Posts Tagged With: Jalan Hang Jebat

Melaka

A Famosa

Kamis pagi (21/6/2018) terpana lihat Terminal Bersepadu Selatan (TBS), terminal bus dengan pelayanan sekelas bandara.  Mulai dari counter, wifi gratis, terminal keberangkatan dengan jadwal serba on time, parkiran bus jauh diluar terminal, tunggu giliran beroperasi, dan steril dari percaloan.  Kapan ya Kampung Rambutan bisa seperti ini?

Dari Kuala Lumpur ke Bandar Tasik Selatan naik KLIA Transit di KL Sentral lalu turun di stasiun Bandar Tasik Selatan, tiket 4,2 MYR/org.  Lanjut nyebrang di jembatan penyebrangan ke TBS.  Terminal terbesar, termegah dan termodern di negeri jiran.

Beli tiket Delima bus TBS – Melaka, 10 MYR/orang, busnya nyaman bagaikan bus  wisata.  Berangkat on time jam 11 sampai di Melaka Sentral ± jam 14.00 waktu setempat.  Di Melaka Sentral lunch di kedai Asam Pedas dengan menu khas masakan Melayu.

Smile

Malaka Sentral ke The Explorer Hotel Melaka, kami gunakan taxi dari counter, tarif standard per zonanya jadi tidak perlu khawatir.  Umumnya para supir taxi melayani tamu tamu yang akan berobat di Melaka.  Jadi kalau mau tau dimana rumah sakit yang bagus, silahkan tanya pa supir, pasti beliau tau.

Perjalanan ke hotel, lewat Kawasan Bangunan Merah Melaka, terlihat ramai turis berlalu lalang.  Hotel The Explorer berlokasi di tegah kota, tidak jauh Menara Taming Sari.  Menara wisata untuk melihat Melaka dari ketinggian.

Nuasa hijau terasa saat masuk The Explorer Hotel, ruang front office nya keceh habis, rada nyeni gitu deh, cost nya bersahabat dengan venue tengah kota, samping mall besar yang ada KFC nya. 😛

Check in beres, lanjut lihat benteng A Famosa, peninggalan Portugis, jejak bentengnya tinggal gerbang kecil yang disebut Porta de Santiago, namanya mirip mirip pemain bola asal Portugis ya. 😛

Seputar benteng banyak sepeda odong odong lalu lalang, lagunya dangdutan pula.  Jadi rame kaya suasana wisata Kota Tua Jakarta.  Kesan pertama dari Melaka, panas bingit bro, maklum daerah pesisir mirip Jakarta, dijamin sesi fotonya penuh keringat.

Melaka O Mile

Sebagai penggiat wisata jalan, dari A Famosa lanjut ke KM 0 Melaka, area Kawasan Bangunan Merah.  Numplek wisatan seluruh manca negara disini, kami satu satunya wisatawan dari daerah Cilebut, hehe. 😛

Mau foto di tengah bundaran jalan, dengan latar bangunan serba merah bata, di KM 0 Melaka ini tempatnya. Foto depan kincir air juga ada, mirip mirip di Belanda kw dua.

Kepalang cape, perjalanan kaki lanjut ke Jonker Street atau Jonker Walk atau Jalan Hang Jebat, suasana China Town nya kental terasa, banyak penjual aneka makanan dan pernak pernik.  Toko tokonya mirip toko toko tua di jl Suryakencana Bogor.

Jalan Hang Jebat

Jl Hang Jebat lokasi ciamik untuk berfoto, venue nya mirip di Hongkong.  Hehe emang nya ngirittraveler pernah ke Hongkong kah? So te u amir.  Dari ujung sampe ke ujung kami jalani, lumayan cape juga.  Sampe di ujung Jalan Hang Jebat, pertigaan jl Tokong, terasa kaki sudah tidak kuat lagi berjalan pulang ke Hotel, terpaksa panggil bantuan ke Grab Car, supaya bisa menuntaskan perjalanan pulang.  Selesai sudah perjalan di Melaka di hari Kamis, ditutup dengan dinner di KFC mal samping hotel.

Jonker Street

Jumat pagi (22/6/2018) bergegas kami ke Sungai Melaka, bukan untuk berenang di sungai ya, tapi mau naik Melaka River Cruise.  Ini ide bagus untuk ditiru wisata Jakarta dengan nama Ciliwung River Cruise.  Sungai Melaka tidak bening malah coklat butek tapi bersih dari sampah, tidak berbau, jadi bagus bagus saja buat wisata air.  Sungai Melaka ini membelah kota Melaka, jadi naik Melaka River Cruise kita bisa lihat sejarah dan kehidupan masyarakat Melaka dengan jelas.  Nggak percaya, silahkan cobaiin sendiri.

Banyak turis manca negara sudah antri, dengan tertib menunggu ke berangkatan dengan Melaka River Cruise.  Satu kapal muat lebih dari 20 wisatawan.  Kami gabung dengan para turis bule dan Tiongkok, jelas kalau turis dari Cilebut hanya kami saja, hehe. P

Melaka River Cruise

Sepanjang perjalanan di kapal dinyalakan suara rekamaan tentang sejarah Melaka, dengan penjelasan rinci sejarah setiap area yang dilalui kapal.  Ada cerita Kampung Jawa, cerita Kampung Morten, cerita café cafe pinggir sungai, cerita reboisasi pinggir sungai dsb.

Lumayan lama juga naik Melaka River Cruise, lebih kurang 45 menit, dengan panjang lintasan sungai 9km, harga tiket nya 23 MYR /orang.  Pengalaman wisata yang menarik serasa jadi turis mancanegara.  Selesai dari Melaka River Cruise, kami tutup dengan makan kelapa muda khas Thailand, kulit kelapanya dikupas habis, lucu dalam gelas plastik besar ditaruh daging putih kelapa yang terkupas bulat utuh tapi air kelapanya masih didalamnya, keren kan.  Agak susah jelasinnya, silahkan cari sendiri minum air kelapa dekat parkiran akhir Melaka River Cruise.

Kami jalan pulang lagi kearah hotel, sambil mampir ke pasar souvenir seberang kapal besar Museum Bahari.  Karena hari Jumat jadi yang cantik-cantik pada tunggu di hotel yang ganteng seperti saya berangkat ke Mesjid.  😛

Lumayan jauh juga jalan dari The Explorer Hotel ke Mesjid Kampung Hulu di jl Kampung Hulu Melaka, apalagi ditambah udara panas yang menyengat.  Tetapi karena kewajiban kaki tak gentar untuk terus berjalan kearah Mesjid, sempat nyasar nyasar sebentar, tapi Alhamdulillah banyak warga yang memberi petunjuk yang benar, sehingga dapat juga sholat Jumat di negeri tetangga.

Mesjid Kampung Hulu mirip rumah Joglo di Jawa, dominasi kayu, ada kolam besar didepan Mesjid untuk antisipasi air wudhu apabila pam mati.  Meriam kecil tua terpajang depan pintu masuk, menandakan sudah cukup berumur Mesjid ini.  Info dari bang Wikipedia, Mesjid Kampung Hulu ini mesjid tertua di Malaysia.

Mesjid Selat Melaka

Jumatan beres, lanjut makan dengan anak istri tercinta di resto Asam Pedas Selera Kampung Sdn Bhd, yang ramai pengunjung asal negeri jiran.  Makanan khas Melayu.  Saking ramainya lauk nomor wahid nya pada habis, tapi ngirittraveler team yang selalu nerimo, jadi dengan lauk apa adanya plus nasi selalu habis dilahap.  Maklum team yang banyak jalan kala berwisata, jadi butuh asupan nutrisi yang banyak, terutama dari nasi putih.  Hehe 😛

Beres lunch lanjut ke Mesjid Selat Melaka, by Grab Car.  Mesjid yang sangat cantik di pinggir Selat Melaka, banyak turis manca negara pada visit ke Mesjid  ini, otomotas banyak banyak turis dari Jepang, Korea dan Tiongkok yang mendadak berhijab.  Semoga syiar dari Masjid ini terpartri dalam sanubari para wisatawan.  Di area Masjid cukup lengkap ada kid corner, ada kursi pijat otomatis, ada kulkas minuman dsb.  Waktu kami datang saja, ada yang lagi akad nikah disana, para tamu undangan pada ngebotram di pelataran Mesjid yang menghadap ke laut lepas, selat teramai di Asia Tenggara.  Pengantin malah sibuk berfoto penganten di beberapa sudut Mesjid, soalnya ciamik banget lokasinya.

Samping Mesjid Selat Melaka

Liat tiang pondasi Masjid ini jadi ingat Masjid Terapung di Jedah, pinggir Laut Merah, silahkan baca Go To Makkah al Mukarramah.  Sedangkan lengkungan bagunan Mesjid Selat Melaka sangat mendominasi, agak mirip lengkungan bangunan Keong Mas Taman Mini.  Toko souvenir ada disamping Mesjid, banyak menjual parfum, peci haji, siwak dan perlengkapan ibadah umat Islam.  Alhamdulillah sempat merasakan sholat Ashar berjamaah di Mesjid Selat Melaka yang kece ini.   Pulang ke hotel by Grab Car lagi sambal menikmati Melaka dikala senja.

Setiap malam Sabtu dan Minggu, di Melaka selalu diadakan pasar malam, kalau pasar malam orang Melayu di seberang Menara Taming Sari, Jalan Merdeka. Sedangkan area pecinan juga ada pasar malam di Jonker Walk.

Nasi Goreng Pattaya

Makan malam di Thai Food Cuisine, di area Plaza Meredeka, samping hotel, dengan menu serba seafood yang tidak menguras isi dompet.  Menu yg dipilih Nasi Goreng biasa hingga Pattaya, plus tambahan Kerang, Kepeting, Sotong dan Otak Otak.  Busyet deh makan, hobi atau doyan ya?  Maklum mau wisata jalan di pasar malam, jadi karbohidrat dan protein harus banyak, hehe. 😛

Beres makan kami lihat lihat di pasar malam orang Melayu, banyak jajanan khas Melaka, contohnya Apam Balik Crispy, satunya 50 sen, kalau di Indonesia bisa dibilang martabak manis mini.  Karena penasaran kami lanjut lagi ke pasar malam di Jonker Walk, agar lebih merasakan suasana malam di Melaka.  Kesan pertama ramet banget, saking ramenya tidak ada satu sounenir pun yang kami beli, malah ummi beli spon ajaib untuk didapur.  Hehe cape deh.

Sekian ulasan dua malam di Melaka, semoga bisa bantu para traveler yang hendak ke Melaka.  Takbir.

Iklan
Categories: Culinary, Travel Note | Tag: , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.