Rumah Pohon Curug Ciherang

Rumah Pohon Curug Ciherang

Rumah Pohon Curug Ciherang

Dalam mendidik anak, kadang kita harus sekali-kali jauhkan mereka dari gadget maupun internet.  Kembali ke alam, berinteraksi dengan alam, agar dapat bertadabbur alam.  Sabtu pagi, libur panjang kemaren, sebagai the good father, saya ketuk kamar anak-anak, untuk bergegas ke alam terbuka.  Soalnya kalau tidak ke alam bebas, sudah dapat dipastikan, waktunya akan habis dengan gadget .  “Kemana kita Bi?”  Serentak bertanya.   Saya jawab “ke Rumah Pohon”.   Kaya Tarzan aja jalan-jalannya ke Rumah Pohon segala, hehe.  😛

Kk & Karst Formasi Klapanunggal

Kk & Karst Formasi Klapanunggal

Foto-foto Rumah Pohon Curug Ciherang lagi nghit di Instagram, sebagai detektif geowisata otomatis terpanggil untuk mengexplorenya.  Pagi-pagi, berangkat kami dari Citeureup ke Sukamakmur, via jalan Raya Tajur.  Jalannya masih seperti dulu, tidak lebar tapi pas-pas saja untuk dua mobil.  Saran saya kalau pakai Fortuner atau Land Cruiser seperti  kelebaran deh, ngabisin jalan.  Sebaiknya pakai Xenia atau Avanza saja.  Via jalan Raya Tajur full dengan pemandangan yang wow.  Morfologi Karst Klapnunggal tampak elok di kiri jalan.  Hijaunya persawahan sepanjang jalan menyejukan mata, siapa bilang hanya di Ubud Bali, ternyata Citeureup – Sukamakmur juga ada pemandangan yang berkelas.

Putihnya Gigi & Hijaunya Sawah

Putihnya Gigi & Hijaunya Sawah

Sampe-sampe kami berhenti sejenak dekat warung nasi Rindanis, selfie dengan latar belakang bukit, lembah dan sawah, yang menyejukan mata dan hati.  Trus berhenti lagi dekat jembatan besi besar, untuk berfoto dengan latar hamparan sawah yang luas bak permadani hijau.  Forget it internet, back to nature is the best.

Awalnya semangat nyetir karena pemandangan yang ok bingit, tapi lama kelamaan sebel juga, ko nggak nyampe nyampe ya?  Mana di mobil yang terjaga hanya saya seoranng.  Ummi, Kk dan Ade tertidur pulas karena lamanya perjalanan.  Terasa jadi supir terganteng seantero jagat raya, ihik sedih.  Arahkan saja mobil ke Cipanas, jangan yang ke Jonggol, kalau dipersimpangan jangan lupa tanya tanya ke penduduk setempat dijamin tidak akan nyasar.

View @ Simpang Curug Ciherang

View @ Simpang Curug Ciherang

Plang Curug Ciherang 4 km terlihat dipersimpangan, membuat mata dan semangat terbakar kembali.  Jalan makin sempit dan menanjak, tidak menyurutkan niat untuk dapat sampai ke Rumah Pohon Curug Ciherang.  Sempat heboh didepan ada truk pasir yang tidak kuat nanjak, sehingga mobil dibelakang pada cari posisi agar truk dapat mundur.  Persimpangan akhir Curug Ciherang, ada lokasi yang bagus untuk berfoto, lokasi tinggian dengan latar spot foto perbukitan dikejauhan sana.

@ Rumah Pohon

@ Rumah Pohon

Digerbang wisata alam curug Ciherang, kami bayar tiket masuk, Rp15.000 perorang.  Plus parkir Rp.7000 per mobil.  Wisata Curug Ciherang sudah dikelola dengan baik, ada cottage, area outbond, camping ground, mushola, kebun organik maupun toilet.  Jalan masuk juga berbatu, agar tidak selip dikala hujan, parkiran motor dan mobil cukup luas.  Warung-warung juga tertata rapih dekat parkiran, sarana toilet juga banyak dekat parkiran.

Smile from Rumah Pohon

Smile from Rumah Pohon

Kami langsung mendaki, ke arah Rumah Pohon, jalan setapak sudah dialaskan batu tertata.  Lereng lereng tebing disusun batu-batu gunung, mungkin terinspirasi dari Machu Picchu, Andes, Peru.  Masuk ke rumah pohon pengunjung wajib bayar tambahan Rp.2000 perorang, dengan lama waktu hanya 5 menit, pinta petugas.  Langsung kami bersegera ambil posisi untuk berfoto, nyebrang kearah pohon besar, agar sensasi jadi Tarzan nya lebih terasa.  😛

View @ Rumah Pohon

View @ Rumah Pohon

Air terjun Ciherang tanpak dari kejauhan,  pemandangan sekitaran rumah pohon nyejukan mata hati, dijamin akan kalap berfoto.  Kalau saya sibuk buat video singkat, untuk dokumentasi wisata Curug Ciherang.  Jangan lupa tonton di my youtube ya.   Ada momen dimana saya tidak mengerti dengan pikiran ibu-ibu, diatas bukit dengan pemandangan yang bagus, ditempat orang pada sibuk berfoto, eeehh Ummi malah sibuk beli pisang Ambon, kebetulan ada penjual pisang disana.  Untung saja beli setengah sisir, kalau beli 5 sisir bisa habislah saya ini.   Ada pepatah bijak bilang, “jangan remehkan ibu-ibu mendaki bukit, kalau ada penjual obral discount diatas sana, bisa kelar idup lo”, hehe 😛

Curug Ciherang Dari Jauh

Curug Ciherang Dari Jauh

Perjalan dilanjut ke Curug Ciherang, jalan setapak juga sudah berbatu, lebih kurang 10 menit jalan sudah sampai.  Kabut menyelimuti perjalanan kami, gelegar air terjun, keras terdengar dari kejauhan.  Air terjun berundak dan cukup tinggi, sehingga jatuhan air terjun seperti gemuruh yang tidak pernah tertidur.  Semua pengunjung sibuk berfoto, hanya Ade saja yang terdiam dan tak bersemangat.  Memang Ade kalau diajak ke alam terbuka suka kurang happy, alasannya takut kotor dll.  Mungkin kalau diajak ke Jeju Korea dia akan happy, maklum Korea minded banget dia.  😛

Curug Ciherang

Curug Ciherang

Kk dan Ummi pada bersemangat turun kebawah, mendekat ke air terjun agar terasa sensasinya.  Kami putuskan untuk tidak basah basahan, agar tidak ganti baju.  Sebetulnya disana ada kamar mandi untuk ganti baju, tapi karena baju ganti ada di mobil, kami urungkan bermain basah basahan.  Kami hanya menyibukan berfoto dan videokan suasana Curug Ciherang.

Puas berfoto, kembali kami ke parkiran mobil, untuk rehat dan santap siang di warung dekat parkiran.  Warung bambu, dengan panorama alam yang juara, menambah semangat untuk menghabiskan santapan siang yang ada.  Beres makan bergegas turun ke area cottage, untuk Dzuhur di mushola.

Ciherang Waterfall

Ciherang Waterfall

Wisata sudah, kuliner siang beres, shalat beres, sudah saatnya kami pulang.  Diputuskan pulang via Jonggol, untuk ganti suasana.  Pemandangan salama perjalanan Curug Ciherang – Jonggol, sekelas dengan dengan Ubud – Bali, kalau tidak percaya silahkan jalan jalan saja kesana.   Hijaunya sawah, saluran irigasi yang tertata serta kerucut kerucut intrusi batuan dikejauhan, membuat pemandangan sangat berkelas diatas rata-rata.  Dikejauhan terlihat sungai yang surut dan lebar, sehingga perlapisan batuan sedimen tersingkap baik, ingin rasanya mengukur strike dip disana, hehe, geologist pisan. 😛

Saran saya untuk para stake holder, jalur Jonggol – Sukamakmur – Citeureup sebaiknya digunakan untuk event gowes international, seperti Tour the France, ganti nama jadi Tour the Bogor.  Jalan sudah beraspal, medan naik turun serta pemandangan yang indah, otomatis badan sehat, hati senang dan income bertambah.

Demikian kisah perjalanan kami ke Rumah Pohon Curug Ciherang, semoga bisa menjadi referensi wisata anda bersama keluarga.  Salam sehat dari alam terbuka.

Iklan
Categories: Travel Note | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: