Semalam di Luxton

Ade & Rijang

Ade & Rijang

Sehubungan ada pahe/paket hemat dari Luxton hotel, kami booking semalam dihari Sabtu, tanggal 25 Juli. Kebetulan juga, ada acara halal bi halal alumni Geologi Unpad di museum Geologi Bandung. Mumpung di Indonesia saya booking hanya 1 kamar, soalnya kalau di Singapore mana boleh 1 kamar standard diisi 4 orang dewasa tanpa tambahan charge. Dibanding Singapore, sebenarnya Indonesia itu surganya untuk coba-coba hotel, gimana tidak surga, 1 kamar saja bisa dimuat kakek sampai cucu. 😀

Prestasi ini harus terus dipertahankan oleh perhotel Indonesia, supaya dunia ngirit traveler dapat berkembang pesat, serta mendukung program mangan ora mangan sing penting ngumpul. Apa sih jadi seperti Jaka Sembung makan kuaci, nggak nyabung banget cih, gubrak.

Sampai di Bandung jam 10 pagi, on time sesuai acara halal bi halal, kami langsung ke museum Geologi Bandung. Sebelum halal bi halal saya ajak ade dan kk untuk foto-fotoan dengan silicified wood segede gentong depan museum. Selain itu, foto dengan perselingan chert/rijang dan batugamping merah yang sudah sangat tuhe banget karena berumur Kapur Awal, 139-95 juta tahun yang lampau, dibuktikan dengan kandungan fosil Radiolaria. Sepuh banget yach itu batu. Up load di IG banyak juga yang ng like, bukti museum Geologi Bandung adalah salah satu destinasi #wonderfulindonesia.

Setelah cipika cipiki diacara halal bi halal, kami antar ade untuk potong rambut di salon Memori simpang Dago, ingat pake i yach bukan y. Salon Memori ini sudah cukup tua umurnya, dari jaman saya kuliah hingga punya anak 2 aja masih tetap eksis. Info ummi, karyawannya juga hampir sama seperti yang dulu. Benar-benar salon yang sangat fenomenal. Ade potong rambut, saya dan kk menunggu di MC Donald simpang dago, sambil memainkan gadget nya masing-masing, bad habit masa kini.

Kamar The Luxton

Kamar The Luxton

Check in di The Luxton hotel jam 2 siang, kesan pertama wah banget kamarnya, dapat double bed dengan ukuran agak lebar sehingga badan yang kurus-kurus seperti saya dan ummi dapat muat dalam satu ranjang, xixi. Kamar mandinya genit banget hanya tertutup kaca transparan, kamarnya juga luas sehingga tidak sesak diisi berempat. Lantainya dilapis kayu, pokoke sip dan lux banget dech.

Walaupun pahe, tetapi cukup mahal juga bagi kami, sehingga kami putuskan untuk tidak kemana mana, cukup nikmati saja hotel ini, biar nggak rugi-rugi amat bro. Rencana perbanyak berenang dan nonton film Korea, nah nonton film Korea ini yang selalu menyita waktu ade, sehingga untuk hafalan surat pendeknya saja dapat nilai C. Ade ade kapan sih berhenti nonton film Korea nya. Kalau dilarang malah babehnya yang dimarahin, mungkin harus diterapi nich ade.

Ummi kedatangan Rina sohib sma nya dulu, langsung pada jalan ke luar hotel untuk menjadi detektif kuliner dadakan. Kalau saya dan kk langsung nyebur di kolam renang yang airnya cukup membuat badan menggigil, dingin bener bro. Sedangkan ade dengan sifat otoriternya menguasai tv untuk nonton film vampire nya Korea, ampun dech.

Dinner kita arahkan seputaran hotel saja, maklum sekali lagi, tidak mau rugi lama-lama ninggalin hotel. Sebelum dinner ummi kedatangan sohib sma nya lagi yaitu bu Yanti, biasa setelah silahturahmi diakhiri dengan selfie bareng keluarga. Silahturahmi itu penting sekali bro, karena dapat memberi kesehatan dan membuka pintu rezeki. Kalau tidak percaya silahkan check ke para ulama, pasti kalimat tadi dibenarkan sekali.

Truk Rumah Sosis

Truk Rumah Sosis

Dinner pertama jatuh kepada truk Rumah Sosis, yang kebetulan ngetem dekat hotel. Daripada ke Setia Budi macet mendingan ke outlet truknya saja, yang selalu standby di seputaran Dago. Menu berupa es lilin dan sosis bakar, yach ampun menu kontroversial, satu panas satu dingin. Sebagai keluarga besar detektif kuliner profesional, kami tidak mempermasalahkannya. Tapi nich lidah protes juga, hehe.

Ade mengalami incident kecil, bajunya kejatuhan sosis bakar yang sudah di saus in, bajunya jadi kotor. Sehingga tidak dapat bergabung ke lokasi dinner tahap kedua. Dinner kedua jatuh kepada cafe Madtari, cafe ini mirip Saras Bogor, yang menjual roti bakar, indomie, pisang bakar dengan segala rupa rasa, baik itu keju, coklat, kornet,stroberry dll. Pokoknya ala urban street food banget dech. Urban street food artinya apa bro? Suwer saya juga nggak tau, itu tadi asal ketik aja, yang penting wow gitu loch. Cafe Madtari ini selalu penuh, lokasi hang out nya anak muda Bandung, terbukti sudah jam 9 malam saja masih rame seperti di pasar.

Cafe Madtari

Cafe Madtari

Saya pesan Indomie goreng kornet telur, kk pesan Indomie rebus keju kornet, dan ummi pesan pisang susu keju coklat. Bisa kebayangkan bentuknya, pasti penuh warna. Ade kita bungkusin roti bakar keju coklat dan nasi goreng. Jujur yang berenang sore tadi itu saya dan kk, kenapa malamnya yang laper ade yach? Benar benar ade dalam masa pertumbuhan, tapi kalau boleh jujur lagi saat di kamar saya juga ikut andil dalam menghabiskan nasi gorengnya ade. 😀

Karena kami mengambil pahe, tentunya kami tidak dapat breakfast hotel. Terpaksa minggu pagi, kami keluar hotel untuk cari sarapan, minus ade karena lagi malas keluar kamar. Kami ber3 naik angkot kearah atas, turun dekat pertigaan ITB, sudah banyak orang berjualan, umumnya dagang sosis bakar. Kalau anda calon pengusaha sebaiknya cepat inves dagang nasi uduk seputaran dago disaat minggu pagi, karena saya lihat tidak ada yang dagang nasi uduk, dijamin ini good idea.

Sarapan pertama jatuh kepada Tahu Sumedang Asli Mas Bro, lokasinya dengan outlet mr Bean Dago, silahkan cari sendiri, rasanya benar benar tahu Sumedang asli bro. Diselingi makan lontongnya terasa perut ini sudah kenyang, luar biasa nikmatnya. Asyik kalau minggu pagi di Dago dipenuhi orang bersepeda dan senam pagi, sehingga kami ikut terbawa untuk melanjutkan jalan pagi kearah atas. Sebelum RS Borromeus, tidak sengaja menemukan penjual empek-empek dan tekwan Palembang. Tergoda acara kuliner di tv 2 hari yang lalu, secara frontal menjelaskan kenikmatan masakan Palembang. Kami tidak kuasa juga, akhirnya memesan tekwan dua dan empek-empek satu. Nama penjual empek-empek tidak tercatat dengan baik, jadi silahkan cari sendiri di Dago sebelum RS Borromeus dari arah bawah sebelah kanan sebelum persimpangan. Ciri utamanya adalah penjualnya semua ibu-ibu, sukses yach semoga dapat ketemu.

Swimming Pool The Luxton

Swimming Pool The Luxton

Untuk membantu metabolisme hasil sarapan pagi, sampai di hotel saya dan kk langsung bergaya dada dan bebas lagi di swimming pool. Kk 50 putaran, kalau saya mengaku 30 putaran, tetapi kalau boleh jujur sepertinya saya kurang dari itu dech. Biar terkesan olah ragawan saja. Selain makan jangan lupa olahraga yach bro, biar badan jadi sehat dan bugar begitu pesan dari pak Menpora.

Jam 12 siang waktunya check out hotel. Check out beres kami beranjak pulang, sebelum keluar Bandung, kami sempatkan mampir di Cuankie Serayu, infonya ini Cuankie terenak se Bandung. Lokasinya di jalan Serayu, tidak jauh dari persimpangan jl Riau. Jelasnya tinggal searching di google map. Sampai di Cuankie Serayu, ternyata benar saudara-saudara, warung cuankie nya sudah diserbu puluhan orang yang antri pesan cuankie. Benar benar luar biasa ramenya saudara-saudara. Sebagai detektif kuliner kelas wahid, saya tidak ragu lagi memakirkan mobil, lalu bersegera memesan Cuankie Serayu yang selalu ramai dikunjungi pelanggan. Kalau ngebahas rasanya, sudah tidak bisa dibahas lagi karena saking enaknya itu bro. Erg lekker pisan. Seporsinya tidak mahal, cukup mengeluarkan uang Rp.14.000 saja anda sudah mendapatkan cuankie yang spektakuler dan mantap lezato.

Sekali lagi, kalau anda ke Bandung dan belum sempat makan Cuankie Serayu please jangan bilang pernah datang ke Bandung yach.

Cuankie Serayu

Cuankie Serayu

Berhubung belum bertemu nasi dari pagi, setelah dari Cuankie Serayu kami bergegas untuk beli nasi bungkus di rumah makan IHC (Ibu Haji Cijantung) di jalan Kamuning dekat toko oleh-oleh Primarasa. Rumah makan sunda khas Purwakarta, kalau di Puwakarta terkenal dengan rumah makan Ibu Haji Ciganea. Informasi intelijen kami, rumah makan Ibu Haji Cijantung di jalan Kamuning ini adalah yang paling the best rasanyo se Bandung raya. Setelah beres memesan 4 nasi bungkus untuk makan diperjalanan, kami akhirnya berajak pulang meninggalkan kota Bandung yang penuh dengan cerita via pintu tol Pasir Koja.

Sekian cerita Semalam di Luxton, semoga dapat memberi inspirasi pencarian hotel dan kuliner kelas wahid di kota Bandung.

Salam gembul dari detektif kuliner.

Iklan
Categories: Culinary, Travel Note | Tag: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: