Keretaapi Tanah Melayu

Brickfield

Brickfield KL

Keretaapi Tanah Melayu disingkat KTM, commuternya warga Malaysia.  Sehubungan saya anggota AnKer/Roker Anak Kereta/Rombongan Kereta sejak tahun 1997, catat ini bukan berarti ada apa diBalik 97 yach.  Tentunya naik KTM ini adalah hukumnya wajib.  Saat ide untuk jalan ke Kuala Lumpur saya gelontorkan sempat seisi rumah menanyakan ngapain ke KL, kan tidak jauh beda dengan ke Jakarta?  Saya jawab untuk wisata naik monorel, LRT, KTM komuter dan KLIA express, serta lihat ke KL Sentral, agar kedepannya tidak bosan hari hari lihat Manggarai.

Minggu pagi tanggal 28 Desember 2014 yang lalu, kami dari Katong Singapore berangkat ke Kuala Lumpur dengan bus KKKL express, perjalanan via Tuas checkpoint Singapore dilanjut checkpoint Sultan Abu Bakar di Malaysia, second link Malaysia – Singapore.  Setelah masuk ke Malaysia kehidupan kami berubah kembali karena wifi di dalam bus sudah dapat digunakan, gimana tidak mumet sudah 3 hari di Singapore tanpa koneksi internet, hotel tidak menyediakan free wifi, internet harus bayar, sehingga kami putuskan untuk puasa internet selama 3 hari.

Sepanjang perjalanan menuju ke Kuala Lumpur melalui tol, motor bisa masuk kalau tol di Malaysia, pemandangan umumnya di dominasi perkebunan kelapa sawit, kalau soal panorama masih kalah dengan tol PanCi dimana view hijaunya sawah diantara perbukitan masih dapat kita lihat.

Setelah terhubung internet saya whatapp an dengan abang di Bogor untuk kasih info keberadaan kami, upload beberapa foto di facebook, dilanjut buka detik com untuk update berita terbaru.

Saat di rest area, sempat kejadian tas kk tertinggal di toilet, sedangkan bus sudah mau jalan kembali, tetapi seijin supir bus yang mukanya sudah mulai bt, kk berlari kencang untuk mengambil tasnya, syukur tasnya masih ada tidak hilang sesuatu apapun.  Karena tidak sempat makan siang, saya beli bakpau Malaysia untuk ganjal ganjal perut, tapi sayang tidak ada yang doyan.

Dekat Kuala Lumpur jalan mulai padat merayap, kurang lebih jam 3 sore kami sampai di Kuala Lumpur, turun di depan Berjaya Times Square, kebetulan dekat stasiun monorel Imbi.  Tujuan kami selanjutnya adalah KL Sentral karena hotel yang saya pesan via booking com berlokasi dekat KL Sentral.

KL Sentral, indoor bro...

KL Sentral, indoor bro…

Seret koper gendong ransel, kami ke stasiun Imbi untuk naik monorel ke KL Sentral.  Kesan pertama naik monorel seperti naik kereta di Taman Mini Indonesia Indah, karena hanya dua gerbong dan tidak lebar, jalannya pun tidak terlalu cepat.   Tetapi enaknya monorel kita masih bisa melihat pemandangan kota Kuala Lumpur, karena rel nya diatas jalan.  Berbeda dengan pemandangan MRT di Singapore umumnya selalu gelap karena jalur serba underground.

KL Sentral ada mal nya juga, namanya NU Sentral, karena dari pagi belum makan, akhirnya kami mampir di Caffe Planet untuk makan pagi siang yang kesorean.  Saya & ummi pesan nasi lemak, kk pesan chicken black pepper,  ade pesan fettucini.  Sempat kaget juga ternyata potongan ayam di Malaysia ternyata ukurannya lebih besar dibandingkan di Indonesia, mungkin ayam-ayam di Malaysia pada lebih banyak makannya.

Setelah makan, seret koper gendong ransel lagi, cari hotel Metro di seberang KL Sentral, tempatnya Jalan Thambypillai, Brickfields KL.  Lokasinya antara My Hotel dan New Winner Hotel, tepatnya disebelah Husen Cafe yang hari hari jual ayam goreng.

Malam kami istrirahat total karena kecapean seharian di bus, ade sama kk di kamar sebelah, pada panik karena wifi di Metro Hotel gratis.  Seperti biasa pada asyik dengan gadgetnya masing masing.  Kalau saya, malam keluar cari pop mienya Malaysia dan ayam goreng Husen Cafe untuk digadoin di kamar, enak juga ayam Husen Cafe.

Petronas Tower

Petronas Tower

Pagi, setelah sarapan nasi lemak dari pedagang diseberang hotel, kami beranjak ke Petronas Twin Tower, dari KL Sentral kami gunakan LRT laluan/jalur Kelana Jaya turun di KLCC, saat di KL Sentral kami coba beli koin tiket di mesin penjual tiket, mudah digunakan, ade yang masukan uang dan ambil koinnya.  Koin tidak boleh hilang bisa masalah di stasiun kedatangan, pintu keluar tidak bisa terbuka.  Stasiun KLCC ini terhubung dengan mal Suria KLCC, keluar dari depan mall tengok ke belakang atas, tampak menara Petronas Twin Tower menjulang tinggi.  Walaupun hujan rintik kami tetap ambil foto dengan latar belakang Twin Tower, sayang kalau ke Malaysia tidak foto bareng sama Twin Tower.  Setelah puas foto dengan Twin Tower serta cuci mata sebentar mal Suria KLCC.  Kami lanjut lagi ke Mesjid Jamek, dengan LRT turun di stasiun Mesjid Jamek.

Kalau nanya dimana km 0 nya KL, jawabannya adalah Mesjid Jamek.  Lokasinya dipertemuan Sungai Gombak dan Sungai Klang.  Awalnya KL ini lokasi tambang timah, tambang timah banyak dibuka di lembah Klang, sekarang semua sudah mineclosure, berubah menjadi kota Metropolitan,  mungkin masuk kedalam salah satu kota termodern di Asia.  Terlihat dari sarana transportasi masalnya sudah sangat terintregrasi, sehingga traveller pas pasan seperti kami masih dapat dengan mudah menjelajah setiap sudut kota.

Sultan Abdul Samad Building

Sultan Abdul Samad Building

Hujan tidak kunjung henti, tapi tidak menyurutkan perjalanan kami dari Mesjid Jamek ke Dataran Merdeka.  Infonya orang yang tidak bisa fotografi akan menjadi fotografer profesional kalau di Dataran Merdeka ini, karena background nya itu ciamik tenan brow.  Bisa dibilang Dataran Merdeka adalah alun alunnya KL.  Dengan mudah kita bisa berselfie dengan background gedung Sultan Abdul Samad, Dewan Bandaraya KL, Kementerian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia, serta Dataran Merdeka.  Bagus juga tempat foto prewedding disini, dijamin hasilnya ok banget.

Setelah puas berfoto ria di Dataran Merdeka kami lanjut ke Central Market, dengan LRT turun di stasiun Pasar Seni, Central Market posisinya di seberang stasiun, banyak pernak pernik oleh oleh dijual disini.  Kami putar putar pasar Seni, sambil check check harga.  Dagangan di Kasturi Walk sebelah gedung Central Market pun kami survey.  Setelah puas lihat lihat harga barang, kami lanjut lagi cari jalan Petaling.  Jalan Petaling merupakan Chinatown nya KL, disini banyak juga barang pernak pernik untuk oleh oleh.  Lokasinya tidak jauh dari Central Market, ciri jalannya banyak hiasan lampion, suasana negeri China terasa disini.

Setelah membeli beberapa oleh-oleh kami pulang ke hotel untuk rehat di sore hari, malamnya akan kami lanjutkan lagi jalan Alor seputaran Bukit Bintang untuk dinner.

Malam, kami naik monorel turun di Stasiun Bukit Bintang untuk ke jalan Alor.  Kami terobos samping mal-mal di Bukit Bintang akhirnya sampai juga di jalan Alor,  banyak pedagang makanan, saking banyaknya kami juga binggung mau makan dimana?  Sepertinya banyak juga makanan yang belum lolos sensor halal, sehingga kami hanya lewat kalau ditawari mari makan oleh para penjaja makanan disepanjang jalan.  Diujung jalan Alor kami melihat gerobak Malaysia satay, kami check ternyata halal, kami pesan satu porsi untuk menahan lapar.  Sepiring berempat, tentunya membuat kami mencari kembali lokasi makan yang halal.  Tidak jauh dari tempat semula kami menemukan warung melayu, tentu masakannya standar lidah melayu, kami tuntaskan dinner di warung melayu ini dengan menu ikan kembung rica rica.

Jalan Alor

Jalan Alor

Beranjak pulang dari jalan Alor, kami terobos kembali mal di seputaran Bukit Bintang.  Kami tembus di mal Sungei Wang, cuci mata sebentar didalam mal lalu lanjut pulang ke hotel dengan monorel dari stasiun Bukit Bintang.  Sampai di hotel badan ade agak panas, karena kami kena hujan seharian, terpaksa saya dan ummi tidur di kamarnya anak anak yang berkondisi double bed.  Hik pisah ranjang dech.

Pagi tanggal 30 Desember 2014, Alhamdullilah ade sudah segar kembali, tidak lupa kami breakfast nasi lemak si ibu seberang hotel plus ayam Husen cafe.  Breakfast selesai kami lanjut naik KTM komuter untuk ke Batu Cave, serasa nunggu kereta di gondangdia, bedanya disini kami diinfokan berapa menit lagi kereta datang secara digital dilayar informasi, kalau di Gondangdia harus rajin dengarkan pengumuman dari pengeras suara stasiun sambil melihatke rel kereta, apakah sudah dekat  sudah atau belum.

KTM komuter nya sepi dan rapih, kami duduk leha leha sampai juga di Batu Cave.  Batuan di area Batu Cave adalah batugamping terumbu, dengan morfologi karst yang khas.  Batu Cave ini komplek kuil Hindu, untuk dapat masuk kedalam gua utama, anda harus mendaki sebanyak 272 anak tangga, ayo jangan malas naik ke gua seperti kami.  Kalau kami sich keasyikan foto boneka boneka panda yang ada sebelum tangga masuk.  Kebetulan saat itu ada team dari UNESCO guna aksi/promosi penyelamatan populasi panda.

Batu Cave

Batu Cave

Khawatir antri masuk skybridge menara Petronas, kami segera beranjak kembali ke. Saat hendak pulang dari Batu Cave, tangan kk dan ade dilukis hanna art oleh mbak seniman keturunan India, ciamik juga hasilnya.  Pulang ke KL sentral dengan KTM dilanjut LRT untuk ke KLCC.  Karena serba on time, perjalanan Batu Cave – KLCC lancar jaya.  Sesampai di mal Suria, kami bersegera cari tiket masuk ke skybridge Twin Tower, terlihat antrian orang dilantai bawah.  Oo Em Jii, ternyata tiket habis, sekarang penjualan dibuka untuk tiket 2 hari kedepan, busyet dech besok kan kami pulang ke Bogor.

Gagal naik gedung Petronas, untuk menghilangkan kekecewaan kami makan di resto Nandos mal Suria, rame juga suasana mungkin karena hari kerja saat itu, hari Selasa.  Banyak karyawan karyawati pada makan di Nandos.  Setelah makan kami kembali ke minimarket dekat loket masuk ke gedung Petronas, untuk beli oleh oleh berupa snack.  Ya ampun seukuran satu dus indomie ummi belinya, dengan berat hati saya pikul juga itu kardus, tidak berat sich, tepatnya dijinjing sampai ke hotel.

Rehat sore lagi di hotel, malam kami berencana ke Central Market dan jalan Petaling untuk membeli tambahan oleh-oleh.

Rabu 31 Desember 2014, dengan KLIA express kami ke KLIA2 untuk pulang ke Jakarta. KLIA express keretanya ciamik tenan, bersih, cepat dan on time.  Mau bawa ransel segede gaban pun tidak masalah, karena sudah ada tempat spesial untuk komper dan ransel.  Warna keretanya agak genit karena ada strip ungu.  Kereta berhenti di KLIA2, kami bergegas check in dan taruh begasi ke Lion counter.  Ada kejadian sedih saat KLIA2, yoghurtnya anak-anak dibuang petugas imigrasi, mungkin karena larangan bawa cairan di penerbangan internasional.  Bye bye Yoghurt bye bye KL.

Iklan
Categories: Travel Note | Tag: , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: