Travel Note

This like travel diary

Belitong, H34

Pulau Lengkuas, View nya Wow

Salah besar kalau cari lengkuas di Pulau Lengkuas.  Nggak ada budidaya lengkuas di pulau Lengkuas.  Yang ada Mercusuar tua yang dibangun jaman penjajahan Belanda, tahun 1882.  Konon tingginya 70m, kalau nggak percaya silahkan ukur sendiri.  Penggagasnya bernama L.I Enthoven, jaman dulu disebut Mercusuar L.I Enthoven.  Susahkan bacanya.  Karena susah, sempat dirubah sama om dari Inggris jadi pulau Lighthouse.  Karena masih susah juga dilidah warga, akhir nya jadilah Pulau Lengkuas.  😛

Pagi hari ketiga, bergegas berenang di pantai Tebing Tinggi, sebelumnya mampir di Tanjung Kelayang untuk cek perahu.  Siapa tahu ada perahu yang nganggur untuk bisa antar ke Pulau Lengkuas.  Aneh seperti kemaren saja, orang-orang bilang perahu semua sudah full booked.  Tapi beberapa orang menyarankan, dicoba lagi  siang hari siapa tahu ada perahu kosong, karena sudah antar tamu yang sewa.

Safety First, Tanjung Kelayang

Ok kalau gitu kami berenang dulu saja di pantai Tebing Tinggi. Berenang di Pantai Tebing Tinggi sangat recomended buat bersama keluarga, pantainya tidak terlalu curam, ombak juga tidak terlalu membahayakan, pasir nya juga halus, jadi pas banget untuk lokasi bermain di pantai.

Keasyikan berenang  dipantai tidak terasa jam sudah meunjukan 12 siang.  Setelah makan Indomie dan minum air kelapa pinggir pantai, kami putuskan untuk cari makan siang sambil ke arah Tanjung Kelayang lagi.  Usaha lagi untuk cari kapal ke Pulau Lengkuas.

Cari rumah makan nggak nemu, akhirnya sampai lagi ke Pantai Tanjung Kelayang.  Cek kesana kesini siapa tau ada perahu nganggur.  Apa daya semua sudah full booked lagi.  Ngobrol ngobrol sama koordinator kapal disana, namanya pak Kuku, beliau bilang mending cari makan saja dulu, karena belum ada juga yang kosong kapalnya.  Tinggalkan saja no telpon nanti dihubungi kalau ada yang kosong.

Pulau Burung

Dengan langkah yang gontai, karena tidak tercapai niat untuk melaut, kami bergegas ke mobil, dengan rasa kecewa yang dalam.  Saya ke toilet untuk membuang kekesalan yang terpendam.  Beres dari toilet, hp berdering keras, terlihat dari pa Kuku.  Saya angkat ternyata ada kabar gembira, ada kapal kosong yang dapat antar kami ke Pulau Lengkuas.  Yes… Alhamdulillah.

Sewa kapal Rp.450.000, dengan lama waktu terserah.   Baju pelampung 20 ribu per orang.  Saat pakai baju pelampung, kami lihat beberapa kapal berlabuh, terlihat beberapa penumpang pucat pasi, sampai ada yang pingsan juga.  Waduh sepertinya ombak agak besar nih.

Mental kami siapkan, walaupun belum makan siang.  Berlayar dimulai, awalnya ombak bersahabat.  Foto foto dekat Pulau Burung dapat dengan mudah didokumentasikan.  Lepas dari pulau Burung, crew kapal minta sebaiknya hp, kamera dll dimasukkan kedalam tas, soalnya ombak akan besar.

I believe I can Fly

Pulau Pasir / Gosong Pasir tidak nampak, karena lagi musim pasang.  Sekitar bulan April, gosong pasir timbul terlihat.  Setelah melewati area gosong pasir, ombak mulai membesar.  Kami hanya ketawa tawa menikmati ombak segede gajah menerjang.  Teriak ketakutan dan ketawa sudah tidak bisa dibedakan, saking besarnya ombak menerjang.  Khawatir kapal patah, tapi karena juru kapal tampak tenang, kami juga jadi tenang.

Gimana nggak pisan penumpang kapal yang kami lihat tadi dipinggir pantai.  Ombaknya aja besar bingit.  Kalau yang mabuk laut bisa mabuk kepayang nih.  Alhamdulillah sampai di Langkuas, banyak elang bertembangan di atas Lengkuas.  Bikin sensasi agak berbeda.  Pulau cukup ramai wisatawan, sehingga perlu pintar-pintar dalam cari spot foto agar tidak terkesan seperti dipasar mana begitu.

Karena belum makan siang dan kenyang digoncang ombak besar, kami pesan teh manis hangat plus Pop Mie, guna mengusir angin dan menghangatkan perut, disalah satu warung Pulau Lengkuas.  Tempat ciamik banget sebagai obyek berfoto dengan latar Mercusuar atau laut lepas dtambah ornamen bongkah besar batu Granit disana sini, beralaskan hamparan pasir putih, seputih hatimu. 😛

Mercusuar Pulau Lengkuas

Minta tolong saja ke anak kapal, mereka siap bantu dalam mengambil foto.  Beres foto di Langkuas, kami ke kapal lagi, untuk lanjut snorkling nggak jauh dari pulau.  Awalnya agak ragu, karena tidak punya perlengkapan snorkling.  Bermodal kacamata renang saja, kami nyebur kelaut, ternyata sudah ditunggu ratusan ikan ikan hias didalam sana.  Cantik benar ikan ikan, ada yang biru spot light berenang kesan kesini.  Ditangkap sangat sulit, walaupun jumlahnya sangat banyak.  Luar biasa, baru kali ini merasakan sensasi ditemani ikan ikan di dalam laut.

Tebar roti, ratusan ikan mulai mendekat.  Terumbu karang tidak telalu dalam, 2 meter saja sudah bisa bertemu karang.  Mantap lokasinya.  Tampak beberapa kapal bertambat, karena menunggu sang majikan bermain dengan ikan di alamnya, laut biru.

Konsentrasi dgn Granit

Kami snorkling tidak lama, karena waktu itu belum sholat Dzuhur maupun Ashar, sehingga kami bergegas untuk kembali.  Gelombang tidak seheboh waktu berangkat, sehingga tidak terlalu banyak tantangan.  Sampai dekat pulau Kepayang, kami tidak mampir, khawatir kesorean ditambah ada aggota yang masuk angin jadi diputuskan untuk segera ke Tanjung Kelayang.  Ternyata benar juga, hujan turun dengan derasnya.  Karena dari tadi sudah basah dengat air laut, sekarang dibilas dengan dengan air hujan, jadi beres untuk urusan bilas membilas.

Dengan baju basah kami bersegera ke hotel untuk mandi dan sholat.  Beres rapih badan, kami lanjut untuk ke RM Dapoer RR untuk makan nasi goreng sea food, dilanjut berburu pempek Mama Rio untuk dipesan sebagai oleh oleh.  Berbekal google map tidak susah juga cari pempek Mama Rio, di pingggir jalan Bambang Utoyo, Parit, Tanjung Pandan.

Aku Bahagia

Hari keempat, hari terkahir, tidak banyak melakukan aktifitas, hanya santai santai saja di kamar, sambil nunggu waktu check out.  Dilanjut beli oleh oleh di toko oleh oleh samping BW Suite Hotel.  Oleh oleh beres dilanjut kulier di mie Atep dengan menu tambahan berupa nasi tim.  Kuliner perpisahan yang akan selalu teringat sepanjang masa.

Trip Belitung diakhiri dengan menunggu kedatang Sriwijaya di Bandara Internasional H.A.S Hanandjoeddin.  See u on the next trip bro.

Iklan
Categories: Travel Note | Tag: , , , , , , | Tinggalkan komentar

Belitong, H2

Granit

Batu Granit adalah batuan beku dalam atau batuan plutonik yang berwarna terang dengan butiran mineral yang terlihat cukup besar.  Butiran mineral tersebut terbentuk dari kristalisasi magma yang lambat di bawah permukaan bumi.  Granit utamanya tersusun oleh mineral kuarsa dan feldspar, dengan sejumlah kecil mika, amfibol dan mineral asesoris lainnya.  Komposisi mineral-mineral inilah yang biasanya memberikan granit berwarna merah, merah muda, abu-abu ataupun putih dengan butiran mineral gelap terlihat di permukaannya.  Batu granit dapat dipoles untuk lantai dan dekorasi karena mempunyai variasi warna yang indah.

Catatan singkat saya untuk yang mau ke pantai Tanjung Kelayang atau Pantai Tanjung Tinggi, supaya pas duduk diatas granit bisa lebih menghayati dan merenungkan batu apa yang sedang diduduki.  Kita akan tambah menyadari betapa sempurna nya Allah dalam menciptakan sesuatu.  Takbir!!!

Pantai Tanjung Kelayang

Lanjut lagi ke cerita hari kedua di Belitong, tepatnya Minggu 23 Desember 2017, dengan mobil avanza rental, kami mulai perjalanan ke Tanjung Kelayang.  BW Suite ke Tanjung Kelayang jalanan relatif sepi, tidak ada trafic jam seperti di Jakarta.  Nyaman betul nyetir di Belitung, buat terlena para supir, jauh dari stress jalanan kaya di ibukota.  Sensasi nyetir di Belitung luar biasa nikmatnya.

Cuaca kurang bersahabat, sampai di pantai Tanjung Kelayang, disambut hujan pagi yang cukup lebat.  Tapi tidak meredam semangat kuntuk menyalurkan hasrat hobi fotografi amatiran dengan gaya seprofesional mungkin.  Upload langsung ke IG juga tidak ada kendala, karena wisata Belitung sudah di back up dengan sinyal 4G yang mumpuni.  Tinggal siapkan saja kuota data internet anda bergiga giga banyaknya.

Pulau Burung Garuda

Sedih, cari kesana kesini, kapal yang mau antar ke island hopping, ternyata sudah full booked, maklum musim liburan, travel-travel kebanjiran order, otomatis kapal kapal banyak yang disewa jauh hari.  Sedangkan kami apaan atuh, hanya wisatawan lokal yang bermodalkan go show saja dan muka memelas guna mendapatkan fasilitas lebih yang ada.  Kapal tidak dapat, bukan berarti kami putus harapan.  Harapan kami bangkitkan lagi dengan bergegas ke Pantai Tanjung Tinggi, untuk bersegera foto dengan batu granit.

Jalan ke arah Pantai Tanjung Tinggi, kami sempatkan berhenti, antara laut dan jalan.  Angin kala itu cukup kencang, sensasi luar biasa.  Tripod kamera pun tidak sanggup melawan hempasan angin yang kuat.  Kaki tripod kami kubur dalam pasir pantai yang putih agar kuat berdiri.  Ngirit traveler berpose full team dengan bermacam gaya.  Tapi maaf hasil fotonya kurang bagus. 😛

Pantai Tanjung Tinggi

Saat asyik berfoto, tiba-tiba ada mobil yang tidak diundang, menerobos ke pantai dekat kami berdiri, lalu terperangkap dalam pasir pantai putih.  Mobil tersebut tidak bisa maju dan mundur lagi, mater habis di pasir pantai.  Isi nya cewe semua, yang anehnya bukannya sedih malah tertawa tawa.  Begitu tingkah sebagian wisatawati jaman now, nggak jelas tujuannya ngapain.  😛

Aktifitas berfoto terhenti, melihat mobil aneh itu mater di pantai.  Karena kami ini orangnya baik hati dan suka menolong, mau nggak mau, kami bantu bebaskan mobil itu dari gigitan pasir pantai.  Kami bantu dorong, malah cewe yang nyetir cengar cengir sendiri sambil buat snapgrap kami yang sedang dorong mobil.  Nggak dibantu, kasihan karena nggak ada orang lain disana.  Setelah banyak orang yang bantu, kami mundur dari evakuasi mobil aneh bin ajaib itu.  Saat kami mau jalan, mobil tersebut sudah dapat terbebas dari pasir pantai.  Syukur deh, lain kali dont do  stupid job like that ya mbak.

Saya, Granit & Merica

Pantai Tebing Tinggi dihapit batu granit di kanan kirinya.  Batu granit terhampar dan berdiri dengan gagahnya, menambah keeksotisan pantai Tanjung Tinggi.  Ada yang insitu maupun bongkah besar yang membundar.  Cukup unik foto diatas batu granit, dengan latar lautan lepas.  Aneh nya diatas granit tumbuh juga pohon merica.  Kuat juga nih akar pohon merica, batu saja dilawan om.

Karena hari kedua ini tidak berkustom anak pantai, jadi untuk acara berenang dipantai ditiadakan.  Kalau lagi foto diatas granit hati-hati jangan sampai jatuh, dibutuhkan keberanian untuk loncat antar batu, dan mendaki dibatu yang licin.  Yang penting pertama adalah konsentrasi, sedangkan yang kedua adalah selfie. 😛

Beres berfoto ria di Pantai Tanjung Tinggi, kami putuskan besok kembali lagi dengan kustom anak pantai, supaya dapat berenang sepuasnya.  Perjalanan dilanjut lagi ke arah Hotel Santika, penasaran di tempat yang sepi ada hotel berbintang berdiri.  Ternyata Hotel Santika Belitung sangat ciamik arsiteturnya, hotelnya menghadap kelaut, ada kolam renang dekat pantai, taman tertata rapih, pokoknya juara banget nih hotel.  Recommended untuk wisata keluarga dan yang berbulan madu.  Enak tempatnya untuk menyepi dan mencari inspirasi.  Cobain deh nginap disana, jangan lupa ajak-ajak ngirit traveler juga ya.

Pantai Tanjung Tinggi

Belitong Timpo Duluk

Dari HS kami langsung turun lagi ke Tanjung Pandan, untuk berburu wisata kuliner yang the best.  Pilihan jatuh ke Rumah Makan Belitong Timpo Duluk.  Di bantu denggan google map akhirnya sampai juga di rumah makan yang dituju.  Unik habis rumah makannya, dijamin menyesal kalau tidak sempat makan disini.  Rumah lama yang disulap jadi rumah makan, dengan ornamen panjangan interiornya bernuansa jadoel pisan.  Menu masakannya khas Belitung semua.  Mau Gangan juga ada, menu Ikan, Cumi, Udang semua ada, dengan bumbu dan  cita rasa khas Belitung asli yang tiada tara.

Bayar pake debit BCA juga bisa disini, dengan catatan harus ada saldo yang mencukupi, kalau kosong atau minim tentu berhadapan dengan pihak berwajib.  Masakannya enak banget, lagi lagi sulit dilukiskan dengan bahasa sastra tingkat tinggi sekalipun.  Artis artis banyak juga yang pernah kesini, foto dokumentasi para tamu artis terpampang semua di dinding rumah makan.  Tetapi artis tempo dulu nya nggak terlihat tuh, hehe.

Makan beres, dilanjut sholat di Mesjid Jami seberang rumah makan.  Waktu itu masih pukul 2 siang diputuskan perjalan dilanjut ke Gantung untuk melihat SD replika Laskar Pelangi dan Museum Kata nya bang Andrea Hirata.

Tanjung Pandan – Gantung lebih kurang sejam lebih perjalanan, suasana jalan sepi buat sensasi nyetir yang berbeda dengan biasanya.  Jalan mulus dan didominasi dengan jalan yang lurus, so kebayangkan sensasi nya.  Lagi lagi, nggak stress kaya nyetir di ibukota.

SD Laskar Pelangi

Sampai di Gantung kami lihat replika SD laskar pelangi dulu, yang dipakai syuting film laskar pelangi.  Bangunan hanya terdiri dari 2 kelas berdinding papan, beratapkan seng karat, plang SD Muhamadiyah Gantong tergantung depan tengah bangunan.  Bangku dan meja kayu coklat mendominasi interior kelas, menghadap ke arah papan tulis kapur tempo dulu dengan lantai beralaskan pasir putih kuarsa khas Belitung.

Yang fonomenal sang saka merah putih depan sekolah dan dalam kelas, yang menambah spirit kebangsaan untuk dapat terus berprestasi.  Walaupun terlihat 2 batang kayu besar untuk menahan bangunan sekolah yang sudah condong miring.  Spirit Gantung goes to Paris nya masih kental terasa.

Seberang jauh bangunan sekolah terlihat rumah keong, tapi kami tidak kesana, karena sudah  sore, jadi mau kejar ke Museum Kata.  SD laskar pelangi sudah kami kunjungi, ditutup dengan beli merica sekresek besar buat oleh oleh para kerabat dan handai tolan.

Museum Kata

Bergegas kami  ke Museum Kata, tapi apa kata karena sudah jam 5 sore, museum tutup, sedih bingit.  Akhirnya kami cuma dapat berfoto saja depan luar museum.  Agak unik full color, jadi  cukup eye catching.

Karena sudah mendekati magrib, kami putuskan utk segera pulang ke Tanjung Pandan, mengingat suasana perjalanan yang rada sepi, jadi ngeri ngeri sedap terasa.  Sampai di Tanjung Pandan acara hari ini kami tutup dengan kuliner di Angkringan Mas Gembul, lokasi dipinggir jalan ke arah pantai Tanjung Pendam.

Menikmati kuliner kombinasi Jawa – Belitung, yang ramai dipadati pengunjung.  Bos angkringan nya ternyata orangnya gembul banget, pas banget nama warungnya.  😛

Categories: Culinary, Profesionalism, Travel Note | Tag: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Belitong, H1

Senja Belakang BW Suite

Itu Batu Satam bukan Batu Setan.  Beda ya.  Batu Satam = Tektite = Meleleh, bahasa dari Yunani nya.  Terbentuk hasil tumbukan meteorit atau asteroid yang jatuh ke bumi.  Kejadian yang jarang terjadi, sehingga batu Satam agak sulit ditemukan dibelahan bumi ini, karena langka otomatis memiliki harga jual yang cukup tinggi.  Batu Satam sangat terkenal di Belitong, terbukti ikon tugu di Tanjung Pandan, memajang Batu Satam segede anak sapi.

Demikian cerita singkat ilmiah saya ke team ngirit traveler saat ke Belitong kemaren.  Maklum sebagai wartawan majalah National Geology edisi sendiri, tentu harus bisa menjelaskan fenomena dari batuan-batuan yang ada.  😛

Satu lagi fenomena batuan di Belitong, yang bikin heboh dunia pertambangan dan perfilman, yaitu Granit.  Dipertambangan, coba deh pelototin itu yang namanya Timah Solder, batuan pembawa mineral timahnya itu Granit om.  Tapi uniknya tidak semua Granit pembawa mineral Timah, atau mineral Kasiterit (SnO2).  Sejak jaman Belanda juga sudah pada tahu yang namanya tambang timah itu di kepulauan Bangka Belitung.  Sssst jangan lupa Kuala Lumpur Malaysia juga bekas lokasi tambang Timah yang sudah mineclosure.  Bangka Belitung sebaran batu Granit nya tidak diragukan lagi, karena berupa Batolit, Batolit adalah batuan beku yang terbentuk didalam dapur magma.  Coba deh dilamunkan, Bangka Belitung berupa Batolit, gunung apinya segede apa ya??

Tidak semua Granit di Belitong pembawa mineral Kasiterit.  Granit dibagian Barat Laut Belitong kaya akan mineral Kasiterit, seperti Granit di pantai Tanjung Kelayang, pantai Tebing Tinggi serta Pulau Lengkuas.  Granit ini berumur Trias atau ±208 – 245 juta tahun yang lampau.

Intrusi granit dibagian selatan Belitong, seperti di pantai Penyambong, Bukit Baginde dan pantai Klumpang tidak mengandung Kasiterit.  Granit tsb berumur Jura  atau ±144 – 208 juta tahun yang lampau.  Ingat ya di akhir periode Jura ini ada meteor raksasa menabrak bumi, mungkin ini benang merah yang menjelaskan adanya Batu Satam di Belitong.

Intrusi granit paling muda tersebar di Timur Laut Belitong, Pantai Burungmandi dan Gunung Bolong – Tanjung.  Berumur Kapur atau ±115 – 106 juta tahun yang lampau.

Oh ya, please jangan mimpi dulu mau kerja numbukin batu granit, untuk dapat timahnya, sampai jaman Star Wars pun pekerjaan itu tidak akan bisa dilakukan.  Manusia sama Allah diberi kemudahan lagi yang luar biasa, batuan Granit pembawa Timah itu lapuk secara alami lalu tererosi  ke lembah lembah, sehingga manusia tidak perlu lagi susah-susah menumbuk granit.

Konon  zaman Es, Bangka Belitung itu berupa puncak gunung tinggi, diperkirakan air laut Indonesia surut 140m dari permukaan laut saat ini.  Terjadi erosi di batuan Granit, mineral Kasiteritnya karena berat tentunya terbawa air menuju lembah sungai.  Jadi kalau eksplorasi timah, yang jadi hot topic adalah dimana alur sungai purbanya.  Karena di lembah sungai purba itu konsentrasi mineral Kasiterit cukup berlimpah.

Booth Kedatangan

Cukup dulu ya kuliah geologi timah nya, khawatir pada ngantuk bacanya.  Sekarang kita masuk keulasan wisata bareng ngirit traveler dulu.  Siapa tau bisa jadi inspirasi para traveler di seluruh antero dunia… Aamiin .

Awal nya sih mau wisata ke Maldivies, tapi apa daya budget kantong tidak cukup plus waktu yang terbatas.  Jadi diputuskan berlibur ke Belitung, dekat, dapat dengan waktu yang singkat serta bersahabat dengan kantong.  Kebetulan crew ngirit traveler belum ada satupun yang pernah wisata ke Belitung.  Otomatis wisata ke Belitung disetujui secara aklamasi.

Sabtu 22 Desember jam 3 pagi, beker berbunyi kencang, membangunkan tuk bersegera ke airport.  Maklum markas ngirit traveler di Bogor, jadi masih butuh effort yang kuat untuk mengejar pesawat Sriwijaya jam 7 pagi.  Alhamdulillah, perjalanan Bogor – SoeTa – H.A.S Hanandjoeddin International Airport Belitung berjalan lancar, kendalanya hanya kantuk berat saja.

Kami termasuk penumpang terakhir yang keluar dari Bandara Belitung, bukannya karena sibuk foto di booth kedatangan tapi karena tidak ada  yang tau harus sewa mobil dimana.  Semua taxi one way, dari bandara langsung ke hotel, sedangkan kami ngirit traveler ini orangnya sangat aktif, mau nya foto-foto dimana gitu plus explore kulineran dulu.  Taxi jadi nggak ada yang mau, maklum mereka sudah buat janji dulu dengan wisatawan lainnya.

Sebagai leader ngirit traveler, saya langsung merubah wajah jadi memelas, supaya ada yang merasa iba.  Alhamdulillah, bertemu dengan pak Hatta yang baik hati dan tidak sombong.  Beliau dengan ikhlas menawarkan jasa mobilnya dipakai mengantar crew ngirit traveler kemana kau mau.

Dengan sigap kami aklamasi, “pak Hatta please antarkan kami untuk narsis dulu di Danau Kaolin atau Danau Biru”.   Dengan sabarnya pak Hatta antarkan kami ke Danau Kaolin yang cukup fenomenal dalam kancah wisata Belitung.  Saking baiknya pak Hatta juga bantu ambilkan foto kami berempat dengan latar Danau Kaolin yang baru terguyur hujan.  Warna putih mendominasi, seputih warna hati crew ngirit traveler.

Mie Atep adalah sasaran kami selanjutnya.  Ada yang bilang kalau tidak makan di Mie Atep berarti belum pernah ke Belitung.  Khawatir dituduh tidak pernah ke Belitung, dengan lembut kami memohon ke pak Hatta agar diantarkan segera ke Mie Atep.  Awalnya kami agak ragu, jadi pesannya hanya dua dulu, soalnya issue yang berkembang mie nya agak manis, kamikan sudah manis jadi kalau ditambah manis bisa jadi giung kan… hehehe.

Sendokan pertama kami lalui, sendokan kedua kami mulai hakul yakin, ternyata mie Atep ini sangat luar biasa enaknya.  Super sekali, bikin nagih habis.  Tanpa basa basi, kami tambah dua porsi lagi untuk memuaskan nafsu dektektif rasa kami yang terpendam.  Banyak foto foto artis dan petinggi negara ini singgah di Mie Atep, luar biasa sangat terkenal seantero penjuru Indonesia Raya.  Lokasi tidak jauh dari Tugu Batu Satam Tanjung Pandan.  Saking enaknya cerita Batu Satam tidak saya lanjutkan ke crew ngirit traveler, karena semua sedang sibuk menikmati kelezatan tiada tara Mie Atep Belitung.

Mie Atep beres disantap, selanjutnya kami coba cek in ke Hotel BW Suite, waktu itu masih jam 12 siang, belum bisa check in.  Di jaman now check in hotel umum nya jam 2 siang, tidak secanggih hotel di Muara Teweh, jam berapa saja diterima.  Koper kami titip di front office hotel, lanjut explorer kuliner Belitung jilid 2.  Dibantu dengan sarana Go Car yang sudah ada di Belitung.  Semua tinggal klik dan bersabar tunggu driver datang.

Kopi Kong Djie asli jadi sasaran.  Warung kopi pinggir jalan, the legend sejak tahun 1943.  Luar biasakan, google aja belum eksis di tahun itu.  Banyak warga Belitung bersama kerabat pada ngopi di Warung Kopi Kong Djie, sajiannya selain Kopi Hitam, ada juga Kopi Susu, Coklat Panas, makanan ringan seperti Kroket, Lemper, Telor Setengah Matang dll.  Coba deh perhatikan teko nya lebai banget, kaya teko anak raksasa.  Dipanaskan dengan kayu bakar.  Sekali seruput kopi Kong Djie, dengan sekejap hati jadi tentrem, badan jadi seger, luar biasa bukan? 😛

Saat kami ke Kong Djie, tamu yang datang banyak yang merokok, jadi crew ngirit traveler tidak berlama lama, khawatir terpapar bahaya asap rokok.  Sebenarnya hujan rintik menghadang depan warung kopi, dengan kesigapan Go Car, kami langsung meluncur lagi pantai Tanjung Pendam.

Bermodalkan payung bawaan, kami asyik berfoto di pantai Tanjung Pendam, ditemanin angin yang cukup kuat berhembus.  Pantai nya sepi, karena masih siang, ramenya kalau sunset atau malam.  Banyak warung jajanan disana, cukup sebagai sarana tempat untuk menikmati deburan ombak laut dan menemani matahari terbenam dikala senja.

Jam 2 siang kami klik lagi Go Car untuk bawa kami ke Hotel dari pantai Tanjung Pendam.  Check in beres, sampai dikamar, mulai terasa seharian belum bertemu nasi.  Sepakat kami putuskan untuk makan siang yang ke sorean, dengan menu yang dicari berupa Gangan Belitung.  Rekomendasi driver Go Car, RM Dapoer RR dekat BW Suite cukup ok untuk dicoba.

Swim @ BW Suite Pool

RM Dapoer RR bisa dicari di google, tinggal ketik, keluar deh alamat dan beberapa foto dokumentasinya.  Walaupun sore kami kesana ternyata masih banyak yang bersantap, berarti termasuk resto favorit banyak orang.  Saat kami coba Gangan Ikan…. ternyata rasanya sadis enak banget, saking enaknya sulit dilukiskan dalam kata kata sastra tinggi manapun.

Hari pertama yang melelahkan.  Mie Atep sudah, ngopi Kong Djie sudah, melahap Gangan di RM Dapoer RR sudah.  Tinggal olah raga untuk membakar kalori saja yang belum.  Sore itu kami putuskan berenang di hotel dengan suasana infinity pool dekat laut, sambil menunggu sunset datang.  Karena cuaca berawan sunset yang ditunggu-tunggu kurang maksimal penampakannya, kami akhiri acara berenang tanpa background sunset yang diharapkan.  Tapi tetap kami syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalanin hidup ini, melakukan yang terbaik.

Selanjutnya silahkan nyanyi lagu D Masiv sendiri ya bro.

Categories: Profesionalism, Travel Note | Tag: , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Libur Lebaran di Lombok

Senggigi Beach

Day 1, Rabu 28 Juni 2017Fly with Batik jam 1 siang.  Gagal sholat di Bandara, karena boarding on time, pelayanan yang prima.  Sampai di LIA (Lombok Insternational Airport) jam 16.00 WITA, foto-foto dengan backdrop lagi surfing, di pantai Mawun dan Selong Balanak.  Sholat jamak Dzhur – Ashar di mushola bandara LIA.  Sampai di hotel The Santosa Villas & Resort menjelang Magrib, bergegas kami melihat pantai di area belakang hotel.  Selesai lihat suasana pantai, saya lanjut cari motor rental untuk aktifitas selama di Senggigi, dapat di depan hotel, motor nya pak Ben.  Pak Ben ini usaha tour travel wisata Lombok, mau sewa motor, perahu, mobil dll selalu ada.  Kios usahanya seberang Indomaret Santosa Resort Senggigi, no hp nya di 087864892911.  Kalau kalian ke Senggigi mau cari rental motor, mobil perahu motor bisa hubungi beliau. Baca lebih lanjut

Categories: Travel Note | Tag: , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Namin Dago Hotel

Dekat Front Office

Hotel ini beralamat di jl Hasanudin no 10 Dago, Bandung.  Sebelah Toko Yu, toko mie yang tersoroh seantero daratan Bandung raya.  Namin hotel adalah salah satu hotel yang pernah saya booking terbanyak dalam satu malam.  Saya booking empat kamar sekaligus dalam satu malam.  Luar biasa tidak sejalan dengan visi ngirittraveler yang always ngirit.  Tapi mau dibilang apa, wong lebaran nya ngajak Ibu, Mertua, Ipar, Adek dan Keponakan, otomatis tidak cukup kalau satu kamar.

di Lobby

Lebaran kedua kemaren, kami sekeluarga besar dengan tiga mobil berangkat ke Bandung via Puncak Bogor.  Apa mau dikata berangkat jam 6 pagi sampai Dago jam 4 sore.  Luar biasa Bogor Bandung ditempuh 10 jam, seperti perjalanan jauh kemana saja.

Hotel Namin Dago Bandung cukup rekomendasi bagi anda yang akan ke Bandung, cari hotel di seputar Dago, nggak salah lagi cari saja Namin Dago Hotel.  Kalau nggak percaya lihat saja senyum-senyum kecerian di foto dokumentasi saya, siapa tau bisa menambah keyakinan anda.. 😛

Lantai 5

Lantai 5

Salam wisata di  Bandung raya.

Categories: Travel Note | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Marina Barrage

Santai dulu

Awal masuk biasa saja, seperti masuk ke bangunan dam atau bendungan.  Sempat heboh banyak kaki seribu yang mirip ulat di jalan masuk, maklum keluarga didominasi kaum hawa, yang handsome cuma sendiri.  Otomotis pada histeris kalau liat mahluk yang bernama ulat.  Kalau sudah gini biasa deh saya berubah menjadi super dad. 😛

Lantai dasar Marina Barrage banyak orang berolah raga, ada yang naik sepeda, ada yang berlari, semuanya terlihat terengah-engah dan berkeringat.  Semangat berolah raga warga Singapore sangat tinggi.  Sepertinya paham betul arti dari semboyan mens sana in corpore sano.

Dam Marina Barrage

Menikmati suasana lain saat berwisata di Singapore, silahkan coba visit ke Marina Barrage.  Dam reservoar fresh water, yang tidak jauh dari pusat kota.  Berfungsi untuk penahan air laut pasang kedalam teluk Marina atau pengontrol banjir, sumber fresh water , serta sarana rekreasi.  Lokasi nya bersebelahan dengan  Garden by the Bay.  Kalau mau kesana turun di Marina Bay MRT, lalu exit pintu B, lanjut jalan kaki ke halte bus 400 di Marina Bolevard.  Dekat halte bisa foto-foto dulu dengan background Esplanande di kejauhan.  Turun di pintu masuk Marina Barrage, pulang juga sama gunakan bus 400.

Layang Layang

Saat di lantai dasar kurang terlihat indahnya, tapi saat sampai di lantai atas, baru deh wow terbengong- bengong, indahnya pemandangan.  Hamparan  padang rumput hijau diatas gedung dengan latar skyscraper Singapore city dan laut biru.  Ramai orang pada berfoto dan bermain layangan.   Luar biasa indahnya Marina Barrage.

Ke utara pemandangan gedung-gedung di Singapore, ke selatan tampak kapal-kapal tangker berbadan besar sedang berparkir rapih di laut lepas.  Marina Bay Sand dan Singapore flyer sangat jelas terlihat.  Bisa jadi background yang ciamik untuk berfoto.  Banyak yang sedang melakukan foto prewedding di lantai atas Marina Barage.

Kejar Perahu

Yang nggak kalah serunya, banyak juga keluarga pada berusaha menerbangkan layangan dengan model yang lucu-lucu.  Anginnya cukup kencang, sangat ideal untuk bermain layang layang.  Tapi main layangannya tidak seseru di Indonesia, yang gunakan benang gelasan untuk saling mengadu layangan di udara. 😛

Banyak yang berleha-leha di padang rumput, sambil tersenyam senyum manja minta di foto.  Tempat yang sangat ok untuk berfoto keluarga.  Sekali lagi jangan lupa bawa tripod, jangan malas ntar bakal menyesal kalau tidak bawa.

@ Marina Barrage

Hebat benar diatas gedung saja, rumput hijau tumbuh subur.  Ide yang okeh untuk dicontoh.  Oya bangunan ini pernah mendapat penghargaan dari American Academy of Environmental Engineers and Scientists (AAEE) tahun 2009.  Dam ke 15 yang telah dibangun pemerintah Singapore, konon pembangunannya sendiri menghabiskan dana sampai 3milyar SGD.

Pantut ditiru nih bangunan, untuk perkotaan pesisir pantai Indonesia, sehingga ketersedian fresh water bisa teratasi, dan banjir ketika laut pasang dapat terkontrol.

Selamat berwisata.  Jangan lupa tonton video singkat berikut.

Categories: Travel Note | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Haji Lane

Jump @ Haji Lane

Kalau tidak salah, sudah dua atau tiga kali makan di Singapore Zam Zam, tapi kami tidak perhatikan gang satu ini.  Haji Lane berupa gang di area Kampong Glam, sejajar dengan Arab Street, tidak jauh dari Mesjid Sultan dan Singapore Zam Zam Restaurant.  Gang nya unik karena banyak butik house, cafe dan mural yang ciamik di dinding rumah tua.  Kalau mural lukisan outdoor bisa di dinding, trotoar dll ala seniman jalanan, sedangkan kalau graffiti kan tulisan nyeni di outdoor, jadi agak sedikit berbeda.

Tatap Mata Kami

Kalau di Bogor ada Taman Corat Coret, di Korea ada kampung mural di Ihwa Village, nah kalau di Singapore ada Haji Lane.  Sebagai penggiat fotografi amatiran, tentunya wajib mencari lokasi yang unik-unik untuk berfoto.  Liburan kemaren, kami ke Singapore dengan target explore foto di Haji Lane.

Haji Lane kalau dari arah North Bridge Road, dicirikan dengan cafe I am di depan mulut gang.  Tulisan cafe I am ini mirip tulisan merahnya Amsterdam difoto-foto.  Depan gang ada juga tulisan Haji Lane, jadi cukup mudah nyarinya.

Merah Putih

Jumat malam kemaren saat beres makan di The Ramen Stall, kami lanjut dengan cari Seven Eleven atau minimarket di sekitar Singapore Zam Zam, untuk cari mineral water.  Maklum di hotel kami menginap, Aliwal Park Hotel, hanya disediakan dua mineral water gelas saja.  Tentunya kurang, apalagi kalau malam, kk n ade suka bikin pop mie, otomatis kurang banget.

Nggak sengaja lihat gang Haji Lane dari seberang North Bridge Road.  Karena malam, gangnya agak gelap, tapi banyak muda mudi yang penuhi cafe di Haji Lane, karena agak remang dan kurang kondusif, kami putuskan untuk explore Haji Lane besok pagi.

Biru Tosca

Sabtu pagi, sebelum sarapan kami bergegas ke Haji Lane, maklum kami penganut faham photographer professional, yang salalu menyarankan berfoto di pagi hari.  Pagi hari sinar matahari membentuk sudut jadi sangat membantu pencahayaan yang natural.  Selain itu kalau pagi suasana masih agak sepi, jadi kalau berfoto di tempat wisata bisa lebih leluasa.  Bisa explore beragam gaya.  Gaya punggung, gaya batu, gaya kupu kupu dll.  😛

My 3 Angels

Kesan pertama, rumah rumah tua di Haji Lane disulap jadi butik dan cafe,  semua didandani habis exterior nya, berkesan sangat nyeni tampilan butik dan cafe nya.  Seni mural nya juga luar biasa, bisa lihat dari foto-foto di blog ini.  Nggak bakal nyesel deh foto di Haji Lane, jangan lupa bawa tripod juga, biar tidak reportin orang lain untuk berfoto full team.

Time After Time

Awalnya kenal Haji Lane ini, dari Instagram, bikin penasaran untuk explore nya.  Nah saran buat pak Menteri Pariwisata Republik Indonesia tercinta, ayo maksimalkan Instagram, meng hits kan suatu daerah bisa sangat efektif dan cepat.  Tentunya tetap dengan objek yang layak jual.

Pening Hours

Selesai explore dan bergaya di Haji Lane, kami lanjut sarapan di Singapore Zam Zam dengan menu Bihun dan Nasi Goreng Ikan Bilis, dengan minumnya Teh Tarik dan Kopi O.  Oya informasi juga untuk para pencinta kopi sejati yang sedang berwisata di Singapore, kalau cari Kopi hitam, cari saja Kopi O, jangan Kopi Cino, kalau Kopi Cino itu Cappucino maksud nya.

Orange Efek

Cinta Sampe Tuhe

Cinta Sampe Tuhe

Selamat berwisata.  Selamat berfoto.  Tetap stay tune di ngirittraveler, karena habis ini akan ngulas Marina Barrage.  Thx berat.. sewangsulna.

Note : Stasiun MRT terdekat Haji Lane adalah Bugis MRT Station, dari sini bisa dilanjut dengan jalan santai atau berlari kencang, hehe. 😛

Wow

Categories: Travel Note | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Liburan ke Semarang

Semarang dilihat dari lantai 30 dari Star Hotel

Semarang dilihat dari lantai 30 Star Hotel

Kk berenang di ketinggian

Kk berenang di ketinggian

Libur akhir tahun waktunya terbatas, karena kk masih ada ujian, hanya bisa tanggal 31 Desember, 1 dan 2 Januari saja.  Otomatis harus putar otak, ketempat yang berkesan, tidak pakai macet, dan bisa leha-leha tidur panjang.  Sebagai detektif wisata papan bawah, sudah pasti suka sama teka-teki seperti itu.  Setelah evaluasi mendalam beberapa destinasi serta biayanya, diputuskan ke Semarang saja.  Tanpa ragu seluruh anggota team setuju.

Sabtu, 31 Desember berangkat kami ke Semarang dengan kereta Agro Anggrek Pagi, jam 9.30 dari Gambir.  Sampai di Gambir kepagian, jam 7 pagi, otomatis dari jam 7 sampai di jam 9 hanya diisi dengan sarapan di Mc D plus bengang bengong nggak jelas mau ngapain lagi,.  Maklum traveler kerajinan. 😛 Baca lebih lanjut

Categories: Travel Note | Tag: , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Curug Cigamea

Curug Cigamea

Curug Cigamea

Maksud hati ingin wisata ke air terjun Niagara di Amrik, apadaya kurang cukup modal untuk dapat kesana.  Sebagai detektif geowisata profesional, ketidak cukupan modal bukanlah hambatan.  Yang penting semangat untuk melihat keindahan air terjun tetap membara.  Kebetulan kami belum lihat air terjun Cigamea, minggu kemaren kami luangkan waktu untuk kesana, meredam kekecewaan karena belum mampu ke air terjun Niagara. 😛

Curug Cigamea ada di kawasan Gunung Salak Endah, Kecamatan Pamijahan Bogor.  Kami masuk dari gerbang Gunung Sari Pamijahan.  Kawasan Gunung Salak Endah ada dua pintu gerbang masuk, satunya lagi dari gerbang Gunung Bunder.  Kawasan wisata ini banyak terdapat air terjun, ada Curug Cihurang, Ngumpet, Pangeran, Seribu dan Cigamea.

Pemandangan Dekat Gerbang Pamijahan

Pemandangan Dekat Gerbang Pamijahan

Selain air terjun, ada juga pemandian air panas, bumi perkemahan, wisata Kawah Ratu serta Panorama.  Panorama adalah lokasi berfoto dengan pemandangan lembah hijau dengan hamparan sawah yang luas, sangat menyegarkan mata, hati dan pikiran. Baca lebih lanjut

Categories: Travel Note | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Rumah Pohon Curug Ciherang

Rumah Pohon Curug Ciherang

Rumah Pohon Curug Ciherang

Dalam mendidik anak, kadang kita harus sekali-kali jauhkan mereka dari gadget maupun internet.  Kembali ke alam, berinteraksi dengan alam, agar dapat bertadabbur alam.  Sabtu pagi, libur panjang kemaren, sebagai the good father, saya ketuk kamar anak-anak, untuk bergegas ke alam terbuka.  Soalnya kalau tidak ke alam bebas, sudah dapat dipastikan, waktunya akan habis dengan gadget .  “Kemana kita Bi?”  Serentak bertanya.   Saya jawab “ke Rumah Pohon”.   Kaya Tarzan aja jalan-jalannya ke Rumah Pohon segala, hehe.  😛 Baca lebih lanjut

Categories: Travel Note | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.