Posts Tagged With: Cemoro Lawang

Bromo

Bromo dikala fajar

Sangka kami ke Bromo akan lewat Tumpang – Gubukklakah, ternyata tidak.  Mobil penjemput berputar ke Lawang – Pasuruan – Tongas Probolinggo – Cemoro Lawang.   Sebenarnya kalau kami bermalam di Surabaya juga tidak masalah.  Travel Bromo yang kami gunakan Cak Fredi yang bermarkas di Surabaya.

Jam 10 malam kami sudah di bel mobil penjemput.  Jaket dan peralatan perang musim dingin sudah kami siapkan.  Mobil penjemput, Avanza hitam dengan driver yang selalu ceria menceritakan wisata Jawa Timur.  Awal perjalanan kami banyak tanya, karena trafik Malang – Lawang cukup padat, akhirnya kami tertidur pulas.  Bangun-bangun depan Indomart Tongas untuk rehat sejenak, sebelum masuk ke Jl Raya Lumbang, jalan masuk ke Bromo dari arah Utara.

Rehat beres, driver minta posisi duduk dirapatkan, jadi bangku tengah diisi Ummi, Kk dan Ade.   Karena jalan yang akan dilewat, tikungannya agak mirip trek jet coaster, dengan medan yang menanjak.  Mobil akan selalu berkecepatan tinggi dengan ac dimatikan supaya dapat menaklukan semua tanjakan.   Tak lupa mengucapkan Basmalah, perjalanan dilanjut lagi.

Tengah malam buta, di Jl Raya Lumbang – Raya Bromo kami menikmati kecepatan mobil diatas rata rata dengan jalan berkelok kelok, badan terlempar kanan kiri bagaikan suasana di arena jet coaster. Ade Kk bukannya takut malah tertawa ria menikmati goncangan kanan kiri mobil berkecepatan tinggi.  Sepanjang jalan Raya Bromo kami tidak tidur karena goncangan yang luar biasa, sepanjang jalan tampak penjaja rental jeep menawarkan jasa.  Losmen, Villa, Hotel sudah banyak disana.

O ya kalau mau ke air terjun Madakaripura juga lewat jala Raya Lumbang yang kami lewati tadi.  Tujuan mobil penjemput ini, mengantarkan kami sampai Villa Transit di seputaran Jl Raya Bromo.  Sampai di Villa Transit jam 1 malam, dingin sangat terasa menusuk kulit, jaket tebal langsung digunakan.  Rehat sejenak di villa sambil menunggu Jeep Hartop menjemput.

From Pananjakan

Jam 1.30 malam kami lanjut lagi perjalanan dengan Jeep Hartop dengan tujuan ke Pananjakan.  Sengaja kami berangkat lebih awal supaya dapat parkiran lebih diatas dekat pintu masuk Pananjakan.   Kegelapan pagi hari buta ngirittraveler team menyebrangi lautan pasir pegunungan Tengger dengan Jeep 4 wheel drive tua, sensasi yang jarang terjadi, dengan tekat untuk dapat melihat Sun Rise di puncak Pananjakan.

Jam 2.30 sampai kami di Pananjakan, Jeep tidak terlalu jauh parkir dari pintu masuk.  Dingin mulai menggila, terasa menusuk tulang, ditambah hantaman angin dingin yang selalu menerjang dari berbagai arah.  Terlihat banyak wisatawan yang mulai kedinginan mencari perlindungan dalam warung kopi yang banyak buka dekat pintu masuk.  Kios kios souvenir pun non stop tidak tutup, karena selain menjual souvenir juga menjual dan menyewakan jaket tebal, syal, kupluk, sarung tangan untuk melawan dingin yang wow sekali dingin nya.

Kami juga mulai panik kedinginan, Ummi mulai sesak nafas.  Sebagai alumni pendaki gunung sejati, dengan sigap saya tukarkan jaket tebal saya ke Ummi.  Saya ajarkan ke team agar telinga selalu tertutup kupluk supaya badan akan terasa hangat.   Team langsung saya ajak ke warung untuk menikmati secangkir teh hangat dan gorengan tempe yang panas.  Setelah sesak nafas Ummi mereda, sekitar jam 3 lebih, kami jalan ke puncak Pananjakan untuk cari lokasi tempat duduk .

View point di puncak Pananjakan luar biasa angin dinginnya, tidak mengenal lelah berhembus kencang, dingin sangat terasa hingga tulang.  Berjuang kami melawan dingin sambil menunggu waktu Subuh, tak banyak yang dapat kami lakukan.  Andalan hanya selimut sewaan dari penjaja.  Kalau mau kreatif seperti KK, lari lari ditempat saja sambil menggigil super kedinginan.

Mau rasakan berwudhu dengan rasa yg wow banget, silahkan berwudhu di puncak Pananjakan dijamin ok banget.  Sholat subuh di mushola yang tak berdinding, otomatis selama sholat selalu diterjang angin dingin yang mengingatkan kami kepada kebesaran sang Kholik.

Beres subuh urusannya beda lagi, ratusan orang di view point puncak Pananjakan, otomatis suasana kaya pasar malam, penuh banyak orang yang akan menunggu sun rise.  Sedikit demi sedikit matahari menunjukan sinarnya yang dinamakan sang fajar.  Ribuan hp ratusan kamera mulai mengabadikan sunrise yang rupawan.   Mau nggak mau kita mengikuti budaya orang banyak, berselfie saat sunrise dengan senyum yang dipaksakan, karena belum pada sikat gigi.  Hehe. 😛

@ Pasir Berbisik

Bagian kanan view poin, bagian Selatan, pemandangannya  wow banget.  Hamparan pasir Tengger, Bromo dan Gunung Semeru tampak jelas sangat mempesona.  Salah satu bagian Wonderful Indonesia yang tidak boleh dilewatkan untuk diabadikan.  Berlomba lomba orang pada berfoto dengan background yang spektakuler ini.

Pulang dari Pananjakan, macet berat, sehingga kami tertidur dalam Jeep.  Memasuki pada pasir, diputuskan untuk tidak ke puncak Bromo, maklum kita kan jenis wisatawan pemalas.  Maunya duduk manis dah sampai, malas berjuang dengan berjalan yang ending nya cuma untuk berfoto doang.

Melewati ratusan jeep yang sedang parkir diatas lautan pasir, untuk antar majikan naik ke puncak Bromo, kami lanjut ke Pasir Berbisik.  Lokasinya unik, dengan bentangan pasir yang begitu luas, tanpa tanaman, berlatar Gunung Bromo dikejauhan, terpaan angin yang begitu kuat, sehingga membuat efek berbisik yang membuat jiwa jiwa yang sombong, dapat tersadar betapa kecilnya manusia dihamparan luas bumi ini.

@ Bukit Teletabis After Fire

Lama kami di Pasir Berbisik, mulai duduk di pasir, loncat di pasir, hingga berhayal diatas pasir.  Setelah puas kami lanjut ke Bukit Teletabis.  Bukit Teletabis sebagian bukitnya jadi korban kebakaran, jadi tidak hijau seperti Bukit Teletabis di acara TV.  Tidak masalah karena kami sudah kebelet mau cari toilet, kebetulan di parkiran Bukit Teletabis ini ada toilet.

Di Bukit Teletabis ini kami latihan berkuda, untuk mendapatkan sudut foto yang mumpunin.  Berkuda di tengah lautan pasir Tengger rasanya gimana gitu, sepintas tampak seperti di gurun Mongolia, yang dicirikan dengan berkuda dan bekupluk di kepala.

Puas dengan sensasi wisata Bromo, jam 11 an kami kembali ke Villa Transit, persiapan turun kembali ke Malang.  Bye bye Bromo, Wonderful Place @ East Java.

Iklan
Categories: Travel Note | Tag: , , , , , | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.