Danau Batur

Gunung BaturSpeechless mungkin itu satu kata yang bisa saya tulis dalam hati atau pikiran saat kunjungan ke Danau Batur awal November tahun ini. Semoga tulisan ini dibaca pak Arief Yahya menteri Pariwisata sekarang. Gimana nggak speechless, sudah lebih dari satu bulan berdiri di commuter line sambil browsing mempelajari mengenai Geopark. Dari browsing saya baru tahu geopark adalah wilayah yang didefinisikan sebagai kawasan lindung berskala nasional yang mengandung sejumlah situs warisan geologi penting yang memiliki daya tarik keindahan dan kelangkaan tertentu yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari konsep integrasi konservasi, pendidikan, dan pengembangan ekonomi lokal (UNESCO 2006).

Ada yang namanya geopark anggota GGN (Global Geopark Network), ini organisasi yang diprakarsai UNESCO dari tahun 2004 bertujuan melindungi warisan geologi dunia. Awalnya ide geopark ini dari Eropa sana, dimana tahun 2001 organisasi non pemerintah membentuk EGN (Europe Geopark Network) guna melindungi warisan geologi yang ada di Eropa sana.
Jumlah geopark yang diakui UNESCO / GGN seluruh dunia konon ada 90 tempat. 27 diantaranya berada di China. Geopark nasional China konon ada 129 lokasi, 27 diantaranya masuk kedalam global geopark network. Kalau di kawasan Asia Tenggara, geopark baru dimiliki Malaysia (Lengkawi Geopark), Vietnam (Dong Van Karst Geopark) dan Indonesia (Batur Global Geopark).

Ingin rasanya mendatangi semua geopark yang ada, tapi namanya orang hidup pasti ada keterbatasan, terutama kantongnya. Ada rencana untuk mendatangi yang dekat dekat dulu seperti Lengkawi, Dong Van Karst, Hongkong Global Geopark & Jeju di Korea. Jeju mungkin yang terunik karena film korea banyak syuting di pulau Jeju ini.

Tragedi yang sangat memilukan belum lama ini terjadi berupa tenggelamnya kapal very di Korea Selatan yang mengangkut anak anak SMP saat akan berwisata ke pulau Jeju.

Tentunya sebelum singgah kesemua daerah tersebut saya harus terlebih dahulu berkunjung ke geopark yang ada di Indonesia. Pas ada kesempatan ke Bali, mau nggak mau saya wajib ke kawasan Kaldera Gunung Batur di Kintamani. Malam Sabtu tanggal 31 Oktober kami sekeluarga minus Salma ditraktir makan di Bebek Tepi Sawah di Kuta sama teman sebangku SMA dulu. Arief Hartono namanya, dia sekarang sudah menjadi orang nomor 1 di Bukopin area Bali. Malam itu Arief menanyakan besok mau kemana? Saya jawab mau ke Danau Batur. Dia seperti kurang setuju, cuma menasehati kalau nyebrang ke Terunyan mesti hati hati, khawatir dikerjai tukang perahunya. Saya cuex aja nanggapinya, yang penting besok harus ke Kintamani.

Tanggal 1 November, kami langsung ke Kintamani bermodalkan mobil pinjaman dari Arief. Dijalan driver menginformasikan kalau di Kintamani, kalau ada pedagang yang menawarkan dagangannya jangan ditanya tanya. Kalau kita nanya akan dikejar mereka terus agar jadi membeli barang yang ditanyakan, kesimpulannya sedikit memaksa.

Sampai di Kintamani, turun dari mobil langsung kami ke lokasi view point untuk lihat danau & gunung Batur. Pedagang banyak yang menawari dagangannya, berhubung sudah di wanti wanti driver kami pun tak berani nanya nanya.

Danau BaturPemandangan cukup elok dimata, tapi udaranya kurang sejuk mungkin karena siang kami sampai sananya. Lokasi view point seperti tidak terurus, papan informasi terlihat banyak debu. Pegangan tangga untuk turun naik ke view point tampak rusak dan berkarat. Tidak bersih masih tampak sampah di beberapa sudut, maklum banyak yang dagang. Para pedagang tidak terlalu diatur sehingga sebagian terkesan memaksa. Diotak saya menyimpulkan management pariwisata daerah ini agak kurang.

Umumnya geopark itu dilengkapi museum, kami ke museum vulkanologi yang ada disana, tampak sedang dilakukan penambahan bangunan, sehingga suasana sedang membangunan terasa. Kami memasuki museum yang existing. Di museum itu baru saya memahami batuan ignimbrite. Ternyata batuan yang dibuat patung oleh seniman di Ubud itu ignimbrite dari gunung Batur. Museum cukup luas, tapi untuk perawatannya agak kurang. Standard penilaian saya kalau perawatannya baik tentunya kondisi toilet sangat rapih dan tidak bau.

Setelah puas putar museum, kami bergegas pulang ke Kuta. Sepanjang jalan pulang saya tidak terlalu banyak berbicara dikarenakan ada rasa yang kurang puas terhadap management pariwisata di Danau Batur ini. Ditambah lagi ada kejadian yang cukup memalukan, yaitu kami pulang pergi ke Kintamani selalu kena tilang oleh polisi setempat. Hari Sabtu dimana orang akan berwisata, malah ada razia, piye ike malu dong dilihat turis manca negara.

Menutupi kekesalan ini akhirnya kami makan diwarung SS (Spesial Sambal) di Batubulan, Gianyar, kami berharap dengan memanaskan lidah dengan sambal teri, rasa kecewa tadi dapat hilang dengan sendirinya.

Setelah makan siang yang kesiangan di warung SS, perjalanan dilanjut ke Kresna tempat oleh oleh Bali, mulai dari Baju hingga Kacang Bali komplit dijual disana. Puas belanja di Kresna kami lanjut lagi ke Joger Bali, untuk cari oleh oleh tambahan di kios seberang Joger, beli kue pie susu, konon disini tempat pie susu yang paling top markotop. Karena waktu Ashar sudah mau habis, saya sibuk cari mesjid di seputaran Joger, terpaksa masuk keluar gang untuk menemukan Mesjid.

Shalat sudah, kue pie susu juga sudah dapat, perjalanan 1 November ini diakhiri dengan berenang bersama my little angel Layalia di hotel Sun Island Kuta…..

Iklan
Categories: Profesionalism, Travel Note | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: