Posts Tagged With: Pongek Or Situjuah

Bukittinggi – Payakumbuh

Panorama Ngarai Sianok

“Dari lantai atas hotel terlihat dikejauhan gumpalan awan putih tebal memanjang menutup Ngarai Sianok, posisi awan lebih rendah dari posisi memandang, bagai terperangkap dalam Ngarai.  Sebelah kiri mata memandang tampak gagah gunung Singgalang berdiri dengan kerucut yang tidak simetris lagi.  Sejuk udara pagi, indah nya mata memandang menjadi magnet tersendiri berwisata ke Bukittinggi”.

Hari pertama.

Kalau traveling sendiri atau sekeluarga inti itu sih biasa.  Tapi kalau traveling sama ibu yang sudah lanjut usia, itu baru namanya luar biasa, butuh kesabaran lebih dan perencanaan yang matang.  30 Mei ini ibu genap 71 tahun, kalau diajak jalan kaki terlalu lama sudah tidak sanggup, cepat lelah.  Sabtu lalu kami bersama ibu ke Bukittinggi, via Bandara International Minangkabau.

Di Bandara Soekarno Hatta request kursi roda untuk ibu dengan alasan lanjut usia.  Terminal 3 ultimate yang seluas itu dapat kami lalui dengan santai.   Kursi roda sampai depan pintu pesawat dan kami pun diperkenankan masuk terlebih dahulu dari penumpang yang lainnya.  Sampai di Bandara International Minangkabau, kursi roda penjemput pun sudah stand by menunggu, ibu dengan santainya berlalu ke pintu keluar.  Alhamdulillah satu rintangan terlampui.

Bandara ke Bukittinggi perlu mobil yang nyaman, agar bisa duduk nyaman sepanjang perjalanan.  Kalau go show cari rentalan di Bandara, dijamin bakal rame sama para calo, jalan keluarnya, jauh hari sebelum keberangkatan kami sudah pesan rental mobil via tiket dot com, dimana bisa pilih mobil seperti apa dan berapa lama hari akan disewa.  Tidak lepas kunci, ada driver nya, jadi salah jalan atau nyasar, kemungkinan tidak terjadi.

Air Terjun Lembah Anai

Dari Avanza hingga Alphard ada semua di tiket dot com, kami pilih Innova, karena kami berenam.  Dua nenek, dua paruh baya, dan dua lagi remaja putri.  Innova relatif baru dan terawat, sehingga nyaman selama perjalanan ke Bukittinggi.  Driver sudah terbiasa antar tamu wisata, jadi tidak asing lagi ke lokasi lokasi wisata yang ada serta kuliner yang sering dikunjungi wisatawan.

Terbukti saat keluar dari Bandara International Minangkabau, kami diarahkan makan di Lamun Ombak di km 24 Jl Padang – Bukittinggi.  Rumah makan yang sangat legendaris di Ranah Minang, cita rasa luar biasa, wisata kuliner pembuka yang sangat berkesan.  Soal harga tidak terlalu mahal tetapi dengan cita rasa kelezatan yang luar biasa.  Terbukti dari raut muka yang penuh kecerian sehabis makan di rumah makan Lamun Ombak.

Singgah di air terjun Lembah Anai, berfoto dengan latar batuan andesitik dan curahan air terjun yang tidak pernah berhenti.  Lokasinya pinggir jalan besar, sehingga membuat suasana yang agak berbeda dengan air terjun lainnya di Indonesia.  Tidak jauh dari air terjun banyak kolam pemandian dipinggir jalan, jadi kalau mengantuk saat berkendara bisa langsung nyebur biar segar kembali.  😛

Tak jauh dari lembah Anai, singgah di Minang Village di Padang Panjang, ada rumah adat khas Minangkabau serta tersedia penyewaan busana adat khas Minang.  Wisatawan dapat berfoto dengan busana adat Minang di depan rumah Gadang, lumbung padi ataupun pelaminan dilantai dasar .  Penata riasnya ada, jadi tidak perlu khawatir.  Semua pada semangat pakai busana khas Minang berikut suntiang nya.  Ibu tidak lama pakai suntiang karena berat.  Satu pengalaman yang seru kalau bisa singgah di Minang Village Padang Panjang ini.

Minang Village – Padang Panjang

Tak jauh dari Minang Village ada kuliner yang sangat dikenal seantero Indonesia Raya, yaitu Sate Mak Syukur.  Kami singgah disana untuk Magrib dilanjut makan sate yang seporsi berjumlah 9 tusuk plus ketupat.  Sate yang satu ini sudah jadi legenda tersendiri bagi kalangan wisatawan, jadi jangan sampai terlewatkan ya.

Sampai di Bukit Tinggi malam, langsung ke Grand Galery Hotel yang sudah dipesan lewat Traveloka.  Jadi kamar sudah dipastikan ada walaupun datang larut malam, maklum kalau weekend Bukit Tinggi sangat padat dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.  Hotelnya agak unik 2 lantai keatas dan 2 lantai kebawah.  Alhamdulillah sudah ada lift jadi ibu tidak terlalu berat naik turun ke kamarnya.

Semua pada rehat di hotel karena lelah lama duduk di mobil, kalau saya langsung kelayapan ke jam Gadang, liat suasana seperti apa kalau malam minggu di Jam Gadang, ternyata ramai sekali dipadati wisatawan.  Jam Gadang kalau malam terlihat cantik karena sudah diberi efek cahaya yang berganti ganti warna seperti di Monas.  Ambil foto, upload instagram, langsung deh banyak jempol yang masuk ke smartphone. 😛

Hari kedua.

Dari lantai atas hotel terlihat dikejauhan gumpalan awan putih tebal memanjang menutup Ngarai Sianok, posisi awan lebih rendah dari posisi memandang, bagai terperangkap dalam Ngarai.  Sebelah kiri mata memandang tampak gagah gunung Singgalang berdiri dengan kerucut yang tidak simetris lagi.  Sejuk udara pagi, indah nya mata memandang menjadi magnet tersendiri berwisata ke Bukit Tinggi.

Perjalanan pagi dimulai dari Panorama Ngarai Sianok dengan bayar tiket masuk Rp 15000 per orang.  Masya Allah kata pertama yg terucap kala panorama indah dari Ngarai Sianok tampak jelas didepan mata.  Tebing tebing batuan tuff berwarna coklat keabu-abuan berdiri tegak di kanan kiri lembah sawah hijau terhampar luas memanjang, sebagai saksi bisu dari efek kuat patahan Semangko.

Lobang Jepang

Mata pikiran hati terasa tenang melihat panorama alam Ngarai Sianok.  Tak lama hati bergetar mengingat keagungan Allah Sang Maha Pencipta. Sempurna sempurna.  Terimakasih ya Aĺlah, Kau telah menginjinkan kami sekeluarga untuk masih dapat melihat keagungan salah satu kehendak Mu.

Banyak kera di pagar Panorama, menunggu kemurahan para pengunjung memberi makan.  Cukup bersahabat tapi tetap harus waspada.  Kami turun ke Lobang Jepang, menuruni tangga lobang hingga turun jauh kedasar, lebih kurang 40 meter vertikal beda tinggi pintu dan dasar lobang.  Penerangan obor sudah tergantikan lampu, mempermudah pengunjung menelusuri jejak penjajahan Jepang.  Lobang tidak dibuat setengah lingkaran seperti tunnel tambang bawah tanah, tetapi berbentuk trapesium.  Tidak masalah karena lubang dibuat pada endapan ignimbrit, mau dibuat segitiga saja, sepertinya masih ok.  Gilanya dinding lubang tidak dibuat rata, berfungsi meredam suara keluar. Ruang mesiu, rapat prajurit, penyiksaan masih tampak baik tertinggal jelas.  Disatu lokasi terlihat jelas lensa batupasir kuarsa dalam dominasi batuan tuff.  Sensasi jalan dibawah kuburan bisa dirasakan dalam Lobang Jepang ini.  Salah satu ruangan pas 50m vertikal dibawah pemakaman umum Bukittinggi.  Lobang buang jenazah para romusha tetap dipertahankan, sebagai saksi bisu atas kekejaman para penjajah.

Museum Bung Hatta

Singgah di rumah masa kecil alm Bung Hatta, yang berubah menjadi museum Bung Hatta, tampak asri dan apik terawat oleh pemda setempat. Masuknya free.  Adem banget dalam rumah, bangunan dan interior jaman old tetapi tetap menginspirasi di jaman now.   Depan rumah ada tanaman asal negeri Belanda yang daunnya bisa berubah menjadi tiga warna.  Pak penjaga sudah bawakan batangnya untuk ibu agar ditanam di Bogor, tapi karena susah bawanya harus pakai air segala, akhirnya ditinggal di hotel, gagal dibawa pulang.

@ Pongek Or Situjuah

Makan siang di Pongek Or Situjuah, the best culinary at Payakumbuh.  Pongek itu sayur nangka yang cara masaknya konon berbeda dengan lainnya.  Sambel ijo nya nggak nahan, enak banget.  Dijamin kalau kesana tidak akan pernah sepi dari pengunjung.  Wisatawan datang bergelombang untuk dapat merasakan sensasi makan di restaurant ini.  Ikan dan sayur terong nya juga luar biasa enaknya.  Kalau ke Payakumbuh tidak makan disini, ibarat main ke kota Bogor tapi tidak makan soto kuning pak Salam, tentunya ada yang kurang.

Lanjut ke lembah Harau, salah satu lembah terindah di Indonesia, dijuluki Yosemite nya Indonesia oleh para pemanjat, tak jauh dari Payakumbuh ±18km.  Panorama berupa dinding dinding batuan breksi dan konglomerat yang menjulang tinggi, dengan sudut kemiringan relatif 90º.  Dasar lembah terhampar luas sawah nan hijau yang indah dipandang mata.  Rehat sejenak dekat air terjun yang debit nya tidak terlalu besar, dibawahnya ada kolam untuk para pengunjung yang ingin basah basahan. Dekat air terjun banyak warung masyarakat, menjajakan minuman dan jagung bakar.  Kalau kita sih sibuk makan kerumpuk opak yang diameternya nyaris 30 cm, dioles dengan bumbu sate padang, wow rasanya super sekali. 😛

@ Lembah Harau

Berfoto dengan background dinding batuan setinggi 100 meteran agak susah susah gampang, posisi ambil fotonya harus sambil melantai atau mengaspal, biar terlihat tinggi tebingnya.

Dari air terjun ke spot wisata lainnya yang berbau Korea kw dua, info ibu warung masih di area Sarasah Bunta.  Kesan pertama mirip suasana film korea, banyak yang berbusana tradisional Korea, jadi serasa seperti di negeri ginseng.  Ada dua bangunan dengan design gaya Eropa campur Minang, ditengah lapangan pasir putih yang luas tertanan pohon kering yang tak berdaun, hanya tertinggal batang dan rantingnya saja.  Beralaskan hamparan pasir putih, pohon kering tak berdaun serta bangunan bergaya Eropa, jadi lokasi sport foto yang cukup ciamik.

Dari lembah Harau ke Kelok 9, arsitektur jembatan layang yang luar biasa, meliuk liuk melawan kerasnya ceruk lembah sungai yang terjal.  Dari liukan jalan layang yang dibuat, lebar dan grade jalan dapat lebih bersahabat sehingga arus kendaraan sudah tidak perlu berjibaku lagi dengan bau kompling ataupun rem.  Diresmikan era pak Sby, dikerjakan beberapa kontraktor BUMN papan atas.  Lihat terjalnya tebing dan lebatnya hutan, berdecak kagum atas kegigihan pembuatan jalan layang di Kelok 9 ini.  Jalan lama masih tetap ada dan difungsikan, sedangkan jalan baru selain mempelancar arus lintas Pakanbaru – Payakumbuh juga sebagai spot foto baru yang luar biasa, yang menunjukan salah satu hasil karya besar anak bangsa.

@ Kelok 9

Payakumbuh, jangan lupa makan sate Danguang Danguang, kuliner yang tidak boleh terlewat. Pondok sate di pusat kota, di Jl Soekarno Hatta, karena parkiran penuh kami putuskan makan di rumah Rico sepupu kami.  Daging satenya agak besar, aroma kuahnya sangat kuat dan ketupatnya agak padat sehingga membiat rasa nikmat tersediri dalam menyantap sate yang satu ini.  Terimakasih Rico n family, kau telah menyuguhkan sate yang luar biasa lezatnya, kalau ke Bogor dont worry, akan kami suguhkan Roti Unyil dan Lapis Talas. 😛

Sampe di Bukittinggi malam, langsung ke rumah makan Family Benteng Indah, tapi sayang beribu sayang, ayam pop nya sudah habis.  Ingin sekali makan ayam pop di rumah makan ini, konon sebagai cikal bakal penemu menu ayam pop, yang saat ini sudah populer seantero dunia.  Karena belum jodoh, eksplore kuliner di Family Benteng Indah masih belum terwujud.

Hari 3 & 4, ikuti artikel berikutnya ya sob…

Iklan
Categories: Culinary, Travel Note | Tag: , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.