Muara Teweh

Muara Teweh, Sep 2014Mungkin banyak yang belum tahu Muara Teweh itu dimana? Muara Teweh adalah ibukota Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah. Kesampaian daerah cukup jauh, kalau menggunakan kendaraan± 7 jam dari Palangkaraya atau ±9 jam dari Banjarmasin, sedangkan kalau pakai pesawat (Susie Air) hanya ±45-60 menit dari Banjarmasin, Palangkaraya dan Balikpapan. Pesawat Susie Air yang terbang ke Muara Teweh ini hanya berpenumpang 12 orang sama pilot dan ko pilot jadi 14 orang. Bandara di Muara Teweh namanya Beringin. Jalur Susie biasanya dari Sepinggan (Balikpapan) – Beringin – Samsudin Noor (Banjarmasin) – Beringin – Sepinggan, pilotnya umumnya expart muda dari berbagai negara. Kotanya persis di samping Sungai Barito, kalau menggunakan kendaraan sebelum masuk ke kota Muara Teweh akan melewati jembatan Hasan Basri yang melintasi sungai Barito. Kota tanpak asri tentunya tidak sehiruk pikuk Jakarta. Di tengah kotanya unik ada monumen belah duren yang cukup besar.

Urusan kuliner warung bakaran ma Haji yg dekat pasar sangat saya rekomendasikan, menu didominasi ikan sungai yang segar, ditemani sayur bening dan sambal yang maknyus. Untuk penginapan saya pernah tidur di hotel Pasific pinggir sungai Barito. Pernah di bulan Oktober 2013 saya masuk ke hotel Pasific malam, kondisi hujan saat itu. Besok pagi saat bangun depan hotel sudah kaya di Venisia, banjir bro, terpaksa lipat celana, panggil perahu kecil untuk nyebarang ke dermaga, seperti di Venisia pisan. Saat banjir yang paling bahagia kalau saya lihat adalah anak anak, mereka sangat happy ada swimming pool gede banget depan rumah, kalau para ortu saya lihat banyak yang cemberut. Kalau di Pasific hotel ada rumah makan juga di depannya, jadi kalau mau pesan makanan jadi mudah. Pernah saya tidur di JnB Hotel, ini hotel baru jadi tempat tidur dan perabotannya juga baru. Kalau bed nya mengingatkan saya ke hotel El Cavano Bandung, agak lebar dari twin bisa menjadi quarter.

Bulan September yang lalu saya kena delay pesawat Susie dari Beringin, seharusnya terbang jam 11 berubah menjadi jam 4 sore, tidak jelas penyebabnya apa, yang jelas cuaca tampak berawan karena banyaknya kebakaran hutan, tapi jarak pandang masih ok saja tapi langit seperti di eropa, mataharinya agak kehalang asap.

Saat menanti pesawat datang saya duduk sendiri depan bandara Beringin, ditemani sebatang malboro dan sebotol aqua 600ml. Tiba tiba ada 2 orang yang ikut duduk sebelah saya, satu dari India yang satunya lagi dari Badung. Terjadilah percakapan diantara mereka dengan menggunakan bahasa English, karena kurang kerjaan saya ikut nguping. Awalnya mereka mendiskusikan mobil rental, selanjutnya diskusi masalah harga batubara. Waduh ternyata bos bara juga yach. Si India menginfokan harga kurang happy dan tidak jelas sampai kapan. Si orang Bandung itu ternyata coal geologist, lalu di curhat karena sekarang batubara tidak prospek, dia mulai menjalankan bisnis beras yang dijalankan didepan rumahnya di Bandung. Bisnis rental mobil yang dia jalankan kurang prospek, uang hanya untuk bayar cicilan sedangkan untuk bayar service/perawatan tidak bisa.

Waduh kalau si coal geologist ini tahu saya coal geologist juga mungkin dia tidak akan cerita saat itu. Makanya saya pura pura cuex tapi pasang telinga juga. Sangat terunyuh juga dari predikat coal geologist berubah jadi tukang beras akibat imbas menurunnya harga batubara saat ini. Lalu dia curhat lagi kalau di geologi itu tidak seperti ilmu yang lain, kalau punya pengalaman puluhan tahun di batubara, trus dia pindah ke bidang lain seperti minyak, pengalamannya dianggap nothing. Ingin pindah ke mineral, disektor pertambangan mineral pun lagi terhantam krisis harga maupun pelarangan karena harus buat smelter. Jadi opsi wirausaha di jalankan. Orang India sangat care, mendengarkan dengan seksama lalu memberi tanggapan yang cukup menghibur, dia bilang banyak rekan rekan nya di India akan invest di Indonesia untuk kegiatan pertambangan batubara karena negara mereka masih kekurangan supply. Waduh pemerintah kalah nich sama nich India, dia bisa kasih harapan yang baik bagi coal geologist yang sedang galau karena hantaman badai harga yang turun terus. Semoga nich India dapat pahala, dan rekan rekannya dapat segera datang untuk cari lokasi tambang batubara di Indonesia sehingga kegiatan eksplorasi dapat aktif kembali.

Susie air is coming… Jadi kepikiran, wirausaha apa yach saya kedepannya?

Iklan
Categories: Story, Travel Note | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: