Day 1, Goes to Singapore

ChangiAlarm berbunyi jam3 pagi, kami langsung terbangun untuk bergegas mengejar bus damri ke bandara.  Berangkat dengan damri jam 4.30, terpaksa shalat subuh di dalam bus.  Kami berempat penuh semangat karena ini perjalanan perdana kami keluar negeri.  Ternyata selama perjalanan Bogor ke bandara berjalan lancar, jam 5.45 pagi sudah sampai di bandara , biasanya perjalanan Bogor bandara ini memakan waktu 2 jam, karena tidak macet 1 jam saja tembus.  Penerbangan internasional di terminal 2d.  Melihat masih pagi sedangkan penerbangan jam 8, kami makan pagi dulu di Hoka Hoka Bento lantai dasar terminal 2d.  Setelah makan kami langsung check in di counter Lion air, untuk bagasi hanya 1 koper dan 1 ransel saja.  Setelah urusan bagasi, kami langsung ke pintu terminal yg dituju, sebelumnya harus melewati check imigrasi yang stylenya agak jaim dan kurang ramah.  Paspor kami baru jadinya kemaren, tertanggal  5 Agustus 2014 dan berlaku 5 tahun,  setelah paspor ditangan langsung kemaren beli tiket Singapore Jakarta untuk pulangnya di counter Lion Air Bogor.

Dengan sabar kami menunggu diruang tunggu, yang ditunggunya ternyata menginformasikan delay 1 jam, kebetulan kami sudah menyadari bukan Lion kalau tidak ngaret.  Setelah ngaret sejam panggilan untuk masuk pesawat pun terdengar.  Sebelum masuk pesawat kami sempat foto bareng dengan Ita Purnamasari, kebetulan dia mau ke Singapore juga saat itu.  Setelah 1,5 jam mengudara sampai juga di Changi Airport Singapore.  Kesan pertama tidak menarik hati karena bentuk gedungnya biasa saja kotak kotak, tidak seperti di Indonesia yang umum bandaranya berbentuk rumah adat, tradisional style.  Setelah turun dari pesawat dengan menggunakan belalai gate baru deh kami mulai berdecak kagum.

Lion landing di terminal 3, ini bandara di dominasi karpet yang terawat baik, terasa legaaa banget, berfoto dengan Salma pun dilakukan dengan berbagai gaya.  Gate imigrasinya rapih sekali dgn petugas yang ramah.  Untuk ke hotel kami sudah merencanakan dengan MRT, sebenarnya teman di Bogor sudah menyuruh gunakan taxi, ummi juga sudah terprovokasi untuk gunakan taxi, tapi yang namanya mental backpacker apabila ada transportasi yang lebih murah tentunya akan dilakonin yang lebih murah.  MRT di gedung terminal 2, jadi harus menggunakan SkyTrain kesananya, SkyTrain ada di lantai 2, banyak penunjuk arah di Changi sehingga tidak mungkin tersesat disana.  Setelah naik SkyTrain selanjutnya hunting kartu EzLink, cari terminal MRT cukup ikuti arah Train To City.  Kami tidak beli Singapore Touris Pass target kami EzLink agar kalau kembali lagi jalan jalan ke Singapore nich kartu masih bermanfaat umurnya 5 tahun.  Kami beli EzLink 4 plus pulsa tambahan 15 SGD, jadi modal 95 SGD.

Alhamdulillah ngerasain juga MRT Singapore.  Hidup ini lama diisi dengan pahit getirnya naik Commuter Line Bogor Jakarta, sekalinya naik MRT Singapore hidup ini terasa semangat kembali.  Kapan Indonesia punya seperti ini?  Bersih, mudah, nggak pernah ngaret dll.  Biarpun kami tourist, naik MRT tidak membingungkan, sangat mudah, cepat sampai dan nyaman.  Target kami selanjutnya terminal MRT Bras Basah, mentang mentang namanya Bras Basah stasiun ini atapnya selalu basah.  Hotel Victoria yang kami booking dengan www.booking.com lokasinya dekat Bras Basah.  Pengalaman MRT pertama kami Changi – Tanah Merah – Paya Lebar – Bras Basah.  Kalau lihat di peta antara stasiun Bras Basah ke Hotel Victoria tidak jauh, awal dijalani terasa cukup jauh sambil jinjing ransel dan dorong dorong koper, selidik punya selidik ternyata awal kedatangan kami agak salah jalan, kita ambil Queens St sehingga jalan memutar kalau ke Victoria St, mungkin kita terlalu keasyikan berfoto foto Singapore Art Museum.  Sampai juga di Hotel Victoria, posisinya di Victoria St samping hotel Grand Pasific.  Ini hotel ok bangeet untuk sekelas budget hotel, di bawah ada 7 Eleven, di depan ada halte Bus dan pertokoan Bras Basah Complex.

Kami pesan 1 kamar family untuk 3 malam, kamar family bisa untuk 3 dewasa dan 1 anak, tidak ada breakfast, kamarnya besar 1 bed king size, 1 bed yang medium, kulkas, pemanas air dan hair dryer ada, jadi cucoklah untuk kami berempat.  Jendala kamar menghadap ke jalan, jadi kami dapat melihat kehidupan Singapore tiap jamnya.  Setelah menikmati beberapa menit di hotel, saya langsung menginstruksikan lagi untuk jalan karena sesuai inaterary yang telah dibuat, sore ini target kami foto di Merlion, jadwal perfotoan kami sangat padat.  Alia sempat protes karena ingin bersantai santai lebih lama di hotel, dengan tegas saya katakan tidak bisa.  Sekali lagi, jadwal berfoto sangat padat.

MBSBerhubung malas menggunakan MRT kami coba gunakan bus dengan target Raffles Place, apa daya bus yang kami tumpangi setelah Bras Basah Rd berbelok ke utara, terpaksa kami turun di halte Suntec Mall, depan Suntec Mall cukup baik untuk selfie karena dindingnya penuh layar tv.  Dari Suntec kami nyebrang ke War Memorial Park atau tunggu sumpit karena bentuknya kaya sumpit.  Mata jelalatan cari cari mana si Merlion ditambah kaki sudah cape banget, setelah melewati War Memorial Park kearah Selatan terlihat itu yang namanya MBS / Marina Bay Sands, bentuknya kaya perahu semetris di ketinggian.  Gedung duren atau Esplanade terlihat diseberang, seperti ritual biasa langsung pasang aksi di foto dengan latar belakang gedung gedung artistik tsb.  Kami nyebrang jalan kearah Rafles Ave, mata masih jelalatan cari cari Merlion, nggak tau insting backpacker yang ok, kami coba terobos  cafe cafe di Makansutra, ternyata setelah menerobos tuh tempat makan terlihat Marlion di Barat Daya, jembatan Helix di Timur, MBS di Tenggara.  Alhamdulillah ya Allah kami sekeluarga bisa lihat langsung suasana dan menjajakan kaki di seputaran Merlion.  Saya infokan ke ummi itu yang dibelakang Merlion ada The Fullerton Hotel, issuenya itu hotel termahal di Singapore, kalau tidak percaya coba saja nginap disana.

MerlionRitual selfie dilakukan dengan latar belakang Merlion dan sekitarnya.  Banyak orang orang yang lari sore, dominan bule bule.  Berhubung kaki sedang cape jadi kami tidak ikut lari sore, kami rehat dulu dengan duduk duduk di Marina Promenade, sambil lihat dari kejauhan Merlion yang dikerebutin orang untuk selfie.  Dengan semangat yang masih tersisa kita dekati Merlion, saat dipinggir jalan,  jembatan Esplanade Drive kami beli uncle ice cream 1.2 SGD, ada rasa durian, taro, sweet corn dll, sangat mendinginkan hati yg sedang panas karena hawa yang panas saat itu.  Makan ice cream sambil jalan membuat sensasi tersendiri karena nggak orang Jepang, Cina, Indonesia, Perancis dll semua seperti itu kelakuannya.  Sampai di Marlion kita berdesak desakan untuk berselfie ria, sama seperti tadi, tidak orang Jepang, Cina, Perancis, Indonesia dll semua sama kelakuannya saling berlomba berselfie ria dengan Marlion.  Salma seperti biasa melakukan style minum air dan berkeramas, sedangkan saya stylenya jaim.  Sangat ramai saat itu, ada dari Jepang, Cina, Prancis, Inggris, Rusia, dll.

Mendekati magrib kami melanjutkan perjalanan lagi dengan tujuan Bugis Junction.  Awalnya mau naik bus, karena sore pas jam pulang kantor, bus penuh akhirnya diputuskan untuk cari MRT terdekat.  Naik MRT dari Stasiun Raffles Place turun di Stasiun Bugis, stasiun MRT Bugis ada di floor Bugis Juction, jadi langsung ke mall, rencana awal ke Bugis Juction memang cari makan, jadi putar putar dech kami cari makan, tentunya cari yang halal, akhirnya ketemu masakan padang di lantai 3, padang melayu, ada cap halalnya, harganya juga terpangpang .   Dibagi 2 kelompok, ummi & Salma pesan makan, saya & Alia cari meja bangku, setelah saya dapat bangku saya perhatikan ternyata sama seperti di bandara, rata rata petugas cleaning service di Singapore adalah manula, nggak tega juga liatnya karena kalau di Indonesia pasti sudah dipensiunkan.  Saya coba pesan juice yang 1.1 SGD, nah disini saya pertama dapat uang koin Singapore.  Makanan padang pun kami lahap, tetapi saat akan selesai menyantap malam tsb, ummi tersadar kenapa mahal sekali makan disana, habis sekitar 39 SGD kalau dirupiahkan skitar 400rb rp, sedangkan yang dimakan hanya nasi goreng 1, soto ayam 1 dan 2 nasi padang yang lauknya udang, telor ceplok dan sayur.  Namanya ibu ibu tentu tidak terima dengan harga yang ada, setelah selesai makan ummi kembali lagi resto padang tadi untuk klarifikasi masalah harga, ternyata penyebab mahalnya ada di nasi padang, karena standardnya kalau mau murah makan nasi padang hanya dengan lauk telor ceplok saja, kalau tambah udang tambah 5 SGD kalau tambah sayur tambah 5 SGD, jadi saja nasi padang yang kita makan tadi seharga 15 SGD, mantapkan makan nasi padang 150rb rp, sedangkan hari hari makan nasi padang di Saiyo jalan Sabang saja dengan lauk ayam, tempe dan sayur cuma 18ribu rp saja.

Setelah beres makan kami lanjut ke hotel dengan bus, nah saat depan Bugis Junction ini kami baru tahu kalau naik bus di Singapore itu harus lewat pintu depan, pintu tengah hanya untuk turun.  Sempat kita ditegur sama supir bus karena naik dari pintu tengah, tapi karena dia tahu kita tourist baik baik akhirnya malah ngajak ngobrol.

Iklan
Categories: Travel Note | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: