ini rumah makan padang recomended banget untuk dicoba, masakannya variatif, saya saja makan Ikan Tenggiri masak Tauco, maknyus pisan rasane.

Ending tulisan ini berupa perjalanan pulang dari Bandung ke Bogor dengan kondisi tol Cipularang yang padat lancar…
Next week we’ll go to Singapore.

Iklan
Categories: Travel Note | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: