212

Jamaah Aksi Super Damai 212

Jamaah Aksi Super Damai 212

“Abi, Ummi boleh ikut aksi ?  Ummi ditemani Kk kesana nya Bi.”  Pinta Ummi.

“Ntar disana banyak orang Mi, wudhu,  toilet pasti antri panjang, belum lagi di kereta sudah pasti berdesakan.  Buruh juga pada mau demo, biar Abi sama Kk saja yang turun ke aksi.”  Saran saya.

“Nggak masalah Bi, namanya juga perjuangan”.  Jawab ummi.

Sedikit percakapan kami saat nonton berita long march Kafilah Ciamis, santri-satrinya sangat heroik dan menginspirasi jutaan umat Islam di Indonesia.   Langkah kaki mereka mengirimkan pesan Ukhuwah Islamiyah disetiap daerah yang dilalui.  Ghirah bela Islam mereka sangat diatas rata-rata, malu kami kalau hanya sekedar menonton dan berdiam.

Ummi, Kk & Tentara Berhijab

Ummi, Kk & Tentara Berhijab

“Ok mi, kalau gitu kita berangkat bertiga, setelah Ade dijemput jemputan sekolah.”.  Jawab saya.

Berangkat kami dari stasiun Cilebut jam 7 pagi.  Alhamdulillah, Ummi dapat duduk.  Gerbong di dominasi peserta aksi, busana putih mendominasi.   Awalnya niat hendak turun di Gondangdia, karena ajakan orang-orang di gerbong, kami putuskan turun di Djuanda.  Guna dapat melihat situasi Monas dari arah atas Gambir.   Subhanallah saat melintas Gambir, kami melihat jutaan manusia berbusana putih mulai membanjiri Monas.

Turun di Djuanda, langsung disambut pekik Takbir para penumpang.  Bergegas kami ke Mesjid Istiqlal untuk berwudhu dan ke kamar kecil.  Di Istiqlal sudah banyak juga orang yang hendak berwudhu dan shalat dhuha.  Wudhu beres , kami lanjut ke Monas, tak ketinggalan beli bros Aksi Super Damai 212 dan masker di lapak yang ada.

Messages & Massage

Messages & Massage

Pintu Timur Laut Monas, sudah sangat padat oleh jamaah, sebetulnya baru jam 9 an pagi.  Terlihat banyak tentara wanita berkeredung disana.  Jamaah sebagian ada yang duduk, sebagian lagi berdiri berjalan mencari posisi untuk gelar sejadah.  Busana putih mendominasi, umumnya pria berbaju koko putih dan berkopiah haji.

Sekali kali terdengar orasi dari para ustad kelompok jamaah, mengingat suara dari speaker utama tidak terlalu terdengar, sehingga inisiatif beberapa kelompok, meneriakan Takbir dan melantunkan Shalawat.  Al-Liwa dan Ar-Rayah banyak berkibar dibawa para jamaah, dengan latar tugu Monas dari kejauhan.

Dekat pintu masuk ada tenda kesehatan dimana jamaah yang lelah pada antri untuk minta dipijat.  Subhanallah.  Tidak itu saja, banyak juga yang menawarkan makanan dan minuman gratis, kami saja dapat roti susu, merk  Dewi, kita doakan agar yang sedekah roti-roti tersebut, dilipat gandakan pahalanya.  Aamiin.

Moal Balik Mun Can Bersih

Moal Balik Mun Can Bersih

Kami berusaha masuk, tapi karena padat kami tidak bisa masuk ke Monas, kami cari-cari tempat untuk gelar sejadah.  Dapat tempat diantara 2 mobil parkir, kebetulan ada satu keluarga yang bertiga juga, full ada bapak, ibu dan anak.  Akhirnya kami gelar bersama dekat mereka, sehingga ibu ibu bisa buat satu shaf dibelakang.

Awalnya terang berawan, orang orang masih berlalu lalang mencari posisi, tempat kami sering dilangkahi jamaah, tapi tidak masalah.  Ada rombongan ibu ibu, bergabung dengan shafnya Ummi, sehingga membentuk satu lajur panjang akhwat di gang sempit parkiran.

Mendekati waktu Jumat, hujan mulai turun awalnya rintik, saat Jumatan semakin besar.  Beberapa jamaah ada yang membagi bagikan jas hujan secara gratis, kami saja dapat jas hujan masing masing.  Sejadah mulai basah, tetapi tidak mengurangi kekhusuan kami dalam berdoa.

Al-Liwa & Ar-Rayah

Al-Liwa & Ar-Rayah

Guyuran hujan, menambah luluh lantah hati kami dalam berdoa.  Tak terasa tetes air mata ikut membasahi sejadah yang telah basah.  Dalam pikiran berkecamuk sulitnya negara kami, keadilan yang jauh dari kata adil, agama Islam sering difitnah, saudara seakidah banyak yang tertindas, sumberdaya alam yang banyak terampas keluar.  Tidak ada yang bisa tolong kami atasi semua itu kecuali pertolongan Allah SWT.

Mungkin ini adalah salah satu ikhtiar kami bersama, untuk mengetuk pintu langit, knocking on heavens door, sehingga berkah dari Allah dapat turun ke bumi ibu pertiwi, kebumi dimana umat Islam tinggal dan menjalani kehidupannya sehari hari.  Hanya kepada Allah kami meminta.

Doa qunut Jumat’an cukup panjang, tentunya untuk mendoakan kemaslahatan untuk semua.  Setelah Jumat’an kami bersalaman tulus dengan saudara seiman disebelah kanan kiri, sambil mengucap syukur Alhamdulillah, ibadah Jumat dengan jamaah super banyak ini dapat berlangsung dengan hikmat.

Depan PLN Disjaya, setelah aksi 212

Depan PLN Disjaya, setelah aksi 212

Ingat pesan para ulama, setelah Jumat an kami diminta untuk bergegas meninggalkan Monas dengan tertib, tentu kami segera langsung laksanakan.  Berjalan pulang kami menuju stasiun Djuanda, tidak ketinggalan sebelum Stasiun Djuanda, Ummi beli Kerak Telor untuk oleh-oleh dirumah.

Sepanjang perjalanan banyak penyempitan karena padatnya jamaah, tetapi kami lewatkan dengan melantunkan Shalawat Badar, sehingga walaupun berhimpit-himpitan dapat kami lalui dengan ikhlas dan tertib.  Kami tidak melalui jembatan penyebrangan yang menghubungkan Mesjid istiqlal dan Stasiun, kami nyebrang di jalan raya, mengurangi kepadatan di jembatan.

Pintu masuk ke stasiun kami lewati dengan antrian yang cukup padat, dalam stasiun kami bertemu teman sekelas di SMANSA, om kumis.  Otomatis foto bersama dulu sebagai dokumentasi dimana posisi kami berdiri, bersikap dan berpihak.  Bagaikan kisah semut saat Nabi Ibrahim dibakar.

Ketemu Om Kumis

Ketemu Om Kumis

Alhamdulillah, tak lama kereta datang, Ummi dan Kk dapat duduk juga.  Sampai Stasiun Cilebut jam 4 sore, langsung kami makan Bakso Goyang Lidah dekat stasiun, guna hangatkan badan yang  kehujanan serta gantikan makan siang yang kesorean.

Demikian cerita perjalanan kami di Aksi Super Damai 212 atau Aksi Bela Islam 3.  Semoga dapat menjadi hikmah untuk semua dan spirit 212 dapat terpatri dalam ghirah muslimin muslimat Indonesia.  Aamiin.

Iklan
Categories: Story | Tag: , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: