Travel Note

This like travel diary

Danau Maninjau – Padang

@ Puncak Lawang Danau Maninjau

Hari ketiga

Saat kaki menginjak Ranah Minang, kk selalu bilang, “pokoknya wajib makan Gulai Itiak Lado Mudo” di Binuang Bukittinggi.  Beres packing barang, foto pagi depan Jam Gadang, lanjut naik delman plus kejadian horor, nahan kuda diturunan samping Istana Bung Hatta, kami lanjutkan traveling ke Danau Maninjau.

Lewat jalan Binuang, bungkus beberapa porsi Gulai Itiak Lado Mudo, maklum baru beres breakfast di hotel, jadi bekal bukusan untuk makan siang sambil memandang Danau Maninjau.  Akhirnya cita cita kk dapat terwujud.

Lihat Danau Maninjau dari Puncak Lawang, mobil dapat sampai dengan mudah.  Puncak Lawang dikelola swasta, tiket masuk perorang hanya sepuluh ribu rupiah.  Banyak pohon cemara di Puncak Lawang buat suasana tambah adem dengan latar kejauhan tanpak Danau Maninjau yang luas membiru.

Saking indahnya danau Maninjau, membuat goresan luka di tangan dan di kaki, karena terlalu bersemangat foto syuting sambil bergaya bajing loncat, karena usia keseimbangan jadi kurang sensitif, saya jatuh terjelambab, bagaikan buaya jatuh disiang bolong.  Sakitnya tidak seberapa tapi malunya itu loh luar biasa.  Untuk menghilangkan rasa malu saya pura-pura sibukan dengan ambil foto sana sini.  😛

Danau Maninjau adalah kaldera dari erupsi gunung Sitinjau, yang jejaknya dapat terlihat pada bukit sekeliling danau yang menyerupai dinding,  Danau membentang luas hingga ±100km persegi dengan kedalaman rata rata ±105m.  Luar biasa hasil kehendak dari Maha Pencipta, sempurna, indah, sempurna.

Perjalanan dilanjut sisi atas Danau Maninjau, saat lihat warung Pondok Kawa Daun di Gantiang kami berhenti untuk rehat siang, sambil menyantap bekal Itiak Lado Mudo, memandang Danau Maninjau dari arah atas, suasana makan siang yang super sekali.  Walau hanya makan nasi, timun, sambel ijo dan secuil daging itiak, terasa nikmat sekali, terhanyut suguhan panaroma indah depan mata.

@ Satu Karya – Pandai Sikek

Minumnya dengan Kawa, yaitu minuman yang terbuat dari racikan daun kopi.  Belum pernah rasakan kan?  Coba deh cari Pondok Kawa Daun di Gantiang Maninjau.  Dijamin nagih, minumnya juga dengan gelas dari batok kelapa, saat minum kepala akan manggut manggut tanda setuju kelezatan dari air Kawa.

Beres rehat lanjut ke Pandai Sikek untuk belanja kerudung dan mukena, masuk ke waktu saatnya ibu-ibu berbelanja oleh oleh dll.  Driver mengarahkan ke outlet Satu Karya, Pandai Sikek.  Tempatnya nyaman, selain outlet ada mushola juga dengan lantar pesawahan dan bukiit bukit hijau dikajauhan.  Konon barang barang dagangan di Bukit Tinggi, berasal dari Padai Sikek, jadi kami langsung ke sumbernya.  Banyak hasil tenun dan rajutan dijual di Satu Karya, tapi sayang disayang mukena ibu yang berukuran all size sudah tidak ada stock, habis terjual, terpaksa kami cari mukena dilain outlet.

Sampai di Padang, langsung ke Pusat Oleh-oleh Ummi Aufa Hakim di jl Veteran Padang.  Kripik Sanjai nya enak, ada model keripik kecil dan berwarna hijau.  Konon pak JK kalau beli oleh oleh seringnya ke toko ini.

@ Pondok Ikan Bakar Cabang Khotib Sulaiman

Sebelum check in ke Favehotel Olo Padang kami makan malam di Pondok Ikan Bakar Cabang Khatib Sulaiman, sajian bukan ayam atau daging lagi seperti rumah makan Padang umumnya, tetapi seafood yang diberi kuah khas Padang. Unik sekali silahkan coba.

Check in Favehotel Olo Padang, langsung pada istirahat, kalau sy kk dan ade lanjut bergerilya ke Gramedia by gocar, cari sesuatu untuk besok karena ummi genap 46 tahun.  Supaya berkesan dan memberi perhatian lebih.  Gramedia tidak jauh dari hotel, karena sudah malam dan cape seharian di mobil, kami gunakan bantuan gocar untuk PP nya.  Dapat barang langsung bungkus kado biar surprise.

Hari Keempat

Kalau booking kamar via Agoda dll jangan terburu buru, pengalaman sudah dua kali tidak memperhatikan service yang didapat.  Pesanan saya di Favehotel Olo Padang ternyata tidak termasuk breakfast.  Terburu buru karena harga murahnya saja tapi tidak cek service yang didapat,  Terpaksa pagi harus putar otak mau makan dimana?  Untuk para ibu saya arahkan breakfast di hotel.  Tapi kami anggota tetap ngirittraveler pantang mengeluarkan uang banyak kalau hanya sekedar breakfast.

Tripadvisor tidak sanggup kasih saran karena hari masih terlalu pagi.  Terpaksa dengan cara manual, saya lakukan survey darat keluar hotel sendiri, sambil perhatikan warung apa yang buka kearah depan Gramedia.  Tak jauh dari Gramedia Olo ada Bopet Rajawali Damar, kedai yang menjajakan Nasi Soto, Sup, Tahu Goreng dll.  Lihat kebersihan dan semangat pagi sudah buka,  saya jatuh hati agar bersegera ajak pasukan untuk breakfast disini.

Sampai di hotel hanya ummi saja yang mau diajak jalan keluar untuk breakfast, kk ade masih pada pw dengan ranjang tidurnya.  Honeymoon breakfast berdua dengan ummi saat hari miladnya, terasa sesuatu banget.  Sepanjang jalan saya wa ke kk untuk dibuatkan surat cinta tulus saya ke ummi.  Bahasa sastra tingkat laskar pelangi terpaksa dikeluarkan agar berkesan saat dibacakan. 😛

Ummi breakfast dengan nasi soto, saya dengan nasi sup.  Beres breakfast dan ngbungkus bekal Tahu Goreng dan Nasi Soto untuk kk dan ade dari Bopet Rajawali Damar, kami lanjut ronde kedua kuliner murmer, penjaja seberang Gramedia, makan Lontong Gulai Paku dan Salalauak.  Luar biasa jalan jalan ke Ranah Minang penuh dengan cerita kuliner.

Mesjid Raya Sumatera Barat

Sampe di hotel kami kasih surprise ke Ummi, berupa hadiah terbungkus rapih, yang dibeli dari Gramedia tadi malam.  Ummi terheran heran kapan ngbungkusnya, senyum cinta bahagia ummi semakin menjadi ketika ade bacakan surat cinta tulus saya buat ummi, yang sedang genap bertambah usia.  Semoga umur yang dilalui dapat keberkahan dari Allah SWT.

Sampe siang kami santai santai saja di kamar hotel menunggu waktu check out.  Keluar hotel arah bandar kami sempatkan foto depan Mesjid Raya Sumatera Barat, yang baru diresmikan dua tahun yang lalu.  Mesjidnya unik bagaikan bagian rumah Gadang raksasa, benar benar arsitektur yang cerdas gemilang.

See u Sumatera Barat, Sriwijaya jam 15.00 wib telah memulangkan kami ke Jakarta kembali.  Wasalam.

Iklan
Categories: Culinary, Travel Note | Tag: , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Bukittinggi – Payakumbuh

Panorama Ngarai Sianok

“Dari lantai atas hotel terlihat dikejauhan gumpalan awan putih tebal memanjang menutup Ngarai Sianok, posisi awan lebih rendah dari posisi memandang, bagai terperangkap dalam Ngarai.  Sebelah kiri mata memandang tampak gagah gunung Singgalang berdiri dengan kerucut yang tidak simetris lagi.  Sejuk udara pagi, indah nya mata memandang menjadi magnet tersendiri berwisata ke Bukittinggi”.

Hari pertama.

Kalau traveling sendiri atau sekeluarga inti itu sih biasa.  Tapi kalau traveling sama ibu yang sudah lanjut usia, itu baru namanya luar biasa, butuh kesabaran lebih dan perencanaan yang matang.  30 Mei ini ibu genap 71 tahun, kalau diajak jalan kaki terlalu lama sudah tidak sanggup, cepat lelah.  Sabtu lalu kami bersama ibu ke Bukittinggi, via Bandara International Minangkabau.

Di Bandara Soekarno Hatta request kursi roda untuk ibu dengan alasan lanjut usia.  Terminal 3 ultimate yang seluas itu dapat kami lalui dengan santai.   Kursi roda sampai depan pintu pesawat dan kami pun diperkenankan masuk terlebih dahulu dari penumpang yang lainnya.  Sampai di Bandara International Minangkabau, kursi roda penjemput pun sudah stand by menunggu, ibu dengan santainya berlalu ke pintu keluar.  Alhamdulillah satu rintangan terlampui.

Bandara ke Bukittinggi perlu mobil yang nyaman, agar bisa duduk nyaman sepanjang perjalanan.  Kalau go show cari rentalan di Bandara, dijamin bakal rame sama para calo, jalan keluarnya, jauh hari sebelum keberangkatan kami sudah pesan rental mobil via tiket dot com, dimana bisa pilih mobil seperti apa dan berapa lama hari akan disewa.  Tidak lepas kunci, ada driver nya, jadi salah jalan atau nyasar, kemungkinan tidak terjadi.

Air Terjun Lembah Anai

Dari Avanza hingga Alphard ada semua di tiket dot com, kami pilih Innova, karena kami berenam.  Dua nenek, dua paruh baya, dan dua lagi remaja putri.  Innova relatif baru dan terawat, sehingga nyaman selama perjalanan ke Bukittinggi.  Driver sudah terbiasa antar tamu wisata, jadi tidak asing lagi ke lokasi lokasi wisata yang ada serta kuliner yang sering dikunjungi wisatawan.

Terbukti saat keluar dari Bandara International Minangkabau, kami diarahkan makan di Lamun Ombak di km 24 Jl Padang – Bukittinggi.  Rumah makan yang sangat legendaris di Ranah Minang, cita rasa luar biasa, wisata kuliner pembuka yang sangat berkesan.  Soal harga tidak terlalu mahal tetapi dengan cita rasa kelezatan yang luar biasa.  Terbukti dari raut muka yang penuh kecerian sehabis makan di rumah makan Lamun Ombak.

Singgah di air terjun Lembah Anai, berfoto dengan latar batuan andesitik dan curahan air terjun yang tidak pernah berhenti.  Lokasinya pinggir jalan besar, sehingga membuat suasana yang agak berbeda dengan air terjun lainnya di Indonesia.  Tidak jauh dari air terjun banyak kolam pemandian dipinggir jalan, jadi kalau mengantuk saat berkendara bisa langsung nyebur biar segar kembali.  😛

Tak jauh dari lembah Anai, singgah di Minang Village di Padang Panjang, ada rumah adat khas Minangkabau serta tersedia penyewaan busana adat khas Minang.  Wisatawan dapat berfoto dengan busana adat Minang di depan rumah Gadang, lumbung padi ataupun pelaminan dilantai dasar .  Penata riasnya ada, jadi tidak perlu khawatir.  Semua pada semangat pakai busana khas Minang berikut suntiang nya.  Ibu tidak lama pakai suntiang karena berat.  Satu pengalaman yang seru kalau bisa singgah di Minang Village Padang Panjang ini.

Minang Village – Padang Panjang

Tak jauh dari Minang Village ada kuliner yang sangat dikenal seantero Indonesia Raya, yaitu Sate Mak Syukur.  Kami singgah disana untuk Magrib dilanjut makan sate yang seporsi berjumlah 9 tusuk plus ketupat.  Sate yang satu ini sudah jadi legenda tersendiri bagi kalangan wisatawan, jadi jangan sampai terlewatkan ya.

Sampai di Bukit Tinggi malam, langsung ke Grand Galery Hotel yang sudah dipesan lewat Traveloka.  Jadi kamar sudah dipastikan ada walaupun datang larut malam, maklum kalau weekend Bukit Tinggi sangat padat dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.  Hotelnya agak unik 2 lantai keatas dan 2 lantai kebawah.  Alhamdulillah sudah ada lift jadi ibu tidak terlalu berat naik turun ke kamarnya.

Semua pada rehat di hotel karena lelah lama duduk di mobil, kalau saya langsung kelayapan ke jam Gadang, liat suasana seperti apa kalau malam minggu di Jam Gadang, ternyata ramai sekali dipadati wisatawan.  Jam Gadang kalau malam terlihat cantik karena sudah diberi efek cahaya yang berganti ganti warna seperti di Monas.  Ambil foto, upload instagram, langsung deh banyak jempol yang masuk ke smartphone. 😛

Hari kedua.

Dari lantai atas hotel terlihat dikejauhan gumpalan awan putih tebal memanjang menutup Ngarai Sianok, posisi awan lebih rendah dari posisi memandang, bagai terperangkap dalam Ngarai.  Sebelah kiri mata memandang tampak gagah gunung Singgalang berdiri dengan kerucut yang tidak simetris lagi.  Sejuk udara pagi, indah nya mata memandang menjadi magnet tersendiri berwisata ke Bukit Tinggi.

Perjalanan pagi dimulai dari Panorama Ngarai Sianok dengan bayar tiket masuk Rp 15000 per orang.  Masya Allah kata pertama yg terucap kala panorama indah dari Ngarai Sianok tampak jelas didepan mata.  Tebing tebing batuan tuff berwarna coklat keabu-abuan berdiri tegak di kanan kiri lembah sawah hijau terhampar luas memanjang, sebagai saksi bisu dari efek kuat patahan Semangko.

Lobang Jepang

Mata pikiran hati terasa tenang melihat panorama alam Ngarai Sianok.  Tak lama hati bergetar mengingat keagungan Allah Sang Maha Pencipta. Sempurna sempurna.  Terimakasih ya Aĺlah, Kau telah menginjinkan kami sekeluarga untuk masih dapat melihat keagungan salah satu kehendak Mu.

Banyak kera di pagar Panorama, menunggu kemurahan para pengunjung memberi makan.  Cukup bersahabat tapi tetap harus waspada.  Kami turun ke Lobang Jepang, menuruni tangga lobang hingga turun jauh kedasar, lebih kurang 40 meter vertikal beda tinggi pintu dan dasar lobang.  Penerangan obor sudah tergantikan lampu, mempermudah pengunjung menelusuri jejak penjajahan Jepang.  Lobang tidak dibuat setengah lingkaran seperti tunnel tambang bawah tanah, tetapi berbentuk trapesium.  Tidak masalah karena lubang dibuat pada endapan ignimbrit, mau dibuat segitiga saja, sepertinya masih ok.  Gilanya dinding lubang tidak dibuat rata, berfungsi meredam suara keluar. Ruang mesiu, rapat prajurit, penyiksaan masih tampak baik tertinggal jelas.  Disatu lokasi terlihat jelas lensa batupasir kuarsa dalam dominasi batuan tuff.  Sensasi jalan dibawah kuburan bisa dirasakan dalam Lobang Jepang ini.  Salah satu ruangan pas 50m vertikal dibawah pemakaman umum Bukittinggi.  Lobang buang jenazah para romusha tetap dipertahankan, sebagai saksi bisu atas kekejaman para penjajah.

Museum Bung Hatta

Singgah di rumah masa kecil alm Bung Hatta, yang berubah menjadi museum Bung Hatta, tampak asri dan apik terawat oleh pemda setempat. Masuknya free.  Adem banget dalam rumah, bangunan dan interior jaman old tetapi tetap menginspirasi di jaman now.   Depan rumah ada tanaman asal negeri Belanda yang daunnya bisa berubah menjadi tiga warna.  Pak penjaga sudah bawakan batangnya untuk ibu agar ditanam di Bogor, tapi karena susah bawanya harus pakai air segala, akhirnya ditinggal di hotel, gagal dibawa pulang.

@ Pongek Or Situjuah

Makan siang di Pongek Or Situjuah, the best culinary at Payakumbuh.  Pongek itu sayur nangka yang cara masaknya konon berbeda dengan lainnya.  Sambel ijo nya nggak nahan, enak banget.  Dijamin kalau kesana tidak akan pernah sepi dari pengunjung.  Wisatawan datang bergelombang untuk dapat merasakan sensasi makan di restaurant ini.  Ikan dan sayur terong nya juga luar biasa enaknya.  Kalau ke Payakumbuh tidak makan disini, ibarat main ke kota Bogor tapi tidak makan soto kuning pak Salam, tentunya ada yang kurang.

Lanjut ke lembah Harau, salah satu lembah terindah di Indonesia, dijuluki Yosemite nya Indonesia oleh para pemanjat, tak jauh dari Payakumbuh ±18km.  Panorama berupa dinding dinding batuan breksi dan konglomerat yang menjulang tinggi, dengan sudut kemiringan relatif 90º.  Dasar lembah terhampar luas sawah nan hijau yang indah dipandang mata.  Rehat sejenak dekat air terjun yang debit nya tidak terlalu besar, dibawahnya ada kolam untuk para pengunjung yang ingin basah basahan. Dekat air terjun banyak warung masyarakat, menjajakan minuman dan jagung bakar.  Kalau kita sih sibuk makan kerumpuk opak yang diameternya nyaris 30 cm, dioles dengan bumbu sate padang, wow rasanya super sekali. 😛

@ Lembah Harau

Berfoto dengan background dinding batuan setinggi 100 meteran agak susah susah gampang, posisi ambil fotonya harus sambil melantai atau mengaspal, biar terlihat tinggi tebingnya.

Dari air terjun ke spot wisata lainnya yang berbau Korea kw dua, info ibu warung masih di area Sarasah Bunta.  Kesan pertama mirip suasana film korea, banyak yang berbusana tradisional Korea, jadi serasa seperti di negeri ginseng.  Ada dua bangunan dengan design gaya Eropa campur Minang, ditengah lapangan pasir putih yang luas tertanan pohon kering yang tak berdaun, hanya tertinggal batang dan rantingnya saja.  Beralaskan hamparan pasir putih, pohon kering tak berdaun serta bangunan bergaya Eropa, jadi lokasi sport foto yang cukup ciamik.

Dari lembah Harau ke Kelok 9, arsitektur jembatan layang yang luar biasa, meliuk liuk melawan kerasnya ceruk lembah sungai yang terjal.  Dari liukan jalan layang yang dibuat, lebar dan grade jalan dapat lebih bersahabat sehingga arus kendaraan sudah tidak perlu berjibaku lagi dengan bau kompling ataupun rem.  Diresmikan era pak Sby, dikerjakan beberapa kontraktor BUMN papan atas.  Lihat terjalnya tebing dan lebatnya hutan, berdecak kagum atas kegigihan pembuatan jalan layang di Kelok 9 ini.  Jalan lama masih tetap ada dan difungsikan, sedangkan jalan baru selain mempelancar arus lintas Pakanbaru – Payakumbuh juga sebagai spot foto baru yang luar biasa, yang menunjukan salah satu hasil karya besar anak bangsa.

@ Kelok 9

Payakumbuh, jangan lupa makan sate Danguang Danguang, kuliner yang tidak boleh terlewat. Pondok sate di pusat kota, di Jl Soekarno Hatta, karena parkiran penuh kami putuskan makan di rumah Rico sepupu kami.  Daging satenya agak besar, aroma kuahnya sangat kuat dan ketupatnya agak padat sehingga membiat rasa nikmat tersediri dalam menyantap sate yang satu ini.  Terimakasih Rico n family, kau telah menyuguhkan sate yang luar biasa lezatnya, kalau ke Bogor dont worry, akan kami suguhkan Roti Unyil dan Lapis Talas. 😛

Sampe di Bukittinggi malam, langsung ke rumah makan Family Benteng Indah, tapi sayang beribu sayang, ayam pop nya sudah habis.  Ingin sekali makan ayam pop di rumah makan ini, konon sebagai cikal bakal penemu menu ayam pop, yang saat ini sudah populer seantero dunia.  Karena belum jodoh, eksplore kuliner di Family Benteng Indah masih belum terwujud.

Hari 3 & 4, ikuti artikel berikutnya ya sob…

Categories: Culinary, Travel Note | Tag: , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Makassar

@ Fort Rotterdam

Seumur umur belum pernah ke Sulawesi.  Long week end akhir Maret lalu ke Makassar biar kesampaian dapat ke Celebes, sekalian explorer seputar Makassar.  Waktu hanya tiga hari, sangat terbatas lokasi yang dapat dikunjungi.  Sudah lama tidak jalan jalan, terakhir ke Lampung, awal tahun, hampir satu triwulan tidak jalan jauh sekeluarga.  Itinerary tidak dibuat, breakdown kasar hanya didalam pikiran saja.

Rencana liburan hanya mau santai-santai saja, leha-leha di hotel sambil berenang dan wisata kuliner Makassar, namanya juga liburan tiga hari.  Coto Makassar, Pisang Ape, Pallubasa, Konro Karebosi sudah terpatri dalam pikiran sebagai target destinasi kuliner. Baca lebih lanjut

Categories: Culinary, Travel Note | Tag: , , , , , | Tinggalkan komentar

Rammang Rammang

@ Rammang Rammang

Jangan dibaca remang remang ya.  Baca saja Rammang Rammang yang artinya sekumpulan awan atau kabut.  Lokasi geowisata yang lagi ngehit dijaman now, tidak jauh dari Makassar, lebih kurang satu setengah jam dengan mobil via tol.  Lokasinya di Kabupaten Maros.  Makanya dibilang Maros Hidden Paradise.

Awalnya tidak ada niat kesana, karena selama di pesawat nonton film The Nekad Traveler.  Salah satu lokasi syuting nya di Rammang Rammang.  Terkagum kagum lihat sekilas keindahan alamnya, bentangan morfologi karst, jadi penasaran mau kesana. Baca lebih lanjut

Categories: Travel Note | Tag: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Bandar Lampung

@ Feri Merak – Bakauheni

Mau ke Puncak macet, ke Bandung macet, ke Dieng juga khawatir macet di tol Cikampek.  Kalau liburan akhir tahun harap maklum macet dimana mana.  Liburan buat refreshing, karena macet bisa jadi bt kuadrat.  Mau liburan naik pesawat juga tanggung, waktunya hanya dapat 2 malam 3 hari, bisa mahal diongkos.

Ngirit traveler tidak pantang menyerah, diputuskan berlibur ke Bandar Lampung, siapa tau tidak macet kalau kearah sana.  Benar juga, Rabu 31 Desember kami berangkat pagi dari markas di Bogor, jalanan lancar jaya sampai Merak.  Bogor – Merak tembus 2 jam, nyaman betul nyetir pagi itu. Baca lebih lanjut

Categories: Culinary, Travel Note | Tag: , , , , , , | Tinggalkan komentar

Belitong, H34

Pulau Lengkuas, View nya Wow

Salah besar kalau cari lengkuas di Pulau Lengkuas.  Nggak ada budidaya lengkuas di pulau Lengkuas.  Yang ada Mercusuar tua yang dibangun jaman penjajahan Belanda, tahun 1882.  Konon tingginya 70m, kalau nggak percaya silahkan ukur sendiri.  Penggagasnya bernama L.I Enthoven, jaman dulu disebut Mercusuar L.I Enthoven.  Susahkan bacanya.  Karena susah, sempat dirubah sama om dari Inggris jadi pulau Lighthouse.  Karena masih susah juga dilidah warga, akhir nya jadilah Pulau Lengkuas.  😛

Pagi hari ketiga, bergegas berenang di pantai Tebing Tinggi, sebelumnya mampir di Tanjung Kelayang untuk cek perahu.  Siapa tahu ada perahu yang nganggur untuk bisa antar ke Pulau Lengkuas.  Aneh seperti kemaren saja, orang-orang bilang perahu semua sudah full booked.  Tapi beberapa orang menyarankan, dicoba lagi  siang hari siapa tahu ada perahu kosong, karena sudah antar tamu yang sewa. Baca lebih lanjut

Categories: Travel Note | Tag: , , , , , , | Tinggalkan komentar

Belitong, H2

Granit

Batu Granit adalah batuan beku dalam atau batuan plutonik yang berwarna terang dengan butiran mineral yang terlihat cukup besar.  Butiran mineral tersebut terbentuk dari kristalisasi magma yang lambat di bawah permukaan bumi.  Granit utamanya tersusun oleh mineral kuarsa dan feldspar, dengan sejumlah kecil mika, amfibol dan mineral asesoris lainnya.  Komposisi mineral-mineral inilah yang biasanya memberikan granit berwarna merah, merah muda, abu-abu ataupun putih dengan butiran mineral gelap terlihat di permukaannya.  Batu granit dapat dipoles untuk lantai dan dekorasi karena mempunyai variasi warna yang indah.

Catatan singkat saya untuk yang mau ke pantai Tanjung Kelayang atau Pantai Tanjung Tinggi, supaya pas duduk diatas granit bisa lebih menghayati dan merenungkan batu apa yang sedang diduduki.  Kita akan tambah menyadari betapa sempurna nya Allah dalam menciptakan sesuatu.  Takbir!!! Baca lebih lanjut

Categories: Culinary, Profesionalism, Travel Note | Tag: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Belitong, H1

Senja Belakang BW Suite

Itu Batu Satam bukan Batu Setan.  Beda ya.  Batu Satam = Tektite = Meleleh, bahasa dari Yunani nya.  Terbentuk hasil tumbukan meteorit atau asteroid yang jatuh ke bumi.  Kejadian yang jarang terjadi, sehingga batu Satam agak sulit ditemukan dibelahan bumi ini, karena langka otomatis memiliki harga jual yang cukup tinggi.  Batu Satam sangat terkenal di Belitong, terbukti ikon tugu di Tanjung Pandan, memajang Batu Satam segede anak sapi.

Demikian cerita singkat ilmiah saya ke team ngirit traveler saat ke Belitong kemaren.  Maklum sebagai wartawan majalah National Geology edisi sendiri, tentu harus bisa menjelaskan fenomena dari batuan-batuan yang ada.  😛 Baca lebih lanjut

Categories: Profesionalism, Travel Note | Tag: , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Libur Lebaran di Lombok

Senggigi Beach

Day 1, Rabu 28 Juni 2017Fly with Batik jam 1 siang.  Gagal sholat di Bandara, karena boarding on time, pelayanan yang prima.  Sampai di LIA (Lombok Insternational Airport) jam 16.00 WITA, foto-foto dengan backdrop lagi surfing, di pantai Mawun dan Selong Balanak.  Sholat jamak Dzhur – Ashar di mushola bandara LIA.  Sampai di hotel The Santosa Villas & Resort menjelang Magrib, bergegas kami melihat pantai di area belakang hotel.  Selesai lihat suasana pantai, saya lanjut cari motor rental untuk aktifitas selama di Senggigi, dapat di depan hotel, motor nya pak Ben.  Pak Ben ini usaha tour travel wisata Lombok, mau sewa motor, perahu, mobil dll selalu ada.  Kios usahanya seberang Indomaret Santosa Resort Senggigi, no hp nya di 087864892911.  Kalau kalian ke Senggigi mau cari rental motor, mobil perahu motor bisa hubungi beliau. Baca lebih lanjut

Categories: Travel Note | Tag: , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Namin Dago Hotel

Dekat Front Office

Hotel ini beralamat di jl Hasanudin no 10 Dago, Bandung.  Sebelah Toko Yu, toko mie yang tersoroh seantero daratan Bandung raya.  Namin hotel adalah salah satu hotel yang pernah saya booking terbanyak dalam satu malam.  Saya booking empat kamar sekaligus dalam satu malam.  Luar biasa tidak sejalan dengan visi ngirittraveler yang always ngirit.  Tapi mau dibilang apa, wong lebaran nya ngajak Ibu, Mertua, Ipar, Adek dan Keponakan, otomatis tidak cukup kalau satu kamar.

di Lobby

Lebaran kedua kemaren, kami sekeluarga besar dengan tiga mobil berangkat ke Bandung via Puncak Bogor.  Apa mau dikata berangkat jam 6 pagi sampai Dago jam 4 sore.  Luar biasa Bogor Bandung ditempuh 10 jam, seperti perjalanan jauh kemana saja.

Hotel Namin Dago Bandung cukup rekomendasi bagi anda yang akan ke Bandung, cari hotel di seputar Dago, nggak salah lagi cari saja Namin Dago Hotel.  Kalau nggak percaya lihat saja senyum-senyum kecerian di foto dokumentasi saya, siapa tau bisa menambah keyakinan anda.. 😛

Lantai 5

Lantai 5

Salam wisata di  Bandung raya.

Categories: Travel Note | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.