Mahameru

SemeruGenap sudah 25 tahun yang lalu saya melakukan perjalanan ke Mahameru, perjalanan yang sangat sulit dihapus dari ingatan di kepala. Pengalaman dari perjalanan, pendakian dan pemandangannya sangat sulit terhapus, terbukti hari ini saya masih sanggup menulis sedikit cerita perjalanan ke Mahameru ¼ abad yang lalu. Teringat keindahan Ranu Kembolo, danau eksostis diketinggian, saat itu ada pondok pendaki disana. Sekarang tidak tahu apakah masih ada atau tidak pondok itu. Ranu Kembolo saat itu hanya ada saya dan Eka sohib di SMANSA Bogor. Perjalanan bukan disaat liburan sekolah jadi suasana sepi pendaki. Masih teringat malam di Ranu Kembolo suara asmanya Eka sangat terdengar membelah keheningan Ranu Kembolo. Agak khawatir naik gunung sama teman yang punya asma, tapi tekad teman satu itu sangat kuat. Iya mau menunjukan ke dunia bahwa dia sanggup untuk sampai puncak Mahameru, mungkin karena dia sering baca Kho Ping Hoo jadi terinspirasi candra dimuka seorang pendekar salah satunya dengan mendaki gunung gunung tertinggi untuk mencari jati dirinya. Badannya Eka saat itu gemuk sedangkan saya kurus langsing terbukti dari foto foto yang ada. Eka ini jarang naik gunung, sekalinya naik gunung langsung gunung Semeru, mau tidak mau saya harus tetap back up dari belakang agar saya dan dia dapat pulang kerumah dengan selamat. Kita berdua anggota Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Satya Soedirman (SS) yang bermarkas di SMANSA bogor, saya angkatan 10 namanya Pakis Rimba, kalau Eka angkatan 11 namanya Hutan Jalang. Motto SS sampai sekarang saja masih ingat, “Kami memang bukan yang terbaik, tapi kami berusaha menjadi yang lebih baik.”

Diawali dengan naik kereta ekonomi Jakarta Malang, modal pas pasan banget sehingga bisa dibilang duo pendaki kere. Diransel untuk ransum hanya ada beberapa super mie, kalau dulu belum ada indomie. Ransum termahal ada didalam ransel saya, yaitu coklat silver queen pemberian calon istri yang saat ini sudah menjadi umminya anak anak.  Pendakian bukan saat waktu libur sekolah jadi suasana pendakian tidak ramai, dari Malang kita langsung ke Tumpang, cari rumah penduduk untuk menumpang rehat sejenak sambil menunggu angkutan Jeep ke Ranupane. Jeep ke Ranupane jalannya pagi sekali tepatnya sebelum subuh, waktu itu gabung bersama ibu bapak tukang sayur, ada seorang ibu tua yang menawarkan kue kering gula merah plus kacang, namanya saya tidak ingat, pokoknya warnanya merah semerah gula merah. Kita beli untuk nambah perbekalan. Oh ya ban jeepnya dibungkus rantai besi supaya tidak selip. Perjalanan pembuka yang cukup menantang, full offroad, sempit sempitan di jeep bersama ibu bapak petani dan tukang sayur, posisi bukan duduk tapi berdiri semua melihat lembah kiri kanan yang tertutup dikegelapan subuh.

Sampe di Ranupane kami berdua jalan disela perkampungan yang memiliki danau dan berhawa dingin, rehat sejenak, lapor ke pos jaga, langsung perjalanan dilanjut. Sepanjang perjalanan kita berdua ngomongin hal hal yang nggak penting, agar dapat melupakan cape kaki karena kelamaan jalan dan cape punggung karena kelamaan manggul ransel. Sampe di Ranu Kembolo kita putuskan untuk bermalam, mengingat badan sudah cape selama perjalanan Bogor – Ranu Kembolo, kita merasa saat itu tidur di hotel bintang 5 yang sangat privacy. Gimana tidak dibilang bintang 5, suasananya ditengah keindahan, kesejukan dan keheningan danau Ranu Kembolo, dimana saat itu hanya untuk saya dan Eka saja yang menginap. Setelah masak nasi bermenu supermie kita langsung bersembunyi dalam sleeping bag masing masing, dingin banget kalau malam. Suara asma Eka membelah keheningan malam, mengalahkan suara jangkrik atau serangga malam di Ranu Kembolo. Disini saya berpikir persahabatan akan di uji karena fisik kami berbeda, tapi tantangan itu tidak saya khawatirkan karena dengan kesabaran semua akan terlewati hingga ke puncak Mahameru maupun Everest.

Pagi badan sudah fit kembali, bergegas pendakian dilanjut kembali, dimulai dengan pemanasan di Tanjakan Cinta, dihibur dengan hamparan sabana rumput luas Oro oro Ombo yang dipenuhi dengan bunga berwarna hijau kekuningan dan ungu, ini yang namanya keindahan sabana puluhan hektar dengan background morfologi perbukitan tentunya akan mengingatkan kembali atas kebesaran sang Pencipta.

Perjalanan disambut dengan keheningan hutan cemara Cemoro Kandang, lalu bertemu kembali dengan sabana rumput Kalimati, salah satu foto yang ditampilkan pada lokasi  Kalimati ¼ abad yang lalu. Kami bermalam di Arcopodo untuk rehat dan mengumpulkan tenaga untuk summit attack besok subuh.

Sebelum subuh kami melewati Cemoro Tunggal yang masih kokoh saat itu, irama pendakian 2 langkah naik 1 langkah turun dikarenakan lereng berpasir. Langkah pendakian kami saat itu selalu ditemani cahaya sang fajar. Berdua kami saling beri semangat dan harapan agar kaki dapat berdiri di atas Mahameru. Alhamdulillah kami berdua selamat sampai puncak, hilang sesaat rasa lelah yang ada. Eka tampak bahagia walaupun memiliki asma dapat juga mencapai puncak tertinggi di pulau Jawa, puncak Mahameru adalah puncak gunung Semeru dengan ketinggian 3676m dpl. Saat kami di Mahameru kawah Jonggring Saloko sedang tidak mengeluarkan asap tebalnya, dimana moment tersebut adalah moment foto terfavorit para pendaki tempo dulu.

Kalau naik biasanya kami terdiam karena kehabisan nafas, tapi kalau turun gunung kami biasa bahagia karena misi ke puncak sudah beres ditambah lagi seperti masa kecil kurang bahagia, didominasi acara bermain perosotan, tetapi jangan terlalu happy harus tetap waspada kalau melangkah digunung.

Sesampainya lagi di Ranu Pane, Eka punya usul untuk lihat Bromo, berhubung keuangan terbatas maka opsi berjalan kakipun diambil, perkiraan 4-5 jam berjalan di padang pasir kaldera Tengger. Perjalanan kami lanjut, suasana seperti berjalan di tengah padang pasir gurun sahara, teriknya matahari kami abaikan, kami lihat gunung Bromo yang tampak gagah disamping kiri saat kami berjalan, sedangkan kami tampak gagah berjalan karena terpaksa, maklum tidak punya modal untuk sewa jeep. Perjalanan kaki kami diakhiri di Cemoro Lawang, desa pariwisata kaldera Tengger, seingat saya tempo dulu saja di Cemoro Lawang sudah banyak penginapan dan tukang kuda yang sedang mencari pelanggan, tentunya kalau sekarang desa ini lebih ramai dan berkembang lagi.

Demikian kisah perjalanan ke Mahameru ¼ abad yang lalu.

Iklan
Categories: Travel Note | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: