Posts Tagged With: Tanjung Kelayang

Belitong, H34

Pulau Lengkuas, View nya Wow

Salah besar kalau cari lengkuas di Pulau Lengkuas.  Nggak ada budidaya lengkuas di pulau Lengkuas.  Yang ada Mercusuar tua yang dibangun jaman penjajahan Belanda, tahun 1882.  Konon tingginya 70m, kalau nggak percaya silahkan ukur sendiri.  Penggagasnya bernama L.I Enthoven, jaman dulu disebut Mercusuar L.I Enthoven.  Susahkan bacanya.  Karena susah, sempat dirubah sama om dari Inggris jadi pulau Lighthouse.  Karena masih susah juga dilidah warga, akhir nya jadilah Pulau Lengkuas.  😛

Pagi hari ketiga, bergegas berenang di pantai Tebing Tinggi, sebelumnya mampir di Tanjung Kelayang untuk cek perahu.  Siapa tahu ada perahu yang nganggur untuk bisa antar ke Pulau Lengkuas.  Aneh seperti kemaren saja, orang-orang bilang perahu semua sudah full booked.  Tapi beberapa orang menyarankan, dicoba lagi  siang hari siapa tahu ada perahu kosong, karena sudah antar tamu yang sewa.

Safety First, Tanjung Kelayang

Ok kalau gitu kami berenang dulu saja di pantai Tebing Tinggi. Berenang di Pantai Tebing Tinggi sangat recomended buat bersama keluarga, pantainya tidak terlalu curam, ombak juga tidak terlalu membahayakan, pasir nya juga halus, jadi pas banget untuk lokasi bermain di pantai.

Keasyikan berenang  dipantai tidak terasa jam sudah meunjukan 12 siang.  Setelah makan Indomie dan minum air kelapa pinggir pantai, kami putuskan untuk cari makan siang sambil ke arah Tanjung Kelayang lagi.  Usaha lagi untuk cari kapal ke Pulau Lengkuas.

Cari rumah makan nggak nemu, akhirnya sampai lagi ke Pantai Tanjung Kelayang.  Cek kesana kesini siapa tau ada perahu nganggur.  Apa daya semua sudah full booked lagi.  Ngobrol ngobrol sama koordinator kapal disana, namanya pak Kuku, beliau bilang mending cari makan saja dulu, karena belum ada juga yang kosong kapalnya.  Tinggalkan saja no telpon nanti dihubungi kalau ada yang kosong.

Pulau Burung

Dengan langkah yang gontai, karena tidak tercapai niat untuk melaut, kami bergegas ke mobil, dengan rasa kecewa yang dalam.  Saya ke toilet untuk membuang kekesalan yang terpendam.  Beres dari toilet, hp berdering keras, terlihat dari pa Kuku.  Saya angkat ternyata ada kabar gembira, ada kapal kosong yang dapat antar kami ke Pulau Lengkuas.  Yes… Alhamdulillah.

Sewa kapal Rp.450.000, dengan lama waktu terserah.   Baju pelampung 20 ribu per orang.  Saat pakai baju pelampung, kami lihat beberapa kapal berlabuh, terlihat beberapa penumpang pucat pasi, sampai ada yang pingsan juga.  Waduh sepertinya ombak agak besar nih.

Mental kami siapkan, walaupun belum makan siang.  Berlayar dimulai, awalnya ombak bersahabat.  Foto foto dekat Pulau Burung dapat dengan mudah didokumentasikan.  Lepas dari pulau Burung, crew kapal minta sebaiknya hp, kamera dll dimasukkan kedalam tas, soalnya ombak akan besar.

I believe I can Fly

Pulau Pasir / Gosong Pasir tidak nampak, karena lagi musim pasang.  Sekitar bulan April, gosong pasir timbul terlihat.  Setelah melewati area gosong pasir, ombak mulai membesar.  Kami hanya ketawa tawa menikmati ombak segede gajah menerjang.  Teriak ketakutan dan ketawa sudah tidak bisa dibedakan, saking besarnya ombak menerjang.  Khawatir kapal patah, tapi karena juru kapal tampak tenang, kami juga jadi tenang.

Gimana nggak pisan penumpang kapal yang kami lihat tadi dipinggir pantai.  Ombaknya aja besar bingit.  Kalau yang mabuk laut bisa mabuk kepayang nih.  Alhamdulillah sampai di Langkuas, banyak elang bertembangan di atas Lengkuas.  Bikin sensasi agak berbeda.  Pulau cukup ramai wisatawan, sehingga perlu pintar-pintar dalam cari spot foto agar tidak terkesan seperti dipasar mana begitu.

Karena belum makan siang dan kenyang digoncang ombak besar, kami pesan teh manis hangat plus Pop Mie, guna mengusir angin dan menghangatkan perut, disalah satu warung Pulau Lengkuas.  Tempat ciamik banget sebagai obyek berfoto dengan latar Mercusuar atau laut lepas dtambah ornamen bongkah besar batu Granit disana sini, beralaskan hamparan pasir putih, seputih hatimu. 😛

Mercusuar Pulau Lengkuas

Minta tolong saja ke anak kapal, mereka siap bantu dalam mengambil foto.  Beres foto di Langkuas, kami ke kapal lagi, untuk lanjut snorkling nggak jauh dari pulau.  Awalnya agak ragu, karena tidak punya perlengkapan snorkling.  Bermodal kacamata renang saja, kami nyebur kelaut, ternyata sudah ditunggu ratusan ikan ikan hias didalam sana.  Cantik benar ikan ikan, ada yang biru spot light berenang kesan kesini.  Ditangkap sangat sulit, walaupun jumlahnya sangat banyak.  Luar biasa, baru kali ini merasakan sensasi ditemani ikan ikan di dalam laut.

Tebar roti, ratusan ikan mulai mendekat.  Terumbu karang tidak telalu dalam, 2 meter saja sudah bisa bertemu karang.  Mantap lokasinya.  Tampak beberapa kapal bertambat, karena menunggu sang majikan bermain dengan ikan di alamnya, laut biru.

Konsentrasi dgn Granit

Kami snorkling tidak lama, karena waktu itu belum sholat Dzuhur maupun Ashar, sehingga kami bergegas untuk kembali.  Gelombang tidak seheboh waktu berangkat, sehingga tidak terlalu banyak tantangan.  Sampai dekat pulau Kepayang, kami tidak mampir, khawatir kesorean ditambah ada aggota yang masuk angin jadi diputuskan untuk segera ke Tanjung Kelayang.  Ternyata benar juga, hujan turun dengan derasnya.  Karena dari tadi sudah basah dengat air laut, sekarang dibilas dengan dengan air hujan, jadi beres untuk urusan bilas membilas.

Dengan baju basah kami bersegera ke hotel untuk mandi dan sholat.  Beres rapih badan, kami lanjut untuk ke RM Dapoer RR untuk makan nasi goreng sea food, dilanjut berburu pempek Mama Rio untuk dipesan sebagai oleh oleh.  Berbekal google map tidak susah juga cari pempek Mama Rio, di pingggir jalan Bambang Utoyo, Parit, Tanjung Pandan.

Aku Bahagia

Hari keempat, hari terkahir, tidak banyak melakukan aktifitas, hanya santai santai saja di kamar, sambil nunggu waktu check out.  Dilanjut beli oleh oleh di toko oleh oleh samping BW Suite Hotel.  Oleh oleh beres dilanjut kulier di mie Atep dengan menu tambahan berupa nasi tim.  Kuliner perpisahan yang akan selalu teringat sepanjang masa.

Trip Belitung diakhiri dengan menunggu kedatang Sriwijaya di Bandara Internasional H.A.S Hanandjoeddin.  See u on the next trip bro.

Iklan
Categories: Travel Note | Tag: , , , , , , | Tinggalkan komentar

Belitong, H2

Granit

Batu Granit adalah batuan beku dalam atau batuan plutonik yang berwarna terang dengan butiran mineral yang terlihat cukup besar.  Butiran mineral tersebut terbentuk dari kristalisasi magma yang lambat di bawah permukaan bumi.  Granit utamanya tersusun oleh mineral kuarsa dan feldspar, dengan sejumlah kecil mika, amfibol dan mineral asesoris lainnya.  Komposisi mineral-mineral inilah yang biasanya memberikan granit berwarna merah, merah muda, abu-abu ataupun putih dengan butiran mineral gelap terlihat di permukaannya.  Batu granit dapat dipoles untuk lantai dan dekorasi karena mempunyai variasi warna yang indah.

Catatan singkat saya untuk yang mau ke pantai Tanjung Kelayang atau Pantai Tanjung Tinggi, supaya pas duduk diatas granit bisa lebih menghayati dan merenungkan batu apa yang sedang diduduki.  Kita akan tambah menyadari betapa sempurna nya Allah dalam menciptakan sesuatu.  Takbir!!!

Pantai Tanjung Kelayang

Lanjut lagi ke cerita hari kedua di Belitong, tepatnya Minggu 23 Desember 2017, dengan mobil avanza rental, kami mulai perjalanan ke Tanjung Kelayang.  BW Suite ke Tanjung Kelayang jalanan relatif sepi, tidak ada trafic jam seperti di Jakarta.  Nyaman betul nyetir di Belitung, buat terlena para supir, jauh dari stress jalanan kaya di ibukota.  Sensasi nyetir di Belitung luar biasa nikmatnya.

Cuaca kurang bersahabat, sampai di pantai Tanjung Kelayang, disambut hujan pagi yang cukup lebat.  Tapi tidak meredam semangat kuntuk menyalurkan hasrat hobi fotografi amatiran dengan gaya seprofesional mungkin.  Upload langsung ke IG juga tidak ada kendala, karena wisata Belitung sudah di back up dengan sinyal 4G yang mumpuni.  Tinggal siapkan saja kuota data internet anda bergiga giga banyaknya.

Pulau Burung Garuda

Sedih, cari kesana kesini, kapal yang mau antar ke island hopping, ternyata sudah full booked, maklum musim liburan, travel-travel kebanjiran order, otomatis kapal kapal banyak yang disewa jauh hari.  Sedangkan kami apaan atuh, hanya wisatawan lokal yang bermodalkan go show saja dan muka memelas guna mendapatkan fasilitas lebih yang ada.  Kapal tidak dapat, bukan berarti kami putus harapan.  Harapan kami bangkitkan lagi dengan bergegas ke Pantai Tanjung Tinggi, untuk bersegera foto dengan batu granit.

Jalan ke arah Pantai Tanjung Tinggi, kami sempatkan berhenti, antara laut dan jalan.  Angin kala itu cukup kencang, sensasi luar biasa.  Tripod kamera pun tidak sanggup melawan hempasan angin yang kuat.  Kaki tripod kami kubur dalam pasir pantai yang putih agar kuat berdiri.  Ngirit traveler berpose full team dengan bermacam gaya.  Tapi maaf hasil fotonya kurang bagus. 😛

Pantai Tanjung Tinggi

Saat asyik berfoto, tiba-tiba ada mobil yang tidak diundang, menerobos ke pantai dekat kami berdiri, lalu terperangkap dalam pasir pantai putih.  Mobil tersebut tidak bisa maju dan mundur lagi, mater habis di pasir pantai.  Isi nya cewe semua, yang anehnya bukannya sedih malah tertawa tawa.  Begitu tingkah sebagian wisatawati jaman now, nggak jelas tujuannya ngapain.  😛

Aktifitas berfoto terhenti, melihat mobil aneh itu mater di pantai.  Karena kami ini orangnya baik hati dan suka menolong, mau nggak mau, kami bantu bebaskan mobil itu dari gigitan pasir pantai.  Kami bantu dorong, malah cewe yang nyetir cengar cengir sendiri sambil buat snapgrap kami yang sedang dorong mobil.  Nggak dibantu, kasihan karena nggak ada orang lain disana.  Setelah banyak orang yang bantu, kami mundur dari evakuasi mobil aneh bin ajaib itu.  Saat kami mau jalan, mobil tersebut sudah dapat terbebas dari pasir pantai.  Syukur deh, lain kali dont do  stupid job like that ya mbak.

Saya, Granit & Merica

Pantai Tebing Tinggi dihapit batu granit di kanan kirinya.  Batu granit terhampar dan berdiri dengan gagahnya, menambah keeksotisan pantai Tanjung Tinggi.  Ada yang insitu maupun bongkah besar yang membundar.  Cukup unik foto diatas batu granit, dengan latar lautan lepas.  Aneh nya diatas granit tumbuh juga pohon merica.  Kuat juga nih akar pohon merica, batu saja dilawan om.

Karena hari kedua ini tidak berkustom anak pantai, jadi untuk acara berenang dipantai ditiadakan.  Kalau lagi foto diatas granit hati-hati jangan sampai jatuh, dibutuhkan keberanian untuk loncat antar batu, dan mendaki dibatu yang licin.  Yang penting pertama adalah konsentrasi, sedangkan yang kedua adalah selfie. 😛

Beres berfoto ria di Pantai Tanjung Tinggi, kami putuskan besok kembali lagi dengan kustom anak pantai, supaya dapat berenang sepuasnya.  Perjalanan dilanjut lagi ke arah Hotel Santika, penasaran di tempat yang sepi ada hotel berbintang berdiri.  Ternyata Hotel Santika Belitung sangat ciamik arsiteturnya, hotelnya menghadap kelaut, ada kolam renang dekat pantai, taman tertata rapih, pokoknya juara banget nih hotel.  Recommended untuk wisata keluarga dan yang berbulan madu.  Enak tempatnya untuk menyepi dan mencari inspirasi.  Cobain deh nginap disana, jangan lupa ajak-ajak ngirit traveler juga ya.

Pantai Tanjung Tinggi

Belitong Timpo Duluk

Dari HS kami langsung turun lagi ke Tanjung Pandan, untuk berburu wisata kuliner yang the best.  Pilihan jatuh ke Rumah Makan Belitong Timpo Duluk.  Di bantu denggan google map akhirnya sampai juga di rumah makan yang dituju.  Unik habis rumah makannya, dijamin menyesal kalau tidak sempat makan disini.  Rumah lama yang disulap jadi rumah makan, dengan ornamen panjangan interiornya bernuansa jadoel pisan.  Menu masakannya khas Belitung semua.  Mau Gangan juga ada, menu Ikan, Cumi, Udang semua ada, dengan bumbu dan  cita rasa khas Belitung asli yang tiada tara.

Bayar pake debit BCA juga bisa disini, dengan catatan harus ada saldo yang mencukupi, kalau kosong atau minim tentu berhadapan dengan pihak berwajib.  Masakannya enak banget, lagi lagi sulit dilukiskan dengan bahasa sastra tingkat tinggi sekalipun.  Artis artis banyak juga yang pernah kesini, foto dokumentasi para tamu artis terpampang semua di dinding rumah makan.  Tetapi artis tempo dulu nya nggak terlihat tuh, hehe.

Makan beres, dilanjut sholat di Mesjid Jami seberang rumah makan.  Waktu itu masih pukul 2 siang diputuskan perjalan dilanjut ke Gantung untuk melihat SD replika Laskar Pelangi dan Museum Kata nya bang Andrea Hirata.

Tanjung Pandan – Gantung lebih kurang sejam lebih perjalanan, suasana jalan sepi buat sensasi nyetir yang berbeda dengan biasanya.  Jalan mulus dan didominasi dengan jalan yang lurus, so kebayangkan sensasi nya.  Lagi lagi, nggak stress kaya nyetir di ibukota.

SD Laskar Pelangi

Sampai di Gantung kami lihat replika SD laskar pelangi dulu, yang dipakai syuting film laskar pelangi.  Bangunan hanya terdiri dari 2 kelas berdinding papan, beratapkan seng karat, plang SD Muhamadiyah Gantong tergantung depan tengah bangunan.  Bangku dan meja kayu coklat mendominasi interior kelas, menghadap ke arah papan tulis kapur tempo dulu dengan lantai beralaskan pasir putih kuarsa khas Belitung.

Yang fonomenal sang saka merah putih depan sekolah dan dalam kelas, yang menambah spirit kebangsaan untuk dapat terus berprestasi.  Walaupun terlihat 2 batang kayu besar untuk menahan bangunan sekolah yang sudah condong miring.  Spirit Gantung goes to Paris nya masih kental terasa.

Seberang jauh bangunan sekolah terlihat rumah keong, tapi kami tidak kesana, karena sudah  sore, jadi mau kejar ke Museum Kata.  SD laskar pelangi sudah kami kunjungi, ditutup dengan beli merica sekresek besar buat oleh oleh para kerabat dan handai tolan.

Museum Kata

Bergegas kami  ke Museum Kata, tapi apa kata karena sudah jam 5 sore, museum tutup, sedih bingit.  Akhirnya kami cuma dapat berfoto saja depan luar museum.  Agak unik full color, jadi  cukup eye catching.

Karena sudah mendekati magrib, kami putuskan utk segera pulang ke Tanjung Pandan, mengingat suasana perjalanan yang rada sepi, jadi ngeri ngeri sedap terasa.  Sampai di Tanjung Pandan acara hari ini kami tutup dengan kuliner di Angkringan Mas Gembul, lokasi dipinggir jalan ke arah pantai Tanjung Pendam.

Menikmati kuliner kombinasi Jawa – Belitung, yang ramai dipadati pengunjung.  Bos angkringan nya ternyata orangnya gembul banget, pas banget nama warungnya.  😛

Categories: Culinary, Profesionalism, Travel Note | Tag: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.