Culinary

Culinary World

Danau Maninjau – Padang

@ Puncak Lawang Danau Maninjau

Hari ketiga

Saat kaki menginjak Ranah Minang, kk selalu bilang, “pokoknya wajib makan Gulai Itiak Lado Mudo” di Binuang Bukittinggi.  Beres packing barang, foto pagi depan Jam Gadang, lanjut naik delman plus kejadian horor, nahan kuda diturunan samping Istana Bung Hatta, kami lanjutkan traveling ke Danau Maninjau.

Lewat jalan Binuang, bungkus beberapa porsi Gulai Itiak Lado Mudo, maklum baru beres breakfast di hotel, jadi bekal bukusan untuk makan siang sambil memandang Danau Maninjau.  Akhirnya cita cita kk dapat terwujud.

Lihat Danau Maninjau dari Puncak Lawang, mobil dapat sampai dengan mudah.  Puncak Lawang dikelola swasta, tiket masuk perorang hanya sepuluh ribu rupiah.  Banyak pohon cemara di Puncak Lawang buat suasana tambah adem dengan latar kejauhan tanpak Danau Maninjau yang luas membiru.

Saking indahnya danau Maninjau, membuat goresan luka di tangan dan di kaki, karena terlalu bersemangat foto syuting sambil bergaya bajing loncat, karena usia keseimbangan jadi kurang sensitif, saya jatuh terjelambab, bagaikan buaya jatuh disiang bolong.  Sakitnya tidak seberapa tapi malunya itu loh luar biasa.  Untuk menghilangkan rasa malu saya pura-pura sibukan dengan ambil foto sana sini.  😛

Danau Maninjau adalah kaldera dari erupsi gunung Sitinjau, yang jejaknya dapat terlihat pada bukit sekeliling danau yang menyerupai dinding,  Danau membentang luas hingga ±100km persegi dengan kedalaman rata rata ±105m.  Luar biasa hasil kehendak dari Maha Pencipta, sempurna, indah, sempurna.

Perjalanan dilanjut sisi atas Danau Maninjau, saat lihat warung Pondok Kawa Daun di Gantiang kami berhenti untuk rehat siang, sambil menyantap bekal Itiak Lado Mudo, memandang Danau Maninjau dari arah atas, suasana makan siang yang super sekali.  Walau hanya makan nasi, timun, sambel ijo dan secuil daging itiak, terasa nikmat sekali, terhanyut suguhan panaroma indah depan mata.

@ Satu Karya – Pandai Sikek

Minumnya dengan Kawa, yaitu minuman yang terbuat dari racikan daun kopi.  Belum pernah rasakan kan?  Coba deh cari Pondok Kawa Daun di Gantiang Maninjau.  Dijamin nagih, minumnya juga dengan gelas dari batok kelapa, saat minum kepala akan manggut manggut tanda setuju kelezatan dari air Kawa.

Beres rehat lanjut ke Pandai Sikek untuk belanja kerudung dan mukena, masuk ke waktu saatnya ibu-ibu berbelanja oleh oleh dll.  Driver mengarahkan ke outlet Satu Karya, Pandai Sikek.  Tempatnya nyaman, selain outlet ada mushola juga dengan lantar pesawahan dan bukiit bukit hijau dikajauhan.  Konon barang barang dagangan di Bukit Tinggi, berasal dari Padai Sikek, jadi kami langsung ke sumbernya.  Banyak hasil tenun dan rajutan dijual di Satu Karya, tapi sayang disayang mukena ibu yang berukuran all size sudah tidak ada stock, habis terjual, terpaksa kami cari mukena dilain outlet.

Sampai di Padang, langsung ke Pusat Oleh-oleh Ummi Aufa Hakim di jl Veteran Padang.  Kripik Sanjai nya enak, ada model keripik kecil dan berwarna hijau.  Konon pak JK kalau beli oleh oleh seringnya ke toko ini.

@ Pondok Ikan Bakar Cabang Khotib Sulaiman

Sebelum check in ke Favehotel Olo Padang kami makan malam di Pondok Ikan Bakar Cabang Khatib Sulaiman, sajian bukan ayam atau daging lagi seperti rumah makan Padang umumnya, tetapi seafood yang diberi kuah khas Padang. Unik sekali silahkan coba.

Check in Favehotel Olo Padang, langsung pada istirahat, kalau sy kk dan ade lanjut bergerilya ke Gramedia by gocar, cari sesuatu untuk besok karena ummi genap 46 tahun.  Supaya berkesan dan memberi perhatian lebih.  Gramedia tidak jauh dari hotel, karena sudah malam dan cape seharian di mobil, kami gunakan bantuan gocar untuk PP nya.  Dapat barang langsung bungkus kado biar surprise.

Hari Keempat

Kalau booking kamar via Agoda dll jangan terburu buru, pengalaman sudah dua kali tidak memperhatikan service yang didapat.  Pesanan saya di Favehotel Olo Padang ternyata tidak termasuk breakfast.  Terburu buru karena harga murahnya saja tapi tidak cek service yang didapat,  Terpaksa pagi harus putar otak mau makan dimana?  Untuk para ibu saya arahkan breakfast di hotel.  Tapi kami anggota tetap ngirittraveler pantang mengeluarkan uang banyak kalau hanya sekedar breakfast.

Tripadvisor tidak sanggup kasih saran karena hari masih terlalu pagi.  Terpaksa dengan cara manual, saya lakukan survey darat keluar hotel sendiri, sambil perhatikan warung apa yang buka kearah depan Gramedia.  Tak jauh dari Gramedia Olo ada Bopet Rajawali Damar, kedai yang menjajakan Nasi Soto, Sup, Tahu Goreng dll.  Lihat kebersihan dan semangat pagi sudah buka,  saya jatuh hati agar bersegera ajak pasukan untuk breakfast disini.

Sampai di hotel hanya ummi saja yang mau diajak jalan keluar untuk breakfast, kk ade masih pada pw dengan ranjang tidurnya.  Honeymoon breakfast berdua dengan ummi saat hari miladnya, terasa sesuatu banget.  Sepanjang jalan saya wa ke kk untuk dibuatkan surat cinta tulus saya ke ummi.  Bahasa sastra tingkat laskar pelangi terpaksa dikeluarkan agar berkesan saat dibacakan. 😛

Ummi breakfast dengan nasi soto, saya dengan nasi sup.  Beres breakfast dan ngbungkus bekal Tahu Goreng dan Nasi Soto untuk kk dan ade dari Bopet Rajawali Damar, kami lanjut ronde kedua kuliner murmer, penjaja seberang Gramedia, makan Lontong Gulai Paku dan Salalauak.  Luar biasa jalan jalan ke Ranah Minang penuh dengan cerita kuliner.

Mesjid Raya Sumatera Barat

Sampe di hotel kami kasih surprise ke Ummi, berupa hadiah terbungkus rapih, yang dibeli dari Gramedia tadi malam.  Ummi terheran heran kapan ngbungkusnya, senyum cinta bahagia ummi semakin menjadi ketika ade bacakan surat cinta tulus saya buat ummi, yang sedang genap bertambah usia.  Semoga umur yang dilalui dapat keberkahan dari Allah SWT.

Sampe siang kami santai santai saja di kamar hotel menunggu waktu check out.  Keluar hotel arah bandar kami sempatkan foto depan Mesjid Raya Sumatera Barat, yang baru diresmikan dua tahun yang lalu.  Mesjidnya unik bagaikan bagian rumah Gadang raksasa, benar benar arsitektur yang cerdas gemilang.

See u Sumatera Barat, Sriwijaya jam 15.00 wib telah memulangkan kami ke Jakarta kembali.  Wasalam.

Iklan
Categories: Culinary, Travel Note | Tag: , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Bukittinggi – Payakumbuh

Panorama Ngarai Sianok

“Dari lantai atas hotel terlihat dikejauhan gumpalan awan putih tebal memanjang menutup Ngarai Sianok, posisi awan lebih rendah dari posisi memandang, bagai terperangkap dalam Ngarai.  Sebelah kiri mata memandang tampak gagah gunung Singgalang berdiri dengan kerucut yang tidak simetris lagi.  Sejuk udara pagi, indah nya mata memandang menjadi magnet tersendiri berwisata ke Bukittinggi”.

Hari pertama.

Kalau traveling sendiri atau sekeluarga inti itu sih biasa.  Tapi kalau traveling sama ibu yang sudah lanjut usia, itu baru namanya luar biasa, butuh kesabaran lebih dan perencanaan yang matang.  30 Mei ini ibu genap 71 tahun, kalau diajak jalan kaki terlalu lama sudah tidak sanggup, cepat lelah.  Sabtu lalu kami bersama ibu ke Bukittinggi, via Bandara International Minangkabau.

Di Bandara Soekarno Hatta request kursi roda untuk ibu dengan alasan lanjut usia.  Terminal 3 ultimate yang seluas itu dapat kami lalui dengan santai.   Kursi roda sampai depan pintu pesawat dan kami pun diperkenankan masuk terlebih dahulu dari penumpang yang lainnya.  Sampai di Bandara International Minangkabau, kursi roda penjemput pun sudah stand by menunggu, ibu dengan santainya berlalu ke pintu keluar.  Alhamdulillah satu rintangan terlampui.

Bandara ke Bukittinggi perlu mobil yang nyaman, agar bisa duduk nyaman sepanjang perjalanan.  Kalau go show cari rentalan di Bandara, dijamin bakal rame sama para calo, jalan keluarnya, jauh hari sebelum keberangkatan kami sudah pesan rental mobil via tiket dot com, dimana bisa pilih mobil seperti apa dan berapa lama hari akan disewa.  Tidak lepas kunci, ada driver nya, jadi salah jalan atau nyasar, kemungkinan tidak terjadi.

Air Terjun Lembah Anai

Dari Avanza hingga Alphard ada semua di tiket dot com, kami pilih Innova, karena kami berenam.  Dua nenek, dua paruh baya, dan dua lagi remaja putri.  Innova relatif baru dan terawat, sehingga nyaman selama perjalanan ke Bukittinggi.  Driver sudah terbiasa antar tamu wisata, jadi tidak asing lagi ke lokasi lokasi wisata yang ada serta kuliner yang sering dikunjungi wisatawan.

Terbukti saat keluar dari Bandara International Minangkabau, kami diarahkan makan di Lamun Ombak di km 24 Jl Padang – Bukittinggi.  Rumah makan yang sangat legendaris di Ranah Minang, cita rasa luar biasa, wisata kuliner pembuka yang sangat berkesan.  Soal harga tidak terlalu mahal tetapi dengan cita rasa kelezatan yang luar biasa.  Terbukti dari raut muka yang penuh kecerian sehabis makan di rumah makan Lamun Ombak.

Singgah di air terjun Lembah Anai, berfoto dengan latar batuan andesitik dan curahan air terjun yang tidak pernah berhenti.  Lokasinya pinggir jalan besar, sehingga membuat suasana yang agak berbeda dengan air terjun lainnya di Indonesia.  Tidak jauh dari air terjun banyak kolam pemandian dipinggir jalan, jadi kalau mengantuk saat berkendara bisa langsung nyebur biar segar kembali.  😛

Tak jauh dari lembah Anai, singgah di Minang Village di Padang Panjang, ada rumah adat khas Minangkabau serta tersedia penyewaan busana adat khas Minang.  Wisatawan dapat berfoto dengan busana adat Minang di depan rumah Gadang, lumbung padi ataupun pelaminan dilantai dasar .  Penata riasnya ada, jadi tidak perlu khawatir.  Semua pada semangat pakai busana khas Minang berikut suntiang nya.  Ibu tidak lama pakai suntiang karena berat.  Satu pengalaman yang seru kalau bisa singgah di Minang Village Padang Panjang ini.

Minang Village – Padang Panjang

Tak jauh dari Minang Village ada kuliner yang sangat dikenal seantero Indonesia Raya, yaitu Sate Mak Syukur.  Kami singgah disana untuk Magrib dilanjut makan sate yang seporsi berjumlah 9 tusuk plus ketupat.  Sate yang satu ini sudah jadi legenda tersendiri bagi kalangan wisatawan, jadi jangan sampai terlewatkan ya.

Sampai di Bukit Tinggi malam, langsung ke Grand Galery Hotel yang sudah dipesan lewat Traveloka.  Jadi kamar sudah dipastikan ada walaupun datang larut malam, maklum kalau weekend Bukit Tinggi sangat padat dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.  Hotelnya agak unik 2 lantai keatas dan 2 lantai kebawah.  Alhamdulillah sudah ada lift jadi ibu tidak terlalu berat naik turun ke kamarnya.

Semua pada rehat di hotel karena lelah lama duduk di mobil, kalau saya langsung kelayapan ke jam Gadang, liat suasana seperti apa kalau malam minggu di Jam Gadang, ternyata ramai sekali dipadati wisatawan.  Jam Gadang kalau malam terlihat cantik karena sudah diberi efek cahaya yang berganti ganti warna seperti di Monas.  Ambil foto, upload instagram, langsung deh banyak jempol yang masuk ke smartphone. 😛

Hari kedua.

Dari lantai atas hotel terlihat dikejauhan gumpalan awan putih tebal memanjang menutup Ngarai Sianok, posisi awan lebih rendah dari posisi memandang, bagai terperangkap dalam Ngarai.  Sebelah kiri mata memandang tampak gagah gunung Singgalang berdiri dengan kerucut yang tidak simetris lagi.  Sejuk udara pagi, indah nya mata memandang menjadi magnet tersendiri berwisata ke Bukit Tinggi.

Perjalanan pagi dimulai dari Panorama Ngarai Sianok dengan bayar tiket masuk Rp 15000 per orang.  Masya Allah kata pertama yg terucap kala panorama indah dari Ngarai Sianok tampak jelas didepan mata.  Tebing tebing batuan tuff berwarna coklat keabu-abuan berdiri tegak di kanan kiri lembah sawah hijau terhampar luas memanjang, sebagai saksi bisu dari efek kuat patahan Semangko.

Lobang Jepang

Mata pikiran hati terasa tenang melihat panorama alam Ngarai Sianok.  Tak lama hati bergetar mengingat keagungan Allah Sang Maha Pencipta. Sempurna sempurna.  Terimakasih ya Aĺlah, Kau telah menginjinkan kami sekeluarga untuk masih dapat melihat keagungan salah satu kehendak Mu.

Banyak kera di pagar Panorama, menunggu kemurahan para pengunjung memberi makan.  Cukup bersahabat tapi tetap harus waspada.  Kami turun ke Lobang Jepang, menuruni tangga lobang hingga turun jauh kedasar, lebih kurang 40 meter vertikal beda tinggi pintu dan dasar lobang.  Penerangan obor sudah tergantikan lampu, mempermudah pengunjung menelusuri jejak penjajahan Jepang.  Lobang tidak dibuat setengah lingkaran seperti tunnel tambang bawah tanah, tetapi berbentuk trapesium.  Tidak masalah karena lubang dibuat pada endapan ignimbrit, mau dibuat segitiga saja, sepertinya masih ok.  Gilanya dinding lubang tidak dibuat rata, berfungsi meredam suara keluar. Ruang mesiu, rapat prajurit, penyiksaan masih tampak baik tertinggal jelas.  Disatu lokasi terlihat jelas lensa batupasir kuarsa dalam dominasi batuan tuff.  Sensasi jalan dibawah kuburan bisa dirasakan dalam Lobang Jepang ini.  Salah satu ruangan pas 50m vertikal dibawah pemakaman umum Bukittinggi.  Lobang buang jenazah para romusha tetap dipertahankan, sebagai saksi bisu atas kekejaman para penjajah.

Museum Bung Hatta

Singgah di rumah masa kecil alm Bung Hatta, yang berubah menjadi museum Bung Hatta, tampak asri dan apik terawat oleh pemda setempat. Masuknya free.  Adem banget dalam rumah, bangunan dan interior jaman old tetapi tetap menginspirasi di jaman now.   Depan rumah ada tanaman asal negeri Belanda yang daunnya bisa berubah menjadi tiga warna.  Pak penjaga sudah bawakan batangnya untuk ibu agar ditanam di Bogor, tapi karena susah bawanya harus pakai air segala, akhirnya ditinggal di hotel, gagal dibawa pulang.

@ Pongek Or Situjuah

Makan siang di Pongek Or Situjuah, the best culinary at Payakumbuh.  Pongek itu sayur nangka yang cara masaknya konon berbeda dengan lainnya.  Sambel ijo nya nggak nahan, enak banget.  Dijamin kalau kesana tidak akan pernah sepi dari pengunjung.  Wisatawan datang bergelombang untuk dapat merasakan sensasi makan di restaurant ini.  Ikan dan sayur terong nya juga luar biasa enaknya.  Kalau ke Payakumbuh tidak makan disini, ibarat main ke kota Bogor tapi tidak makan soto kuning pak Salam, tentunya ada yang kurang.

Lanjut ke lembah Harau, salah satu lembah terindah di Indonesia, dijuluki Yosemite nya Indonesia oleh para pemanjat, tak jauh dari Payakumbuh ±18km.  Panorama berupa dinding dinding batuan breksi dan konglomerat yang menjulang tinggi, dengan sudut kemiringan relatif 90º.  Dasar lembah terhampar luas sawah nan hijau yang indah dipandang mata.  Rehat sejenak dekat air terjun yang debit nya tidak terlalu besar, dibawahnya ada kolam untuk para pengunjung yang ingin basah basahan. Dekat air terjun banyak warung masyarakat, menjajakan minuman dan jagung bakar.  Kalau kita sih sibuk makan kerumpuk opak yang diameternya nyaris 30 cm, dioles dengan bumbu sate padang, wow rasanya super sekali. 😛

@ Lembah Harau

Berfoto dengan background dinding batuan setinggi 100 meteran agak susah susah gampang, posisi ambil fotonya harus sambil melantai atau mengaspal, biar terlihat tinggi tebingnya.

Dari air terjun ke spot wisata lainnya yang berbau Korea kw dua, info ibu warung masih di area Sarasah Bunta.  Kesan pertama mirip suasana film korea, banyak yang berbusana tradisional Korea, jadi serasa seperti di negeri ginseng.  Ada dua bangunan dengan design gaya Eropa campur Minang, ditengah lapangan pasir putih yang luas tertanan pohon kering yang tak berdaun, hanya tertinggal batang dan rantingnya saja.  Beralaskan hamparan pasir putih, pohon kering tak berdaun serta bangunan bergaya Eropa, jadi lokasi sport foto yang cukup ciamik.

Dari lembah Harau ke Kelok 9, arsitektur jembatan layang yang luar biasa, meliuk liuk melawan kerasnya ceruk lembah sungai yang terjal.  Dari liukan jalan layang yang dibuat, lebar dan grade jalan dapat lebih bersahabat sehingga arus kendaraan sudah tidak perlu berjibaku lagi dengan bau kompling ataupun rem.  Diresmikan era pak Sby, dikerjakan beberapa kontraktor BUMN papan atas.  Lihat terjalnya tebing dan lebatnya hutan, berdecak kagum atas kegigihan pembuatan jalan layang di Kelok 9 ini.  Jalan lama masih tetap ada dan difungsikan, sedangkan jalan baru selain mempelancar arus lintas Pakanbaru – Payakumbuh juga sebagai spot foto baru yang luar biasa, yang menunjukan salah satu hasil karya besar anak bangsa.

@ Kelok 9

Payakumbuh, jangan lupa makan sate Danguang Danguang, kuliner yang tidak boleh terlewat. Pondok sate di pusat kota, di Jl Soekarno Hatta, karena parkiran penuh kami putuskan makan di rumah Rico sepupu kami.  Daging satenya agak besar, aroma kuahnya sangat kuat dan ketupatnya agak padat sehingga membiat rasa nikmat tersediri dalam menyantap sate yang satu ini.  Terimakasih Rico n family, kau telah menyuguhkan sate yang luar biasa lezatnya, kalau ke Bogor dont worry, akan kami suguhkan Roti Unyil dan Lapis Talas. 😛

Sampe di Bukittinggi malam, langsung ke rumah makan Family Benteng Indah, tapi sayang beribu sayang, ayam pop nya sudah habis.  Ingin sekali makan ayam pop di rumah makan ini, konon sebagai cikal bakal penemu menu ayam pop, yang saat ini sudah populer seantero dunia.  Karena belum jodoh, eksplore kuliner di Family Benteng Indah masih belum terwujud.

Hari 3 & 4, ikuti artikel berikutnya ya sob…

Categories: Culinary, Travel Note | Tag: , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Makassar

@ Fort Rotterdam

Seumur umur belum pernah ke Sulawesi.  Long week end akhir Maret lalu ke Makassar biar kesampaian dapat ke Celebes, sekalian explorer seputar Makassar.  Waktu hanya tiga hari, sangat terbatas lokasi yang dapat dikunjungi.  Sudah lama tidak jalan jalan, terakhir ke Lampung, awal tahun, hampir satu triwulan tidak jalan jauh sekeluarga.  Itinerary tidak dibuat, breakdown kasar hanya didalam pikiran saja.

Rencana liburan hanya mau santai-santai saja, leha-leha di hotel sambil berenang dan wisata kuliner Makassar, namanya juga liburan tiga hari.  Coto Makassar, Pisang Ape, Pallubasa, Konro Karebosi sudah terpatri dalam pikiran sebagai target destinasi kuliner. Baca lebih lanjut

Categories: Culinary, Travel Note | Tag: , , , , , | Tinggalkan komentar

Bandar Lampung

@ Feri Merak – Bakauheni

Mau ke Puncak macet, ke Bandung macet, ke Dieng juga khawatir macet di tol Cikampek.  Kalau liburan akhir tahun harap maklum macet dimana mana.  Liburan buat refreshing, karena macet bisa jadi bt kuadrat.  Mau liburan naik pesawat juga tanggung, waktunya hanya dapat 2 malam 3 hari, bisa mahal diongkos.

Ngirit traveler tidak pantang menyerah, diputuskan berlibur ke Bandar Lampung, siapa tau tidak macet kalau kearah sana.  Benar juga, Rabu 31 Desember kami berangkat pagi dari markas di Bogor, jalanan lancar jaya sampai Merak.  Bogor – Merak tembus 2 jam, nyaman betul nyetir pagi itu. Baca lebih lanjut

Categories: Culinary, Travel Note | Tag: , , , , , , | Tinggalkan komentar

Belitong, H2

Granit

Batu Granit adalah batuan beku dalam atau batuan plutonik yang berwarna terang dengan butiran mineral yang terlihat cukup besar.  Butiran mineral tersebut terbentuk dari kristalisasi magma yang lambat di bawah permukaan bumi.  Granit utamanya tersusun oleh mineral kuarsa dan feldspar, dengan sejumlah kecil mika, amfibol dan mineral asesoris lainnya.  Komposisi mineral-mineral inilah yang biasanya memberikan granit berwarna merah, merah muda, abu-abu ataupun putih dengan butiran mineral gelap terlihat di permukaannya.  Batu granit dapat dipoles untuk lantai dan dekorasi karena mempunyai variasi warna yang indah.

Catatan singkat saya untuk yang mau ke pantai Tanjung Kelayang atau Pantai Tanjung Tinggi, supaya pas duduk diatas granit bisa lebih menghayati dan merenungkan batu apa yang sedang diduduki.  Kita akan tambah menyadari betapa sempurna nya Allah dalam menciptakan sesuatu.  Takbir!!! Baca lebih lanjut

Categories: Culinary, Profesionalism, Travel Note | Tag: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Mozza Bistro

Ade @ Mozza Bistro

Mau makan serba keju di Bogor, datang saja ke Mozza Bistro.  All about cheese.  Resto di Jl Achmad Adnawijaya (Pandu Raya) no 128 Bogor, disebelah Surabi Duren SiKabayan Cafe yang super maknyus.  Saking serba keju, bangku makannya saja dibuat mirip kaya keju-keju raksasa.  Walau masih tahap uji coba bukanya, tapi saya rasa sudah ok pelayanannya.  Yang kurang hanya di discount nya saja diperbesar, hehe.

Sensasi culinary duet maut sangat terasa, gimana nggak. Mozza Bistro spesial serba keju, aroma Belanda kental terasa. Bertetangga dengan Kabayan Cafe spesial Surabi Duren, tradisional kudapan khas tanah Pasundan.  Cita rasa blasteran sangat kuat terasa, mungkin di kota lain tidak ada yang seperti ini.

Malam minggu lalu kami makan di Mozza Bistro, nyobain Taiwan Crispy Fried CK Hot Plate + Rice dan Chicken Katsu With Cheese, dengan minumnya Lemon Tea Mint Jumbo.  Karena kami orangnya penuh dengan rasa kebersamaan, jadi makannya satu plate berdua.  Maklum sudah larut malam, dinner nya nggak boleh banyak-banyak, lagi diet ketat.  Kalau mau jujur sih, sebenarnya ini cuma modus kami untuk ngirit saja. 😛 Baca lebih lanjut

Categories: Culinary | Tag: , | Tinggalkan komentar

Foresthree

Kk & Me

Tempatnya x lapangan futsal, sekarang disulap jadi cafe nge hit seantero Bogor raya.  Gimana nggak ngehit, duplikat pohon African-baobab yang segede gambreng saja ada didalam cafe, dengan latar depan hamparan hijau rumput sintetis untuk area berselfie ria.  Jadi silahkan mau berfoto pake gaya salto, kayang, levitasi, koprol, handstand dll bisa diperagakan disini semua. Baca lebih lanjut

Categories: Culinary | Tag: , | Tinggalkan komentar

Kuliner Malam Bogor

Gulai Tikungan

Gulai Tikungan

Berburu kuliner malam di Bogor, yang anti mainstream, coba ke seberang Seafood Bonex 69 / Soto Lamongan 99, Jalan Jenderal Soedirman Bogor.  Sekarang banyak anak muda yang kreatif dan mandiri pada buka tenda kuliner seputaran Taman Peranginan Kota Bogor.

Tenda Gultik

Tenda Gultik

Tikungan pintu masuk ruko Alamanda dan Pecel Lela ada yang jual Gulai dengan nama Gultik atau Gulai Tikungan, sepiring hanya 10 ribu rupiah, tapi nasinya minimalis, pas untuk yang sedang masuk masa diet.  Warung tendanya minimalis, sehingga tidak menggangu tikungan jalan masuk yang ada.

Ketan Susu Coklat Keju Sultan

Ketan Susu Coklat Keju Sultan

Menu Sultan

Menu Sultan

Dekat Gutik ada yang jual Ketan Susu dan Wedang Ronde, namanya warung tenda traditional food Sultan.  Ketan Susu Coklat Keju nomor satu rasanya, sip banget, ehm #yummy.  Wedang Ronde nya juga wokeh, bikin badan dan hati jadi lebih hangat.  Duduk di kursi hingga lesehan pun ada di warung tenda Sultan.  Ketan Susu tersaji dipiring kaleng jadul yang menambah keunikan sajian.

Wedang Ronde

Wedang Ronde

Ketan Susu Keju

Ketan Susu Keju

Sate Maranggi Asin X Taichan

Sate Maranggi Asin X Taichan

Jalan sedikit dari tenda Ketan Susu Sultan, akan bertemu dengan warung tenda Sate Maranggi Asin x Taichan, selalu ramai pembeli, didominasi anak muda.  Per tusuknya Rp.4000, jual lontong juga, biar tambah pas makan satenya.  Di jamin ramai sampe cari tempat duduk saja full.  Kami saja satenya dibungkus, makannya nebeng di warung Gultik, piringnya juga pinjam yang punya warung Sultan.

@ Sate Maranggi Asin X Taichan

@ Sate Maranggi Asin X Taichan

Komplit sudah kuliner malam dengan kombinasi Gulai, Sate, Ketan Susu ditutup dengan Wedang Ronde.  Selamat berburu kuliner malam di Bogor, bro…
Categories: Culinary | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

OJJU k-food

Rolling Cheese & Chicken Drumstick

Rolling Cheese & Chicken Drumstick

Mau merasakan kuliner dengan antrian lebih dari satu jam, silahkan datang ke restaurant OJJU k–food, Kota Kasablanka, Jakarta.  Kami saja antrinya satu setengah jam lebih, luar biasa bukan.  Tapi aneh, nunggunya nggak pakai kesel, soalnya bisa sambil window shopping di mall Kota Kasablanka.  Nomor antrian minta di counter depan restaurant, sedangkan check progress antrian ada di www.ojju.co.id/kk/b, jadi nggak usaha bengang bengong nunggu di depan restaurant.  Antrian terbagi 3 grup, 1-3 pax, 4-6 pax dan >7 pax, o ya.. jangan lupa kalau terlewat 3 nomor, antrian anda akan hangus, ihik.  Waspadalah waspadalah jangan sampai terlewat.

Restaurant Korea satu ini agak berbeda dengan restauran Korea lainnya, diatas meja dilengkapi kompor camping buat masak-masak.  Menu makannya juga tidak terlalu banyak, ada Budae Jjigae dengan pilihan Beef, Chicken, Seafood atau Vegetables, kami coba yang Seafood.  Menu Rolling Cheese dengan paket pilihan Beef Ribs, Chicken Drumstick atau Chicken Wings.  Kami pesan Chicken Drumstick plus Nasi Goreng supaya bisa lihat telor lope nya.  Selain itu ada menu Andong Jjimdak, untuk menu satu kami tidak pesan. Baca lebih lanjut

Categories: Culinary | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Warung Makan Mbak Tum

Warung Makan Mbak Tum

Warung Makan Mbak Tum

Warung tenda pinggir pertigaan jalan MT Haryono daerah Peterongan – Semarang.  Jualan Nasi Gudeg, Lontong Opor, Koyor, Ayam Goreng, Babat Goreng dan Pete.  Kami tahunya dari supir Blue Bird, infonya Ivan Gunawan beserta crew pernah makan di Warung Makan Mbak Tum ini.  Di acara Dangdut Academia, Ivan Gunawan juga bertestimoni masakan Mbak Tum rasanya juara sekali bro.  Otomatis sebagai agen rahasia dunia perkulineran tentunya kami sempatkan makan di warung Mbak Tum. Baca lebih lanjut

Categories: Culinary | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.