Kota Minyak

Rig Minyak di Hutan Jati Cepu

Rig Minyak di Hutan Jati Cepu

Semua berawal dari catering. Tidak ada angin tidak ada petir, general manager di kantor meminta saya untuk melakukan pengechekan catering di daerah Cepu. Geologist gaek gini disuruh check catering, ya ampun nggak salah bos. Tapi namanya juga born to be traveller, jiwa jalan jalannya mengalahkan ke profesionalan yang ada didalam dadaku. Tanpa ragu I said β€œYes boss”.Β  Sebenarnya saya agak tersinggung juga sama bos satu itu, apa karena saya sekarang gemuk jadi dipercaya untuk check makanan. πŸ˜€

Itinerary ke Cepu sangat singkat, berangkat dengan kereta Sembrani eksekutif malam dari gambir pukul 19.26 hari Selasa tanggal 16 September 2014, pulangnya dengan kereta Sembrani yang sama pukul 20.25 dari Cepu hari Rabu tanggal 17 September 2014. Ini yang namanya perjalanan PP.

Perjalanan dimulai dengan CTM atau cetak tiket mandiri di Gambir, tinggal masukkan kode booking bill pembelian tiket di Indomaret. Tercetak 3 tiket, karena berangkat bersama 2 rekan kerja, 1 pak dokter yang satunya lagi camp manager. Cafe Stasiun Gambir jadi titik berkumpul awal, sambil menunggu jam keberangkatan, tak lupa kami pesan nasi rawon agar perut tidak masuk angin kereta.

Kereta datang, langsung duduk sesuai nomor bangku tiket. Tidak banyak aktifitas yang dilakukan dalam kereta, selain tidur bangun tidur lagi bangun lagi. Cuek saja masih pakai kemeja kantoran tidur dalam kereta Sembrani yang penampilanan interiornya sudah termakan usia, belum mandi juga sich.

Sampai di stasiun Cepu jam 4 pagi, agak mundur 1 jam dari jadwal perkiraan kedatangan. Team penjemput, pak Budi & rekannya sudah menunggu di stasiun. Kami langsung dievakuasi ke hotel Bintang Mega Jaya Cepu. Hotelnya diresmikan tahun 2004 sehingga interiornya juga produk 1 dekade yang lalu. Hotelnya besar, tapi saat masuk ke kamar, saya kebagian kamar yang tidak berjendela tetapi berpintu jati yang tidak dapat terbuka. Model kamarnya seperti jaman kerajaan jawa dahulu kala, yang membedakan hanya TV dan peralatan elektronik saja.

Ritual mandi pagi dilakukan menghilangkan kotoran tubuh yang sudah 24 jam tidak tersentuh sabun mandi. Setelah mandi saya memakai kaos traveller agar jiwa traveller membara. Sehabis shalat subuh saya keluar hotel untuk melakukan pengembaraan short time di kota minyak ini. Diawali dengan foto tugu kota minyak depan di depan hotel. Dilanjut jalan pagi kearah simpang menuju Blora, tepatnya seputaran taman Aryo Jipang.

Banyak becak sudah berlalu lalang antar dan cari penumpang. Becaknya cukup unik karena menggunakan mesin pompa Robin, yang selalu saya pakai sebagai pompa suplai saat melakukan pemboran eksplorasi batubara tempo dulu. Melihat waktu masih ada 3 jam lagi untuk sampai ke meeting pagi, saya langsung bernegosiasi dengan tukang becak yang sedang mencari penumpang. Seorang bapak tua yang saya tidak ingat namanya. Saya request untuk putar Cepu dengan tujuan lihat gedung Akamigas Cepu.

Transaksi deal, becak pun langsung tancap gas. Pagi itu cukup membuat jantung berdetak cepat beberapa menit, karena becak yang saya tumpangi, serempetan atau senggolan dengan mobil Avanza silver, becak oleng ke kiri, bapak tua mencoba menetralkan olengan tersebut, tidak taunya di depan ada ibu tua berkostum javanese traditional clothing sedang berjalan. β€œPak pak pak awas depan ibu ibu”, dengan lincahnya bapak tua menghindari ibu tua yang nyaris tertabrak. Bapak tua ini style mengendarai becaknya kaya geng motor, habis nyenggol mobil langsung tancap gas cuex, masuk dikeramaian pasar, sehingga mobil avanza tadi tak sanggup mengejarnya. Suasana kejar kejarannya mirip film nya James Bond.

Setelah dari Akamigas Cepu, saya melihat patung GPH Djatikoesoemo berdiri tegap. Pahlawan ini Jenderal pasukan Ronggolawe yang mengalahkan para pelarian PKI dari Madiun tempo dulu.

Siangnya kami ke arah Blora untuk melakukan pengechekan yang dimandatkan kantor. Kontraktor catering & camp service yang kami check ternyata mengajak kami untuk satu lokasi pemboran minyak disana. Wearpack, sepatu safety, & kaca mata hitam kami pakai karena standard berpakaian di lokasi pemboran minyak, seperti film Armageddon Indonesia bro.

Ngobrol dengan master bornya, yang ternyata kelahirannya sama dengan saya di Pekanbaru. Ternyata ini bukan sumur eksplorasi tapi sumur development. Cepu itu kecamatan, dengan kabupatennya Blora. Geologi daerah Cepu dan sekitarnya, agak saya pahami, mengingat 19 tahun yang lalu saya melakukan pemetaan geologi di daerah Ngampel Blora, untuk thesis akhir jurusan Geologi yang saya pelajari. Pernah tarik tarik meteran untuk membuat penampang stratigrafi diatas singkapan Formasi Ngrayong yang didominasi batupasir kuarsa. Pernah juga ketemu ular cobra setelah deskripsi dan ketok ketok palu geologi di singkapan formasi Ngrayong, untung saja saya sigap dengan gaya tarian India menghindari kiss annya si cobra. Pernah juga loncat loncat diatas batugamping bioklastik Formasi Bulu. Formasi Bulu areanya sudah masuk ke kabupaten Rembang, diatas Formasi Bulu ini ada makam RA Kartini, pahlawan emansipasi wanita Indonesia.

Sebelum kembali ke stasiun Cepu, saya diajak makan sama bule bule Inggris, bos kontraktor catering yang kami check. Kebetulan bule bule tsb ingin mencoba sate Blora, dengan senang hati saya ikut bergabung untuk mencicipi sate Blora tsb, disore hari dengan lokasi warung yang sama, yang pernah saya singgahi 19 tahun yang lalu.

Note ini diakhiri jam 20.25 karena saya sudah naik kereta Sembrani untuk kembali ke Jakarta. See u kota minyak.

Iklan
Categories: Travel Note | Tag: , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: