Posts Tagged With: Pantai Tanjung Aan

Libur Lebaran di Lombok

Senggigi Beach

Day 1, Rabu 28 Juni 2017Fly with Batik jam 1 siang.  Gagal sholat di Bandara, karena boarding on time, pelayanan yang prima.  Sampai di LIA (Lombok Insternational Airport) jam 16.00 WITA, foto-foto dengan backdrop lagi surfing, di pantai Mawun dan Selong Balanak.  Sholat jamak Dzhur – Ashar di mushola bandara LIA.  Sampai di hotel The Santosa Villas & Resort menjelang Magrib, bergegas kami melihat pantai di area belakang hotel.  Selesai lihat suasana pantai, saya lanjut cari motor rental untuk aktifitas selama di Senggigi, dapat di depan hotel, motor nya pak Ben.  Pak Ben ini usaha tour travel wisata Lombok, mau sewa motor, perahu, mobil dll selalu ada.  Kios usahanya seberang Indomaret Santosa Resort Senggigi, no hp nya di 087864892911.  Kalau kalian ke Senggigi mau cari rental motor, mobil perahu motor bisa hubungi beliau.

Malam pertama kami isi dengan kuliner ngebakso, maklum habis lebaran, bosan lihat makanan berat, maunya ngebakso mulu.

Gili Trawangan

Day 2, Kamis 29 Juni 2017.  Trip ke Gili Trawangan, Meno dan Air dengan perahu motor pak Ben.  Berangkat jam 8.30 pagi, dilengkapi dengan life jaket.  Perjalanan Senggigi – Gili Trawangan dengan perahu motor lebih kurang 1 jam.  Pemandangan selama perjalanan dikiri lautan luas, dikanan pantai, tebing daratan, serta perbukitan yang agak menutup cahaya sang fajar di pagi hari.  Gili Trawangan dimulai dengan aktifitas berenang bersama, sambil mencoba Sbox baru.  Pantai nya benar-benar terawang, tembus pandang, jernih banget.  Berenang beres dilanjut bersepeda untuk cari ayunan di bagian Barat pulau, yang fotonya nghits di Instagram.  Sampai kami di pantai Pandawa dengan perjuangan nggowes sepeda yang tidak mudah, karena sepeda nya kurang sip, medan berpasir, serta deru debu dari delman atau cidomo yang berlalu lalang membawa orang beserta koper.

Pandawa Beach Gili Trawangan

Serasa di pantai sendiri, kami bergegas berfoto ria di ayunan, angin laut cukup kuat berhembus, background dikejauhan Gunung Agung Bali menjulang, menambah sensasi pantai yang tak mungkin terlupakan.  Bule bule turis dengan cuex nya berbikini serta berjemur yang dengan mudah dijumpai sepanjang mata memandang.

Beres di pantai Pandawa, kami bergegas gowes lagi dengan rute yang berbeda, dimana kami melewati depan hotel  Aston Sunset Beach dan Ombak Sunset.  Kedua hotel sangat direkomendasikan bagi yang mau bermalam di Gili Trawangan, untuk masalah harga silahkan ditanggung masing masing.

Jalur nggowes , muter ke arah Selatan, saat di cafe Paradise Sunset, berhenti sejenak untuk ambil pasir pantai putih yang seputih hati ku.  Serta terumbu karang kecil sebagai souvenir.  Capek juga nggowes sepeda yang kurang sip, di medan berpasir, di tengah terik matahari yang mulai memanas.

Sampai juga di starting point, sepeda kami kembalikan.  Lanjut jajan ice cream di Gili Gelato, yummy disaat panas pantai mulai membara.   Tidak puas dengan hanya gelato, kami lanjut lagi belanja roti khas Gili Trawangan, rasa nya ok banget, sangat ngangenin.

Gili Meno

Perjalanan dilanjut nyebarang ke Gili Meno dengan perahu motor.  Singgah untuk lunch dipinggir pantai, dengan menu nasi bungkus yang kami bawa dari Senggigi.  Gili Meno ada cafe, dengan meja makan di pinggir pantai, kami pesan spaghetti dan lumpia sebagai menu tambahan santap siang.

Gili Meno, agak sepi dibanding Gili Trawangan, tapi pantai nya agak sakit di kaki, banyak pecahan terumbu karang disepanjang pantai.  Tapi air laut nya jernih bisa tembus pandang, bikin betah berlama lama berenang disana.

Makan siang beres, berenang di Gili Meno beres, lanjut lagi pindah ke Gili Air.  Dekat Gili Air perahu berhenti, untuk cari objek kasih makan ikan dilaut.  Roti sudah kami sebar, tapi tak ada satupun ikan berkumpul.  Langsung pada loncat ke laut, dari atas air laut tampak tenang, ternyata dibawah arus nya cukup kuat, mungkin karena didaerah selat.  Air nya tembus pandang, terlihat beberapa ikan kecil tapi tidak berwarna seperti ikan hias, kami hanya sibuk menahan badan saja yang agak terseret arus air laut yang kencang, ditambah tidak biasa berenang dengan life jacket, akhirnya pada bercanda-canda saja ditengah laut yang jernih.

Gili Air

Perahu  mendekat pantai, kami bergegas turun ke pantai.  Pantai nya ok bingit, tidak sakit karena berpasir tidak berkarang, ditambah air laut yang jernih dengan ombak yang tidak besar, tapi dibawah terasa arus cukup kuat.  Kami berenang sepuasnya di pantai Gili Air, menikmati air laut yang jernih, rasanya bak di Maldives rasa Lombok gitu. 😛

Puas berenang di Gili Air, kami bergegas pulang dengan target bisa sholat jamak di Senggigi.  Perjalanan pulang agak mencekam, karena ombak yang cukup tinggi, angin kencang, seperti terombang ambing di tengah laut lepas.  Tas-tas pada basah karena diterjang deburan ombak yang menghadang lajunya perahu.  Muka terasa perih karena terkena air laut, yang sangat asin.  Maha Besar Allah yang menciptakan bumi dan seisinya, betapa kecilnya manusia ditengah lautan yang tak sanggup menghentikan ombak dan angin dilaut lepas.  Life jacket sudah terpasang kuat, berpegang kuat di perahu dan berdoa, itu saja yang dapat kami lakukan.

Sampai di Senggigi, bumi seperti bergelombang, efek kelamaan kena ombak.  Langsung di putuskan besok acara santai, tidak jadi ke air terjun Sindang Gile.  Makan malam beli di warung tenda, nasi Ayam Taliwang Goreng.  Beres makan jadi lupa penderitaan dihempas gelombang selama sejam disore hari tadi.

Senggigi Beach Hotel

Day 3, Jumat 30 Juni 2017.  Pagi kami isi dengan kegiatan berfoto ria di pinggir pantai, sampai ke halaman belakang Senggigi Beach Hotel yang makin bertambah asri.  Kebetulan jadwal check out di Hotel Santosa, tapi jadwal check in di Holiday Resort.  Ganti tempat untuk merasakan sensasi pantai yang lebih sepi.  Sebelum Jumatan barang sudah dititip di front office, saya Jum’atan sedangkan yang lain pada makan Sate Bulayak di pantai belakang hotel.  Habis Jum’atan agak terheran heran lihat AlQuran besar di panjang depan Mesjid Nurul Iman.  Jum’atan beres, makan Sate Bulayak beres, perjalanan dilanjut check in ke Holiday Resort.

Mangsit Beach, Holiday Resort

Hotel nya di pantai Mangsit, agak sepi di bandingkan Senggigi.  Asri, bersih terawat, banyak turis asing yang nginap.   Sore hari langsung kami bergegas ke kolam renang, untuk berenang.  Dilanjut main ombak di pantai sambil menunggu waktu sunset.  Sunset nya wow banget, pantainya tidak terlalu ramai warga, sehingga saat pengambilan foto nya agak mudah, tidak crowded.  Pengalaman yang tidak terlupakan bermain ombak dikala senja bersama keluarga, kenikmatan yang harus selalu di syukuri.  Makan malam ditutup dengan Ayam Taliwang bakar dan dibuka dengan bihun bakso, supaya makan nasinya jadi tidak terlalu banyak.

Sunset @ Mangsit Beach

Day 4, Sabtu 1 Juli 2017.  Pagi kami isi dengan bermalas malas manja, karena jam 10 an akan dijemput mobil rental, untuk hijrah lagi ke pantai Kuta.  Jam 11 an kami check out hotel.  Sambil jalan menuju ke Kuta, kami mampir dulu untuk beli oleh-oleh makanan ringan di Phoenix Mataram, beres beli oleh oleh satu dus plus sebotol madu khas Lombok.  Perjalanan dilanjut untuk santap siang di Ayam Taliwang Irama, untuk nyobain Plecing Kangkungnya.  Siapkan uang yang cukup kalau kuliner disana, lumayan harga Ayam Taliwang nya berbeda dengan di warung tenda, yang kami suka beli.  Makan siang beres di lanjut belanja kaos di pasar.  Informasi nya adalah pusat grosiran kaos kaos Lombok.

Songket Lombok

Perjalanan dilanjut ke Banyumulek, ke pusat pengrajin gerabah, untuk beli kendi maling, yang konon popular seantero jagat raya.  Lucu masukkan airnya dari arah bawah, tapi saat kendinya didirikan air nya tidak tumpah.  Ulekan cabe juga ada tapi nggak jadi beli, belinya kendi sama gelas-gelas saja.  Perjalanan dilanjut ke tenun songket lombok.  Infonya kalau gadis belum bisa nenun belum boleh nikah kalau di Lombok.  Waduh berat juga yach.  Di tempat tenun songket ini kami berfoto dengan busana tradisonal Lombok, tapi tidak ada yang dibeli.

Dusun Sade

Mampir kami ke Dusun Sade, kecamatan Pujut, Lombok Tengah, desa tradisional suku Sasak, dimana ada 100kk lebih disana yang tinggal di Dusun Sade.  Rumahnya lucu beratap ilalang, berdinding tanah liat dan bambu, beralaskan tanah yang dipel seminggu sekali dengan kotoran kerbau.  Infonya guna menghalau debu dan nyamuk.  Banyak penjaja kain tenun dan kerajinan lainnya seperti gelang.  Nggak terlalu lama disana, Cuma sibuk berfoto ria sama belanja gelang-gelang.

Sampai di Kuta, kami agak terkejut dengan hotelnya yang sudah uzur.  Tapi mau gimana lagi sudah dipesan 2 malam 2 kamar.  Ingin rasanya membatalkan tapi khawatir proses pembayaran sudah dilakukan.  Mau nggak mau diterima dengan hati yang berat.

Selesai check in, untuk menghilangkan rasa kesal, kami bergegas main ke pantai Kuta, lucu pasir pantai nya seperti merica.  Infrastruktur seperti jalan terlihat masih dalam proses pembangunan.  Bakal jadi pesaing Senggigi kedepannya.    Ayunan pantai ada beberapa yang dibuat, karena teluk jadi ombaknya tidak terlalu besar.  Pantai nya landai jadi cukup asyik untuk berleha-leha di sore hari.

Kuta Beach

Magrib kami lewati di pantai, dilanjut kuliner malam di warung murah meriah untuk makan nasi campur dan mie goreng yang bikin nagih.

Day 5, Minggu, 2 Juli 2017, sewa dua motor untuk ke Tanjung Aan, perjalanan ke Tanjung Aan tidak terlalu ramai, sampai di pantai mulai terlihat banyak warga, sudah mulai geliat Lebaran Ketupat.  Anak anak perahu pada menjajakan jasa nya untuk menyeberangkan ke Batu Payung.  Setelah deal harga kami nyebrang dengan perahu ke lokasi Batu Payung .  Yang jadi photographer nya anak-anak perahu, mereka sangat paham spot spot yang baik dalam pengambilan foto.

Batu Payung

Banyak penjaja kelapa dekat Batu Payung, satu kelapa nya 20 ribu, oh ya untuk nyebrang ke Batu Payung sewa perahu motor nya kena 150 ribu rupiah.  Puas foto-foto di Batu Payung, kami diajak ke pantai yang sepi  di kaki Bukit Merese untuk dapat berenang.   Puas berenang kami lanjut pulang untuk ke pantai Mawun.  Tanjung Aan sudah mulai ramai, maklum sedang waktunya Lebaran Ketupat.  Terjebak macet kami saat akan keluar Tanjung Aan.  Jalan sempit yang masuk truk truk bawa orang untuk ramaikan Lebaran Ketupat di pantai.

Nggak bule nggak pribumi semua terjebak macet, polisi teriak teriak mengatur arus kendaraan yang padat merayap saat itu.  Walaupun macet, semua pada happy saja, karena suasana Lebaran Ketupat itu yang membawa keakraban.  Sampai di Kuta kami rehat sejenak di Indomaret, lelah karena terjebak macet, Kuta – Tanjung Aan lebih kurang 15 menit dengan sepeda motor, karena macet kami lewatkan hingga 1 jam.  Luar biasa bukan.

Tanjung Aan team

Rehat beres perjalan dilanjut ke pantai Mawun, Pantai Mawun dan Kuta hanya dibatasi satu punggungan bukit yang cukup tinggi, sehingga motor yang dipakai harus sip, jangan sampai saat menanjak tanjakan terjal motornya nggak mampu jalan.  Biasa karena permulaan jalan ke pantai Mawun dari Kuta terasa cukup lama, tidak seperti pulang nya.  Di pantai Mawun lumayan ramai warga tapi tidak seramai di pantai Tanjung Aan.  Pantai nya karena diteluk, jadi seperti bulan sabit, kanan kiri pantai dibatasi perbukitan yang eksotis.  Puas main ombak disini, kk sama ade jadi bulan bulanan ombak yang kadang besar kadang kecil.  Satu jam lebih kami main ombak di Pantai Mawun diselingi dengan minum air kelapa dan bobo siang di tenda pinggir pantai.

Mawun Beach

Puas main di Pantai Mawun, karena badan terasa capai karena terkena macet, diputuskan untuk trip ke Pantai Selong Balanak di batalkan, perjalanan dilanjut pulang ke Kuta.  Sampai di Kuta, karena belum makan siang, kami beli bakaran ikan laut yang selanjutnya kami santap dirumah makan padang didekat penjual ikan bakar tsb.  Enak ikan bakarnya, nggak pakai acara mahal juga lagi.  Selesai makan bergegas kami ke hotel untuk mandi karena seharian sudah bermain pasir di pantai.

Day 6, Senin, 3 Juli 2017, go home.

Iklan
Categories: Travel Note | Tag: , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.