Liburan ke Semarang

Semarang dilihat dari lantai 30 dari Star Hotel

Semarang dilihat dari lantai 30 Star Hotel

Kk berenang di ketinggian

Kk berenang di ketinggian

Libur akhir tahun waktunya terbatas, karena kk masih ada ujian, hanya bisa tanggal 31 Desember, 1 dan 2 Januari saja.  Otomatis harus putar otak, ketempat yang berkesan, tidak pakai macet, dan bisa leha-leha tidur panjang.  Sebagai detektif wisata papan bawah, sudah pasti suka sama teka-teki seperti itu.  Setelah evaluasi mendalam beberapa destinasi serta biayanya, diputuskan ke Semarang saja.  Tanpa ragu seluruh anggota team setuju.

Sabtu, 31 Desember berangkat kami ke Semarang dengan kereta Agro Anggrek Pagi, jam 9.30 dari Gambir.  Sampai di Gambir kepagian, jam 7 pagi, otomatis dari jam 7 sampai di jam 9 hanya diisi dengan sarapan di Mc D plus bengang bengong nggak jelas mau ngapain lagi,.  Maklum traveler kerajinan. 😛

Semarang dikala malam

Semarang dikala malam

Selama perjalanan pemandangan didominasi hamparan persawahan di kiri dan kanan rel.  Mendekat Semarang sekali-kali tanpak deburan ombak Laut Jawa di sisi kiri rel kereta.  Sampai Stasiun Tawang Semarang jam 3 sore, cari taxi argo di luar stasiun, untuk ke hotel.  Sekarang Semarang sering macet, apalagi seputaran Simpang Lima, banyak mobil keluar masuk mall sehingga menyebabkan kemacetan.

Booking Star Hotel di Jl MT Haryono no 972, lokasinya tidak tepat di tengah kota.  Tapi ada satu daya tarik, yaitu kolam renang di lantai 30, rooftop swimming pool, otomatis bisa lihat kota Semarang dari atas, mirip sensasi hotel Marina Bay Sands Singapore.  Karena belum ada undangan nginap gratis dari Hotel Marina Bay Sands, kami ke Star Hotel dulu untuk menghibur hati yang lara.

Kuliner Warung Nasi Mbak Tum

Kuliner Warung Nasi Mbak Tum

Malam hunting wisata kuliner malam, dengan taxi blue bird kearah Kota Lama tujuan Retro Cafe belakang Gereja Blenduk.  Sampai depan cafe, ternyata tidak buka, mungkin karyawannya liburan akhir tahun juga.  Namanya juga manusia butuh jalan-jalan, masa kerja terus sih.  Sempat panik kuliner yang dituju tutup, buka primbon wisata Semarang juga tidak bisa bantu, apalagi situasi malam itu hujan.

Ternyata dewa penolong kami saat itu adalah pak Supir Blue Bird, pengetahuan wisata kulinernya melebihi tripadvisor.  Pak Supir, dengan tenang dan bijak berkata, “mas cobain deh makan di Warung Makan Mbak Tum.  Enak banget nasi gudegnya, sampai-sampai artis Ivan Gunawan dan team pada makan disana.  Saat acara dangdut academia, Ivan Gunawan juga bertestimoni kuliner Mbak Tum itu lezatnya tiada tara”.

Lawang Sewu

Lawang Sewu

Tanpa pikir panjang kami setuju dengan pak Supir, terimakasih banyak pak supir, kau telah meluruskan jalan hidup kami.  Warung nasi Mbak Tum ini akan dibahas di artikel tersendiri, tapi kalau nggak malas lagi ya.  Ternyata warung tendanya tidak terlalu jauh dari hotel, lebih kurang 1km dari hotel.  Pulang jalan kaki, suasana habis hujan, ramainya motor mobil di jalan menemani langkah kami, tapi sayang sepatunya Ade jadi sedikit kotor karena jalan yang dilalui becek, mana nggak ada ojek…

Sampai di hotel, kami foto sejenak di dekat kolam, dengan latar belakang kelap kelip lampu kota Semarang.  Wow beautiful view, subhanallah.  Selesai berfoto langsung masuk kamar untuk segera tidur, malam tahun baru 2017 kami lewatkan dalam mimpi.

Senyuman dari Lawang Sewu

Senyuman dari Lawang Sewu

Ba’da Subuh awal tahun, bergegas kami ke lantai 30, untuk mengabadikan Semarang di kala subuh serta sunrise.  Subhanallah sensasi subuh yang berbeda, hening dan sepi temani sang surya terbit secara perlahan, entah berapa banyak foto yang kami ambil, rasanya tidak pernah bosan mengklik tombol kamera action.  Sesi foto sunrise selesai, dilanjut acara berenang.  Tidak pakai lama, hanya sepuluh putaran saja, guna melemaskan otot-otot yang kaku, karena beraktifitas selama satu tahun penuh di 2016.

Keceriaan di Lawang Sewu

Keceriaan di Lawang Sewu

Banyaknya yang nginap, breakfast pun jadi ramai, sampai-sampai pada kesulitan cari sendok untuk makan, maklum libur awal tahun.  Selesai breakfast langsung ke Lawang Sewu, tema awal sih wisata sejarah, tapi itu cuma modus, sebenarnya cari lokasi unik untuk sesi berfoto, hehe.  Segala gaya dan upaya kami curahkan saat berfoto di Lawang Sewu, kadang dengan background banyaknya daun pintu tua, kusen kusen pintu tua, lorong-lorong gedung, hingga gaya perkelahian keluarga.

Ade kepanasan Mesjid Agung Semarang

Ade kepanasan Mesjid Agung Semarang

Tak terasa waktu sudah menunjukan jam sebelas siang, segera kami ke Mesjid Agung Semarang dengan transportasi taxi argo.  Saat turun di area Mesjid Agung, kami sempat terkaget kaget karena panasnya matahari yang menyengat, membuat kami pada lemas karena kepanasan.  Dekat mesjid otomatis lepas sendal, karena tenda depan mesjid tidak terbuka, lantai sangat panas.  Ade teriak kepanasan, saat kakinya injak lantai tanpa alas kaki.  Diputuskan tidak sholat di dalam Mesjid Agung.

Tidak lama di Mesjid Agung, kami lanjut wisata ke Kota Lama, dengan tujuan Old City 3d Trick Art Museum.  Cuaca masih cukup panas, depan 3d Museum pun disemprotkan air embun agar tidak terlalu panas.  Masuk ke 3d Museum bayar Rp.60000/orang, lumayan agak mahal.  Berhubung ada fasilitas AC segera kami masuk kedalam museum, agar mendinginkan kepala yang kepanasan dan hasrat berfoto yang menggila. 😛

3d Trick Art Museum

3d Trick Art Museum

Berfoto di 3D Museum sangat mengasyikan, banyak background foto yang unik, tetapi pengambilannya harus pintas pintar agar foto dapat terkesan 3 dimensi.  Ramai pengunjung saat itu, mau tak mau berganti gantian saat mengambil foto disalah satu background.  Ada juga ruangan terbalik, tapi sayang AC nya tidak hidup, sehingga pengunjung harus berusaha menahan panas yang luar biasa.

Puas berfoto di 3D Museum, kami keluar museum, cuaca masih tetap panas, perjalanan dilanjut kuliner di Tekodeko Koffiehuis, sambil berharap tempatnya adem, sehingga dapat mendinginkan pikiran.

Karena tidak terlalu jauh, ke Tekodeko kami berjalan kaki ditengah teriknya matahari, lumayan sempat membuat kleyeng-kleyeng di kepala.  Masuk ke dalam Tekodeko, serasa adem sekali,  Alhamdulillah.  Duduk malas bersandar kami di cafe ini, tak lupa bersegera memesanan makanan yang tersedia.  Lumayan cukup lama juga penyajiannya, maklum minim pekerja yang on karena masih suasana libur awal tahun.

Old City 3D Trick Art Museum

Old City 3D Trick Art Museum

Beres makan di Tekodeko, kami pulang ke hotel, untuk shalat dan rehat sejenak.  Diperjalanan supir taxi menasehati, kalau liburan ke Semarang, dari kota yang dingin seperti kami, sebaiknya kalau siang itu tujuan wisatanya ke arah Unggaran yang sejuk-sejuk, kalau sore baru deh wisata dalam kota.  Wah pak telat kasih masukannya, kami sudah terlanjur kepanasan nih.  Semoga nasehat ini sebagai masukkan yang baik untuk para traveler yang akan berwisata ke Semarang. .

Sore bersegera kami ke klenteng Sam Poo Kong, ternyata semakin sore lighting semakin ok, efek lampu berwarna menambah keunikan wisata yang ada.  Senang juga dapat berfoto di dalam klenteng Sam Poo Kong, dimana ada patung besar laksamana Cheng Hoo, dengan sorotan warna lampu yang berubah ubah.  Banyaknya lampion juga memberi warna tersendiri, senja di klenteng Sam Poo Kong.

Masuk ke Sam Poo Kong, wisatawan dikenakan Rp5000/orang, didalam selain klenteng ada juga tempat kuliner dan stand cenderamata juga.  Sore itu banyak juga pengunjung, dengan aktifitas yang sama yaitu berfoto ria.

Sam Poo Kong

Sam Poo Kong

Dari Sam Poo Kong kami lanjut untuk kuliner malam, tujuan kuliner seputaran Simpang Lima, berhubung ada saran dari pak supir taxi, akhirya kami makan Tahu Gimbal Bu Atin dan Soto Ayam Pak Darno di Jl MH Thamrin.  Sebenarnya mau makan Nasi Goreng Babat pak Karmin, karena tutup akhirnya berpindah ke Tahu Gimbal Bu Atin dan Soto Ayam Pak Darno, kebetulan lokasi sama di Jl MH Thamrin.

Trik kalau kuliner dibanyak tempat ini, biasanya kami sepering berdua, yang penting dapat merasakan sensasi bumbunya.  Tahu Gimbal bu Atin dan Soto Ayam Pak Darno kuliner wajib saat di Semarang, rasa nya juara satu bro.

Action @ Sam Poo Kong

Action @ Sam Poo Kong

Senin pagi tidak kemana mana, karena siang jadwal check out, tidak mau rugi kami berleha-leha saja dikamar.  Sayang sudah bayar mahal kalau tidak dimaksimalkan.  Check out jam 1 siang, langsung kami berburu oleh oleh di Jl Pandanaran Semarang.  Target toko Bandeng Juwana, toko oleh oleh yang sangat melegenda, sudah pasti omsetnya luar biasa, nggak pernah sepi sari pelanggan.

Ada restonya juga di lantai 2.  Setelah beres beli oleh-oleh, kami lanjut makan siang di lantai 2, menunya ada bandeng juga, masakannya enak-enak, kami pesan Bandeng Kuah Tauco dan Mangut Bandeng, juara habis rasanya sob.

Laksamana Cheng Hoo

Laksamana Cheng Hoo

Beres di toko Bandeng Juwana, kami ke Bandara Ahmad Yani, guna menunggu kedatangan Citilink sore.  Ini Informasi penting, ruang tunggu Bandara Ahmad Yani wifi gratisnya ok banget, kami habiskan waktu tunggu dengan mendown load film-film.  Luar biasa fasilitasnya, kami sepakat Bandara Ahmad Yani adalah bandara terbaik se Indonesia jaringan wifi gratisnya versi ngirittraveler.

Salam wisata keluarga, ikuti terus artikel #ngirittraveler, semoga bermanfaat.

#family #traveling #blog

Iklan
Categories: Travel Note | Tag: , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: